
Tiga hari dilalui Zhafirah bersama Arkha di Jogyakarta. Hari terakhir mereka pun hanya di lalui mereka berkeliling ke beberapa tempat. Dari mulai Borobudur, Merapi Park, Keraton, Parangtritis, Prambanan. Sampai hari ini mereka ke sebuah Goa Pindul.
Pagi hari sekali mereka sudah siap untuk menikmati perjalanan ke tempat wisata terakhir. Karena esok pagi, mereka sudah akan kembali ke Ibukota. Tiba di Goa Pindul, Tampak Arkha dan Zhafirah menggunakan pelampung dan memilih ban. Sepasang suami istri itu diberikan arahan oleh tour guide. Saat memasuki goa yang masih sangat sepi karena Arkha dan Zhafirah tiba di tempat wisata itu tepat pukul 7. Berdasarkan dari penjelasan tour guide bahwa di goa Pindul ada 3 zona. Yaitu zona terang, zona redup, dan zona gelap.
Pengantin baru itu duduk diatas ban yang berjalan pelan menyusuri goa yang basah dan juga dingin. Zhafirah begitu merasakan kedamaian. Dari kemarin, baru tempat wisata ini yang membuat ia begitu merasakan ketenangan. Dengan duduk diatas ban tersebut, gua yang penerangan nya sangat sedikit.
Zhafirah tak sengaja merekam Arkha. Kilatan blitz dari kamera Zhafirah membuat Arkha mendelik. Kalau saja tak ada orang lain. Mungkin ia sudah membentak istrinya itu.
"Maaf...." Cicit Zhafirah karena khawatir suaminya kembali naik pitam hanya karena terkena cahaya Blitz.
"Kamu tidak pernah jalan-jalan apa?!" Tanya Arkha penasaran.
Zhafirah menoleh, ia tak menyangka sang suami mengajaknya berbicara. Tiga hari dalam satu kamar. Mereka seperti orang asing. Arkha tak mengajaknya berbicara. Ia justru sibuk berbicara dengan perempuan yang bernama My heart di ponselnya. Mereka mengobrol melalui ruang mengobrol atau aplikasi yang dimana terdapat banyak kursi-kursi untuk mengobrol, dan bernyanyi.
"Tidak. Aku sedari SMP di pondok. Kalau jalan-jalan itu paling ikut Umi Siti dulu. Ketika putri beliau masih kecil." Ucap Zhafirah polos.
"Jadi kamu belum pernah ke Mall juga?" Tanya Arkha.
Zhafirah mengangguk.
"Ckckck... Pantas udik." Ucap Arkha dalam hatinya. Ia melihat kemarin bagaiamana Zhafirah bingung ketika akan menaiki eskalator.
Flashback On.
"Ayo Zhafirah... ! Jangan buat aku malu.! Semua orang sedang melihat kita!" Bisik Arkha pada Zhafirah yang berada di bawah.
Arkha sebenarnya sudah berada di lantai 2. Tetapi ketika ia mencari Zhafirah, istrinya itu masih ada di lantai bawah. Arkha dengan kesal kembali ke lantai satu menggunakan tangga eskalator yang turun. Saat ia sudah berada disisi Zhafirah. Istri CEO Bagaskara itu justru masih termenung menatap tangga yang berjalan itu.
"Aku tidak berani. Aku takut." Ucap Zhafirah pelan. Wajahnya terlihat ketakutan saat akan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Setiap ia ingin melangkah, kembali kakinya ia tarik. Sehingga Arkha mendengus kesal.
"Lihat aku. Dan ikuti aku. Satu.... dua.... Tiga...." Ucap Arkha seraya melangkahkan kakinya di hitungan ke 3.
Namun Zhafirah masih berada di tempatnya. Istri Arkha itu tak bergeming. CEO Bagaskara itu kembali turun dengan tangga eskalator yang saat ini sedang mengarah ke atas.
Merasa kesal karena menjadi bahan tontonan beberapa orang. Arkha menggendong Zhafirah ala bridal style. Alih-alih orang-orang berhenti memandangi Arkha. Semua mata tertuju pada Arkha dan Zhafirah. Semua ponsel merekam aksi Akrha itu. Zhafirah yang kaget. Ia menatap Arkha dengan dua tangannya bergelayut di leher Arkha. Arkha pun melihat banyak orang yang merekam. Ia merapatkan gigi gerahamnya dan seraya berbisik di telinga Zhafirah.
"Jangan permalukan aku dengan tingkah kampungan kamu! Bersandarlah di dada ku. Banyak kamera sedang merekam kita." Ucap Arkha seraya mengembangkan senyumnya.
Banyak mata menganggumi Arkha karena kebucinan CEO itu. Padahal lelaki itu sedang menahan rasa benci dan ilfilnya pada Zhafirah. Sedangkan Zhafirah, ia menikmati momen itu. Tiga hari menjadi istri dari Arkha. Baru hari ini ia diperlakukan manis. Baru kali ini ia bisa menyentuh tubuh suaminya. Dan ia bisa bermanja-manja pada sang suami. Zhafirah tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia membenamkan kepalanya di dada sang suami.
"Hhhmmm.... Aku tak akan menuntut untuk cepat mencintai ku Mas. Aku tak tahu siapa My Heart di ponsel mu. Jika kamu bahagia bersama dunia mu. Aku tak mengapa. Asal kamu menganggap ku ada disisi mu Mas.... " Zhafirah bermonolog dalam hatinya.
Bagaimana ia akan ke mall. Sedangkan ia akan keluar dari pondok pesantren hanya karena mengikuti Bu Nyai. Dimana sang guru hanya pergi dari pengajian satu ke pengajian satunya. Zhafirah hanya menjaga putri Umi Siti yang bernama Binti. Maka awal mula tumbuh rasa kagum pada Mawan ketika ia sering ikut menemani Umi Siti dengan menjaga Binti yang masih bayi. Ia masih minum ASI. Sedangkan Mawan, saat itu ia sering diminta untuk mengantar Umi Siti disaat tak ada sopir yang standby di pondok pesantren.
"Kamu seperti bukan Zhafirah yang dulu. Kamu dulu begitu pemalu. Bahkan sekarang, dihadapan orang banyak kamu tidak malu bermesraan dengan suami mu." Batin Mawan. Bahkan satu celetukan dari kru membuat Mawan terhenyak.
"Sepertinya Pak Arkha menaklukkan istrinya sampai pagi. Jadi sang istri lelah sekedar berdiri di eskalator." Celetuk kru tersebut.
"Astaghfirullah.... sadar Mawan. Zhafirah sudah menjadi istri orang." Kembali Mawan bermonolog dengan dirinya.
Flashback Off.
"Sini." Titah Arkha pada Zhafirah.
Zhafirah pun dengan patuh mendekati Arkha. Dengan kondisi Ban yang masih menyusuri sungai yang cukup gelap itu.
Arkha memeluk Zhafirah dari arah belakang. Ia mengarahkan kamera ke arah dirinya dan Zhafirah.
__ADS_1
"Senyum." Ucap Arkha.
Zhafirah pun menunjukkan gigi rata nan putihnya. Satu tindakan tiba-tiba dari Arkha membuat jantung Zhafirah terasa ingin lepas. Arkha meng3cup pipi sang istri dan mengambil gambar tersebut. Arkha yang memeluk Zhafirah merasa aneh.
"Kamu sakit?" Tanya Arkha.
Karena ia sering memeluk Selena, tetapi jantung pacarnya tak pernah berdetak seperti itu. Zhafirah hanya menggelengkan kepalanya. Arkha tak bisa melihat wajah merah merona Zhafirah. Karena di dalam goa itu sinar sangat sedikit. Hanya mengandalkan cahaya senter.
"Apakah kamu tidak punya pacar? Kamu tidak pernah pacaran?" Tanya Arkha dengan entengnya. Pandangannya masih tertuju pada ponselnya. Ia mengirim gambar barusan ke ibunya.
[Kami besok pagi pulang ma.]
Pesan Arkha pada Ibunya. Ia tahu bahwa Bu Indira akan bahagia melihat foto tersebut. Namun kembali jagat maya dibuat heboh. Foto yang Arkha kirim ke Bu Indira. Di screenshot oleh beberapa kerabat dan dikirim ke pemburu berita.
"Tidak. Saya tidak punya pacar dan tidak pernah pacaran." Jawab Zhafirah.
"Pantas..." ucap Arkha tersenyum.
Zhafirah masih diam. Entah karena dingin atau karena Arkha merasa nyama. Satu tangan Arkha masih memeluk Zhafirah. Sedangkan Zhafirah masih duduk di hadapan Arkha.
"Ya Allah.... Kenapa jadi merinding begini.. Kenapa kek gini rasanya... lebih mau copot dari dekat sama Kang Mawan." Batin Zhafirah yang merasa tegang karena di peluk dalam keadaan duduk sila olah Arkha.
Namun suaminya justru sedang menanti sesuatu di ponselnya. Betul saja, senyum Arkha merekah kala ia membaca satu tweet dan berita di media online tentu saja foto barusan yang ia kirim ke ibunya menjadi bahan hangat bagi para pemburu berita.
"Berhasil. Kita lihat, masih mau ngambek sampai kapan kamu Selena." Ucap Arkha dalam hatinya.
Semalam Selena tak menjawab ponselnya. Karena Arkha mengatakan jika ia tidur sambil memeluk Zhafirah.
Sungguh kehadiran Zhafirah mengganggu pikiran Selena. Ia khawatir jika Arkha tak lagi memberikan waktunya. Ia akan kehilangan teman di kala malam-malam sepinya. Zhafirah terlalu polos, ia tak tahu jika ia masih dimanfaatkan Arkha untuk kepentingannya.
__ADS_1