Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Nama Besar Hanya Keturunan Asli Pantas Menyandangnya


__ADS_3

“Sudah deh, Pa. Jangan mencampuri sesuatu yang bukan hakmu!" sela Leonard, sambil mendengkus kesal.


“Kenapa tidak boleh? Bahkan aku pun sangat mengetahui yang, tidak bisa kau ketahui." Ucapan dari Raymond, membuat Leonard memberi peringatan.


Agar pria baya di hadapannya ini, tidak menyinggung tentang perasaan Leonard sendiri.


“Biarlah perasaan ini menjadi urusanku. Jangan mengaduk suatu hal yang di luar nalar. Ini tidak ada hubungannya dengan duniamu!" tegas Leonard dingin.


“Baiklah aku tidak akan mencampurinya, tapi sebagai ganti … aku selalu mendukung apa yang kau inginkan."


“Itu saja sudah lebih cukup bagiku! Apa 'dia' tidak menghubungimu?" Dia yang dimaksud adalah Araxi, salah satu adik kembarnya.


Raymond menggeleng, “aku hanya menitipkan pesan pada Albert. Kenapa?"


“Aku hanya heran dengan 'dia' yang begitu mau membantu Ivone. Sampai-sampai, orang yang tengah mencari gadis itu pun, tidak bisa menemukan keberadaannya karena Araxi sendiri yang menutup akses."


Kernyit dahi pria baya itu, membuatnya tengah berpikir keras, dengan pernyataan dari Leonard. “Lalu apa ada masalah?"


Leonard menggeleng, tapi pria muda itu masih belum bisa menjawab rasa penasarannya. Apa yang mendasari Araxi melakukan hal tersebut, membuatnya semakin penasaran.


“Kenapa kau tidak menanyakan hal ini sendiri pada dirinya?" sahut Raymond, sembari menyeringai misterius.


“Aku tidak bisa membicarakan ini dengan leluasa, tapi jauh di lubuk hatiku ingin sekali berdekatan dengannya," ucap Leonard sendu.


“Apa kau ingin berbicara dengannya? Kalau mau aku bisa membantumu … dia tidak akan menolak saat aku menyuruhnya." Tawaran dari Raymond, membuat Leonard menolak halus.


Saat ini sang adik tengah melakukan misi berbahaya, bahkan pria muda itu tidak dapat tidur nyenyak, sebab dia selalu memikirkan keselamatan adiknya itu.


“Akan ku' sampaikan keluhanmu pada pria yang menjaganya. Apa itu masih belum cukup membuatmu tenang?" sahut Raymond kembali, sebab pria baya itu begitu tanggap, akan kegundahan di dalam diri Leonard.


Tak berselang lama kemudian, pria baya itu memutuskan menghilang setelah urusannya selesai, tidak lupa Raymond memberi peringatan pada Leonard, untuk tetap memperjuangkan perasaannya.


*


*


*


Sementara itu, di luar ruang kerja Leonard. Gadis yang dibawa Ivone, tetap menjalankan pekerjaannya sebagai sekretaris, bahkan dengan takdir sekarang Citra menerima semua itu, dengan hati yang begitu lapang.


Bukan itu saja, Citra merasa bahagia dengan kehadiran mereka. Bahkan dia tidak sabar bertemu dengan mereka, sebagai bagian dari seluruh napas gadis tersebut.


Maafkan Mamamu ini sayang. Bukan bermaksud memisahkan kalian dengannya, hanya saja Mama merasa tidak pantas bersanding, status sosial yang membuat Mama memilih lari dan menghilang setelah, dia melakukan semua ini pada diri Mama!

__ADS_1


Ajakan mengobrol dengan janin di kandungannya, mendapat respons tendangan halus, sambil mengusap perutnya yang terlihat membuncit karena dia tengah hamil kembar.


Sekadar informasi usia kandungan Citra saat ini masuk sekitar enam belas minggu, sama seperti usia kehamilan Liora yang memasuki usia dua puluh empat minggu.


Kembali dengan Citra yang tengah melamun, tanpa disadari oleh gadis itu, tiba-tiba ada seseorang yang menegurnya.


“Maafkan saya, Nona. Tidak mengetahui Anda menegur saya," ucap Citra, sambil berpura-pura menarikan jemari di atas keyboard.


“Lantas kau siapanya Leon?" sahut wanita itu dengan nada sinis, hal tersebut membuat Citra mendongak dan tertegun, saat melihat tatapan yang tidak mengenakan itu.


“Saya sekretaris beliau, Nona," jawab Citra, sambil membalik pertanyaan. “apa Anda sendiri sudah membuat janji dengan Pak Leon?"


“Apa kau tidak mengetahui siapa aku, hah?" bentaknya dengan nada oktaf dan membuat ibu hamil tersebut mengelus dada.


“Sekali lagi mohon maaf, Nona. Saya tidak bisa membuat Anda bertemu, dengan beliau sebelum membuat janji." Tanpa takut, dengan lantang ibu hamil itu, memberi peringatan jika sang atasan.


Tidak mengizinkan siapa pun bertemu, sebelum membuat perjanjian tersebut.


Akan tetapi, siapa yang menyangka dia mendapat cacian dari, seseorang yang mengaku-ngaku sebagai calon istri atasannya.


“Kau sendiri hanya sekretaris di sini! Lantas mengapa calon istrinya tidak bisa bertemu?"


Ia menjeda sebentar, begitu melihat kondisi perut dari sekretaris, sambil menyeringai sinis, “bahkan kau sendiri dalam keadaan hamil. Kenapa malah melarangku bertemu dengannya? atau kau sendiri yang menjual tubuhmu!"


Perdebatan itu terhenti pada saat asisten Leonard, secara tidak sengaja melihat kejadian yang menimpa sahabat Ivone.


“Apa yang kau katakan pada dia, hah!" Andra yang kebetulan akan menemui, Leonard itulah yang menyaksikan perdebatan itu.


“Kau asisten sialan! Kenapa aku tidak diizinkan menemui Leon?" sahutnya tanpa takut.


“Seharusnya kau memahami ucapan Leon, Dev … bukankah dia tidak pernah merasa menyukaimu. Lantas kenapa kau begitu gigih, menganggapnya sebagai calon tunangannya? Kau sendiri yang tidak waras!"


“Sialan, kau!" umpat Devi, dengan kedua tangan mengepal geram.


“Aku akan maju jika kau, masih terus-terusan mengganggu Leon … harusnya berkacalah sebelum jatuh ke dalam, lubang dibuat dirimu itu!"


Tidak tahan mendengar ancaman dari pria yang dibenci oleh Devi, dia memutuskan beranjak dari ruangan tersebut, sambil memberi ancaman balik yang ditujukan pada, ibu hamil yang sedari tadi menyimak dengan diam.


Andra yang tidak tega dengan kondisi ibu hamil tersebut, memilih menghubungi Ivone dan meminta sang sahabat datang ke kantor, untuk menghibur Citra yang masih syok dengan pernyataan, dari seorang wanita dan sial lagi dialah orang paling dibencinya.


*


*

__ADS_1


*


Morgan alias bujang lapuk, pria matang itu tengah menunggu asisten pribadi, menyampaikan laporan tentang identitas dari gadis yang dia renggut paksa kehormatan, bahkan tanpa sepengetahuan istri siri yang tak dianggap pria itu lebih dulu, menyelidiki semua tentang teman sekampus dari sang keponakan.


“Sampai kapan kau membuatku menunggu laporan darimu, hah?"


“Mohon maaf, Tuan Muda!" balasnya sambil menelan ludah kasar.


“Katakan mengenai laporanmu itu sekarang!" titah Morgan dingin.


Asisten pribadi bujang lapuk itu melaporkan pada tuan muda, sehingga penjelasan yang terdengar langsung oleh Morgan, membuat pria matang itu mengepalkan menahan amarah di ubun-ubun.


Selain menyelidiki identitas Citra, Morgan tidak lupa menyelidiki maksud tujuan Liora menjebak di dalam pernikahan, lalu begitu mengetahui tujuan wanita tersebut amarah di dalam dirinya mulai membara dan dia, benar-benar tidak menginginkan pernikahan yang dijalani oleh bujang lapuk tersebut.


“Jangan sampai dia mengetahui, bahwa aku tidak menginginkan pernikahan ini. Paham!"


“Lalu bagaimana dengan gadis itu, Tuan Muda?"


“Perintahkan anak buahmu mencari keberadaan dia. Temukan di mana pun berada! Aku sangat yakin gadis itu, berada di suatu tempat."


Tidak lupa dia menyuruh sang asisten mencari keberadaan, seorang pria yang diklaim sebagai ayah kandung dari janin Liora.


Sebab, dia tidak ingin anak di kandung Liora menyandang nama besar marga dari, sang ayah dan hanya keturunannya yang asli pantas menyandang marga tersebut.


.


.


.


.


.


Belenggu Pernikahan Semu


Author: teh ijo


Pernikahan tanpa cinta, tak selamanya berakhir dengan bahagia.


Zahra terpaksa harus menikah dengan Alzam, pria asing pilihan ibunya. Pernikahan tanpa cinta membuat Zahra harus menerima perihnya kenyataan. Terlebih saat dia mengetahui jika Alzam telah memiliki seorang tunangan.


Selama pernikahan Alzam tak pernah sedikitpun menganggap Zahra sebagai seorang istri meskipun mereka berada dalam satu ranjang yang sama. Bahkan Zahra harus berlapang dada ketika Alzam memutuskan untuk menikahi Aira. Mampukah Zahra mempertahankan rumah tangganya?

__ADS_1



__ADS_2