
Arkha tampak membantu dua orang lelaki yang memindahkan kardus dari mobil bak terbuka ke dalam rumah milik Ibu Zhafirah yang dulu pernah di belikan oleh Arkha atas permintaan Bu Indira. Kini mau tidak mau, ia harus berdamai dengan kondisi. Ia harus tinggal di perumahan yang mungkin cukup biasa. Bahkan jangankan bathub, di kamar utama tidak ada kamar mandi. Arkha yang terburu-buru masuk ke dalam kamar. Ia kembali menutup pintu kamar tersebut dan berlari ke arah dapur. Belum sempat Zhafirah bertanya, suaminya telah menghilang dari balik pintu.
Zhafirah tampak menyusun beberapa buku dari dalam kardus ke rak buku miliknya. Lalu ia membuka satu kardus lainnya. Terdapat banyak sepatu-sepatu suaminya. Tak lama pintu kamar kembali terbuka dan muncul Arkha. Lelaki itu tampak berkeringat padahal di ruangan tersebut telah ada AC. Hari itu mantan CEO Bagaskara tersebut masih harus beradaptasi dengan suasana dan lingkungan baru. Ia harus terbiasa dengan pendingin ruangan yang sudah tidak terlalu bisa mendinginkan tubuh.
Zhafirah menghentikan kegiatannya. Ia menarik selembar tisu di meja kerja tepat disisi tempat tidur mereka. Ia usap keringat yang cukup banyak membasahi dahi suaminya.
"Maaf ya mas, ndak nyaman ya?" Ucap Zhafirah.
Arkha menarik sudut bibirnya. Ia sadar jika sang istri melihat bahwa dirinya sedang berjuang untuk beradaptasi di dunia barunya.
"Capek baru bantuin nurunin kardus tadi. Terimakasih ya Zha karena kamu masih mau berbakti pada Mama." Ucap Arkha.
Ia merasa bersyukur karena Zhafirah lebih memilih kamar yang saat ini mereka tempati daripada kamar yang ia pilihkan untuk sang Ibu. Zhafirah sudah meminta beberapa tukang untuk membuatkan kamar mandi yang bisa digunakan untuk mempermudah dirinya merawat Bu Indira yang harus menggunakan kursi roda.
"Mas kalau tidak nyaman kamar mandi belakang. Bisa pakai yang di kamar Mama." Ucap Zhafirah karena kamar mandi di ruang belakang tidak ada closed duduk.
Arkha menarik tangan Zhafirah saat istrinya kembali ingin melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
"Zha... masak mie instan yok. Mas lapar tapi malas makan nasi." Pinta Arkha pada sang istri.
Arkha sengaja meminta makan mie instan. Karena jika tidak, Zhafirah pasti akan sibuk setelah ini untuk memasak. Zhafirah pun mengangguk dan cepat ke k
arah dapur seraya merangkul lengan Arkha. Tiba di dapur, Zhafirah pun membuat dua bungkus mie instan sedang Arkha mengajak Ibu Indira ke arah dapur.
"Zha, Mama mau sup tadi saja. Tidak perlu masak lagi." Ucap Bu Indira saat Zhafirah membuka lemari pendingin.
Zhafirah mendongakkan kepalanya ke arah Bu Indira. Ia tersenyum manis. Lalu ia pun menyiapkan beberapa piring dan mengeluarkan nasi dari tempatnya.
"Zha, kita cari satu asisten rumah tangga saja ya." Ucap Arkha karena ia melihat dari baru tiba dirumah itu hingga siang menjelang sore itu, Zhafirah masih belum beristirahat.
"Nanti kita bicarakan ya mas. Sekarang makan dulu." Ucap Zhafirah.
Arkha merasakan ke nik matan makan sore itu. Walau ia merasa sangat sederhana. Namun melihat Zhafirah tetap tersenyum disaat mungkin kebahagiaan secara harta tak lagi mampu ia berikan. Malam hari ketika beristirahat. Zhafirah masih menata pakaian Arkha ke dalam lemari yang ada dikamar. Arkha pun membantu Zhafirah menyusun pakaian tersebut.
"Zha. Kamu tidak lelah dari tadi?" Tanya Arkha seraya memijat pundak istrinya setelah memindahkan satu tumpuk baju ke dalam lemari.
__ADS_1
Gelengan kepala dari Zhafirah membuat Arkha menggendong tubuh Zhafirah.
"Massss?!" Teriak Zhafirah kaget.
Asisten dosen tersebut mengalungkan kedua tangannya ke leher Arkha.
"Sudah, besok lagi." Ucap Arkha.
Satu malam itu Zhafirah dan Arkha tertidur cukup lelap. Saat tepat tengah malam, Zhafirah terbangun karena mendengar suara alarm yang sengaja ia setel untuk melihat kondisi Bu Indira. Ia beringsut dari tempat tidurnya dan membenarkan posisi selimut Arkha. Ia tatap wajah suaminya. Ada gurat lelah di wajah Arkha.
Zhafirah menuju kamar Bu Indira. Dilihatnya sang ibu masih terlelap. Ia pun hanya merapatkan pintu tersebut tanpa menutupnya rapat. Zhafirah duduk di dapur seraya menghidupkan kompor. Ia ingin membuat teh hangat, perempuan itu pun membuka laci di dapur. Ia mencatat semua kebutuhannya selama satu bulan kedepan. Jika selama ini ia duduk manis, kali ini ia harus pandai mengatur keuangan keluarga mereka. Memang masih ada uang hasil penjualan rumah juga tabungan dirinya selama menjadi istri CEO Bagaskara. Namun Zhafirah kemarin meminta Arkha menggunakan uang tersebut untuk membayar Pajak Perusahaan. Sehingga saat ini, ia harus mengandalkan uang hasil penjualan rumah dan gajinya sebagai asisten rumah dosen.
"Hhh.... Jangan terlalu pusing Zha.... " Ucap Zhafirah seraya menatap dinding dapur.
Ia melihat dua ekor cicak sedang menanti makanannya hinggap di tembok atau mendekat. Dan betul saja saat ada seekor nyamuk mendekat. Satu cecak yang cepat menjulurkan lidahnya maka mendapatkan makan malamnya. Zhafirah tersenyum dan memukul dahinya dengan kepalan tangannya.
"Bodoh kamu Zha... " Ucap Zhafirah seraya bergegas ke arah kompor. ia membuat secangkir teh dan masih tersenyum. Ia merutuki dirinya yang khawatir satu bulan ke depan. Apakah cukup ia membantu suaminya dengan gaji asisten dosen. Sedangkan Arkha sudah mengatakan jika ia akan membuat CV baru agar betul-betul usahanya kali ini bersumber dari modal yang halal. Hanya melihat cecak yang mendapatkan makanan di tembok membuat Zhafirah sadar.
Bahwa setiap makhluk Allah di muka bumi ini sudah di jamin rezekinya. Hanya saja apakah makhluk tersebut mau berusaha menjemput rezeki tadi.
Zhafirah hampir menumpahkan teh nya saat dua tangan melingkar di pinggangnya. Dagu Arkha menempel pada pundak istrinya.
Zhafirah mengusap punggung tangan yang kini melingkar di perutnya.
"Mas tidur sangat pulas. Zha niatnya mau lihat Mama. Tapi sepertinya mama juga pulas sekali tidurnya." Ucap Zhafirah.
"Zha... Terapi nya berhenti saja dulu ya. Nanti kalau perusahaan mas dah ada hasilnya. Kita lanjut lagi bagaimana?" Tanya Arkha.
Kini Zhafirah meletakkan cangkir teh yang terlihat masih panas tersebut. Ia membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.
"Mas, Zhafirah sudah mengajukan untuk semester ini untuk mengambil kelas Sore dan malam. Kita tidak akan menyewa pembantu. Mas, akan bisa urus perusahaan baru mas pagi sampai sore. Sore sampai malam, Zhafirah ke kampus. Kita punya waktu sabtu dan minggu buat quality time. Itu kalau mau izinkan. Jadi biaya untuk asisten rumah tangga bisa kita tetap pakai untuk biaya terapi mas. Toh masih bisa ditabung dan kita bisa menggunakan uang untuk sewa apartemen kemarin kan?" Jelas Zhafirah panjang lebar seraya memegang dagu suaminya.
Arkha meng hela nafasnya pelan. Ia tak habis pikir istrinya bisa detail dan rinci untuk anggaran keuangan mereka beberapa bulan kedepan.
"Kamu ini sarjana ekonomi atau sarjana Hukum sih?" Goda Arkha seraya mencuri satu ci uman di pipi Zhafirah.
__ADS_1
"Mas tahu.... Saat masih single, Zhafirah tak bisa seperti ini. Tetapi jiwa seperti ini bisa muncul disaat terdesak atau the power of kepepet. Hehehe.... " Ucap Zhafirah tertawa lepas.
Arkha semakin jatuh hati pada istrinya. Ia sempat tak mengizinkan Zhafirah untuk tetap menjadi asisten dosen saat ia masih memiliki kekayaan. Tetapi karena khawatir sang istri justru semakin merasa tak bahagia. Ia pun memberikan izin. Dan Kini, pekerjaan asisten dosen sang istri justru membantu perekonomian mereka.
Sungguh kesulitan ekonomi pasti pernah di lalui setiap pasangan suami istri. Termasuk Arkha dan Zhafirah. Mereka harus pandai membagi waktu dan uang. Sehingga untuk menemani Bu Indira dirumah pun, mereka membagi waktu. Zhafirah akan dirumah hingga sore. Sedangkan Sore hari, Arkha yang menanti Bu Indira dirumah.
Sore itu, Arkha di buat histeris saat Zhafirah akan membenarkan bohlam yang konslet.
"Zhafirah! Panggil tukang saja." Ucap Arkha.
Zhafirah sudah hampir me nu sukkan sebuah obeng taspen untuk mengecek tegangan arus listrik apakah masih ada di sebuah kabel yang konslet.
"Mas.... Ngagetin aja. Ndak papa. Ini juga mau di cek. Aliran listrik utama juga sudah aku turunin." Ucap Zhafirah memegang dadanya.
"Turun Zha.... Ya Allah... " Zhafirah yang berdiri diatas tangga, Arkha yang gemetar. Sedangkan Bu Indira di kamar memanggil anak dan menantunya karena mendengar keributan.
"Zha.... Arkha.... ada apa?" Tanya Bu Indira sedikit berteriak.
"Ini Ma, menantu Mama mau benerin listrik sendiri." Ucap Arkha.
Zhafirah pun turun dan membenarkan kuncir rambutnya yang kendur.
"Ih... cuma benerin itu aja. Kan di cek dulu arusnya sayang. Kalau udah ga ada baru aman dipegang. Zha biasa kok. Dulu kalau di kamar santri putri konslet. Aku suka benerin sendiri." Ucap Zhafirah malu-malu.
Arkha mana paham untuk membenarkan kabel yang konslet untuk mengganti bohlam saja ia tak pernah.
"Udah Zha. Cari orang saja.... " Pinta Arkha yang sudah berwajah cemberut.
"Ya sudah, daripada suami Zhafirah ini tidak ridho. Padahal sayang lo mas.... Uangnya bisa buat yang lain." Ucap Zhafirah seraya menyipitkan kedua matanya ke arah Arkha.
Arkha menggelengkan kepalanya.
"Zhafirah.... Sini kamu ajarin mas saja kalau begitu." Ucap Arkha seraya mengambil obeng tersebut ke arah tangan istrinya.
Dan sore itu akhirnya menjadi pelajaran pertama Arkha Bagaskara, bahwa ia kalah banyak hal dari sang istri. Istrinya tahu banyak hal yang ia sendiri seharusnya bisa atau menguasai karena tugasnya. Tetapi Zhafirah, ia pun tak pernah sekalipun merendahkan dan meremehkan suaminya. Disaat sang suami mungkin tak memiliki ilmu di bidang pertukangan,dan masalah listrik. Semua karena bekalnya ketika di pondok pesantren sering ikut kajian-kajian untuk membina rumah tangga. Dimana satu dawuh dari Umi Hannah yang juga menjadi 'Ugeman' atau pegangan hidup Zhafirah.
__ADS_1
..."Suami berilmu atau tidak, dia adalah imammu yang harus kau taati. Selagi perkara ma'ruf."...
... Nyai Hj. Hanna Zamzami...