
Angin malam terasa dingin sekali. Zhafirah yang tak terbiasa tidur di sofa, ia menjadikan bedcover yang diberikan Arkha menjadi alas tidurnya. Zhafirah baru saja selesai melipat bedcover tersebut. Ia letakkan di atas bantal dan ia susun di sofa. Zhafirah hanya melirik ke Arkha yang masih terlelap. Ia sudah menyiapkan pakaian kerja suaminya. Lengkap dengan underwearnya. Zhafirah duduk di balkon kamar Arkha. Pemandangan di bawah cukup indah. Hobi Bu Indira dengan banyak bunga, menjadikan taman belakang sebagai taman bunga, berdampingan dengan kolam renang yang terdapat ayunan tepat di sisi pagar dan kolam tersebut.
Zhafirah duduk di lantai marmer balkon itu. Ia sedang tak mengenakan hijabnya. Ditemani semilir angin pagi yang cukup sukses membuat tubuh Zhafirah merinding kedinginan, sesekali tubuh Zhafirah bergidik. Zhafirah menikmati tegukan demi tegukan kafein dari segelas cappucino yang dibuatkan oleh asisten rumah tangga saat Zhafirah ingin membuat teh. Dirumah itu tak ada teh celup seperti dirumahnya. Maka ia lebih memilih segelas cappucino untuk menghangatkan tubuhnya. Sekitar setengah jam, Zhafirah baru beranjak dari balkon tersebut. Ia sedari tadi hanya duduk di sana sambil melantunkan sebuah ratib yang biasa ia baca setelah shalat shubuh. Karena sudah hapal karakter suami nya yang galak.
Zhafirah memilih balkon menjadi tempat ia membaca ratib yang disusun oleh salah satu ulama terkemuka di dunia, yang berasal dari Hadramaut, Yaman, yakni Habib Abdullah bin 'Alawi bin Muhammad al-Haddad. Bagi Zhafirah, cinta pada gurunya bukan selalu berkata siap saat sang guru memerintah kan sesuatu atau meminta pertolongan. Akan tetapi adalah bagaimana ia tetap mengamalkan apa yang di berikan oleh Gurunya. Dan bagaimana ia juga menjalankan apa yang di dawuhkan sang Guru.
Sungguh Zhafirah masih tak mampu melepaskan semua apa yang biasa ia amalkan selama di pondok pesantren walau pun ia tak lagi ada di pondok. Karena Zhafirah ingat betul pesan Umi Siti kala ia izin untuk pulang dan tak lagi melanjutkan pendidikan S1 nya. Dan pesan itu kini ia jalankan. Dimana ia terus beribadah walau kini ia adalah Zhafirah istri Arkha. Pemilik Bagaskara Group. Akan tetapi, Zhafirah masih tetap belajar dengan membaca buku-buku yang berisi ilmu manfaat. Dan juga Ratib yang biasa ia baca setelah shubuh dan Maghrib.
Tiba-tiba suara deringan dari jam Baker di sisi kanan tempat tidur Arkha membuat CEO Bagaskara tersebut menggeliat kan tubuhnya. Zhafirah cepat menuju ke arah kamar mandi. Ia tahu bahwa sang suami akan mandi menggunakan bathtub. Ia menyiapkan dari sabun dan mengisi air tersebut dengan sabun favorit suaminya. Setelah selesai, betul saja. Arkha sudah masuk ke dalam ruangan mandi. Arkha mencuci mukanya, dan menyikat giginya. Tak lama, Arkha melihat semua telah siap.
"Istri yang baik." Ucap Arkha.
Zhafirah yang melihat Arkha akan mengganti pakaiannya. Ia segera bergegas ke arah pintu. Betul saja, tak berapa lama. Pintu tampak ada yang mendorong. Zhafirah sudah mengira jika Rini akan masuk ke kamar. Zhafirah sebenarnya merasa nervous. Karena ia memungut pakaian Da alam Arkha yang berada di kamar mandi.Setelah sang suami mandi, Ia segera menunggu waktu yang tepat untuk keluar.
"Huuuffftt... " Hembusan nafas Zhafirah tetasa berat. Ia sedang menghitung kira-kira waktu yang tepat keluar dari ruangan itu. Setelah ia merasa sang suami sudah berganti pakaian, Zhafirah baru berani keluar. Zhafirah masih belum begitu malu saat Arkha tanpa malu atau sungkan mengganti pakaian di hadapannya. Tetapi Zhafirah, ia begitu malu jika berada di ruangan yang sama saat Arkha mengganti pakaiannya.
Zhafirah merasa Arkha telah mengganti pakaiannya. Ia bergegas mengambil handuk yang tergeletak di lantai. Lalu istri Arkha itu membuka pintu kamar. Terlihat Wajah jutek Rini. Zhafirah memberikan senyumnya.
"Hufft... belum selesai masalah sama My Heart. eh ini di dari dalam sudah haru pasang kuda-kuda." Ucap Zhafirah dalam hatinya.
"Maaf Mbak. Selama ini kamar tidak pernah di kunci. Kenapa sekarang di kunci ya." Protes Rini.
Zhafirah tertawa girang dalam hatinya.
"Ya elah... Rini, Rini. Cepat sekali kamu makan umpan ku." Ucap Zhafirah senang.
Ia memang sengaja ingin melihat reaksi dan respon dari Rini pagi ini. Zhafirah tersenyum.
"Oh. Maaf Mbak Rini. Ya Mbak Rini paham lah tanpa harus saya jelaskan kenapa pintunya sekarang di kunci. " Ucap Zhafirah dengan wajah manisnya.
Lesung pipi di bagian kiri Zhafirah pun membuat wajah putih itu terlihat bertambah manis. Namun cantik nya paras wajah perempuan lain, akan menimbulkan rasa tidak suka dan iri begitu juga yang terjadi dengan Rini.
__ADS_1
Rini bertambah kesal. Terlebih aroma tubuh Zhafirah yang sama persis seperti aroma tubuh Arkha. Bahkan rambut basah Zhafirah membuat Rini merasa kesal. Zhafirah menyerahkan keranjang yang berisi pakaian kotor dan handuk basah.
"Ini Mbak. Oya, mulai sekarang semua kebutuhan Mas Arkha. Biar aku yang siapkan." Ucap Zhafirah tegas.
Rini menghembuskan napasnya kasar. Bahkan Gigi geraham perempuan yang telah bekerja di kediaman Arkha selama 10 tahun itu harus menahan nada suara nya agar tetap sopan pada Zhafirah.
"Kurang ajar, mau jadi nyonya dia dirumah ini! " Ucap Rini dalam hatinya dengan kesal.
"Tunggu kamu, kamu cuma memanfaatkan mas Arkha. Tak mungkin mas Arkha menyukai kamu. Aku akan membuat kamu mengenal suami mu. Dia belum tahu jika suaminya punya kekasih yang hampir setiap malam bermesraan vya ponsel." Ancam Rini dalam hatinya.
Ia pun menerima keranjang berwarna abu-abu itu. Namun perempuan yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga itu terhenti langkahnya karena ucapan Zhafirah kembali membuat aliran darah perempuan itu memanas.
"Oh... satu lagi Mbak Rini. Underwear nya Mas Arkha, mulai hari ini biar aku yang cuci. Nanti bawakan peralatan mencuci nya seperti sikat dan Sabun ke kamar mandi kami. Sepertinya kurang bersih. Yang sekarang di rendam aja dulu. Kemungkinan tidak disikat ya?" Tanya Zhafirah yang memang dari tadi ketika melihat pakaian bagian daaa lam Arkha terdapat noda putih.
Rini berbalik dan menatap tajam Zhafirah. Istri Arkha itu masih tersenyum manis namun di dalam hati ia tertawa.
"Hihihi.... Beneran ada ya cerita kayak di sinetron. Jangan harap aku ditindas di rumah suami ku." Batin Zhafirah karena mendapatkan wajah masam Rini.
"Maaf mbak. Tapi mas Arkha tadi ngeluh ke aku. Dia bilang mau komplain selama ini ga enak." Ucap Zhafirah yang memang terpaksa mengatakan hal itu. Padahal Arkha hanya komplain warna yang di pilih Zhafirah. Padahal Zhafirah memilih warna biru muda, itu yang ia lihat jauh lebuh bersih.
"Baik, Mbak Zhafirah." Ucap nya.
Ia pun segera berlalu dari hadapan Zhafirah. Santri Umi Siti yang terkenal periang itu menyipitkan kedua matanya. Ia mengibaskan tangan kanannya.
"Wes... ewes... ewes... Minggat... O. Jangan pikir saya ini ndeso. asal boleh ndeso, tapi otak Core i7. Beres satu. Tinggal si my Heart ini yang masih abu-abu." Ucap Zhafirah.
"Apa yang abu-abu?" Tanya Arkha yang akan keluar.
"Ehm... anu... anu mas... Coro... " Ucap Zhafirah kaget.
Arkha menggelengkan tubuhnya.
__ADS_1
"Panggilkan Rini. Aku harus berangkat pagi." Titah Arkha masih dengan mode dinginnya.
"Buat pasang dasi, aku bisa mas." Ucap Zhafirah pelan.
Arkha menoleh ke arah Zhafirah.
"Aku ingin Rini!" Bentak Arkha.
Zhafirah memejamkan matanya.
"Mas kenapa ga nikah sama Rini kemarin?" Ucap Zhafirah polos.
Akrha mendelik mendengar ucapan Zhafirah.
"Kamu!"
"Satu tahun.... aja Mas... satu tahun saja saya melayani mas. Nanti kalau mas ndak masih ndak nyaman sama saya. Saya lakukan perjanjian ke 8." Ucap Zhafirah memelas dengan dua tangannya ia tangkupkan didepan wajahnya nya.
"Satu tahun... baik. Satu tahun.... " Ucap Arkha.
"Satu tahun... saya akan ucapkan minta cerai sama mas Arkhaaaaaaa... " lanjut Zhafirah dalam hatinya. Ia tak ingin berjanji dimana point 8 adalah zhafirah meminta cerai. Beruntung di perjanjian itu tak ada penambahan di pengadilan. Maka Zhafirah yang cerdas, ia memilih melanjutkan dalam hati tentang janjinya.
Zhafirah memberikan ia waktu untuk juga berjuang agar suaminya nyaman dulu dengan dirinya.
"Setidaknya, Mas Arkha nyaman dulu sama aku. Untuk Cinta, biar Allah yang menghadirkan." Ucap Zhafirah seraya menatap Arkha seraya mengedipkan kedua matanya.
"Baik. Layani aku satu tahun." Ucap Arkha.
"Yes... Alhamdulillah... Ya Allah.. Terimakasih... Semangat Zha... Perjuangan baru dimulai, Nadhiraa Zhafirah!" Ucap Zhafirah dalam hatinya, ia menyemangati dirinya sendiri.
Zhafirah selalu menebar senyuman kepada setiap orang disekitarnya. Termasuk Arkha, karena seberapa galak suaminya. Sudah kewajiban Zhafirah sebagai istri memberikan senyum dan ketenangan untuk suaminya.
__ADS_1
Sedangkan Arkha merasa gemas melihat wajah imut Zhafirah.
"Ih... jadi kangen Selena... " Ucap Arkha dalam hatinya yang tersenyum melihat wajah cute Zhafirah.