Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Obsesi Yang Begitu Bernafsu


__ADS_3

Selesai menyuruh sopir kembali ke mansion, Ivone teringat dan menceritakan seseorang, bahkan jarak negara yang mereka tempat beserta, negara sebelah hanya membutuh waktu sekitar lima jam.


Hal tersebut membuat ibu hamil mengernyit, sembari menatap bingung melihat senyuman itu.


“Apa ada sesuatu serius, Von? Senyumanmu terlihat mengerikan," kata ibu hamil dengan, raut wajah bergidik ngeri.


“Aku ingin membagi cerita tentang negara sebelah yang dipimpin oleh seorang ratu," sahut Ivone, bahkan dia terlihat begitu sangat antusias membaginya.


“Negara tetangga?" beo Citra yang membuat sang sahabat mengangguk.


“Negara itu dipimpin oleh ratu dan kabar yang kudengar dari media … dia begitu sangat muda."


“Lalu kau mengenalnya?"


“Aku hanya menyukai cara kepimpinannya saja, Cit!" Ivone melanjutkan itu di dalam batin. Maafkan aku Cit. Ratu yang kumaksud, orang yang berhubungan dengan pria itu.


Dia sendiri tidak menyangka jika keberadaan sang sahabat dicari oleh ratu tersebut, bahka n tanpa disangka takdir akan terus mempertemukan mereka.


Ivone tidak akan sanggup kehilangan, sahabat yang telah menjadi saudarinya itu.


“Kukira kau mengenalnya, sehingga itu membuatmu menyukai dia bukan?"


“Ya." Tidak ingin sang sahabat curiga. Ivone mengalihkan topik sambil bertanya, tentang keadaan mereka yang terlihat membuncit. “kurang berapa minggu lagi kita bertemu mereka?"


Enggan menjawab, tapi ibu hamil membalik pertanyaan, “sepertinya kau sudah tidak sabar ingin bertemu!"


“Tentu saja, mereka adalah hidupku juga," sahut Ivone dengan tegas.


“Ngomong-ngomong, Von … apa tidak masalah aku mengambil cuti sekarang?" Citra teringat dengan pekerjaan yang telah dia tinggalkan, semua itu atas saran dari sang atasan.


Meminta ibu hamil tersebut, untuk mengambil cuti dan sekarang telah diambil, mengingat dia tidak tahan dengan bahan gosip beberapa karyawan di kantor, tentang statusnya yang hamil di luar nikah karena perbuatan, seorang pria yang merenggut paksa harta berharga miliknya.


“Dia tidak akan mempermasalahkan hal ini dan juga ada pesan untukmu … maaf atas tingkah tingkah laku wanita yang mengaku calon istrinya … bahkan kuketahui si kulkas sangat susah didekati wanita, mungkin hanya orang tidak waras yang berhalusinasi."


Menjelaskan perihal kejadian beberapa hari yang lalu, sampai-sampai membuatnya trauma bertemu orang baru.


“Terima kasih, Von."


Mereka pun kembali bercerita tentang masa sekolah, tanpa disadari dari negara lain tempat bujang berada, Liora telah mengetahui seseorang yang menjadi saingannya tersebut.


*

__ADS_1


*


*


“Sudah kau temukan keberadannya?" Liora, ibu hamil itu tengah menunggu laporan, dari anak buah yang dia tugaskan untuk mencari keberadaan seseorang.


Sial lagi orang itu merupakan penghalang terbesarnya dalam hal, menaklukkan si bujang lapuk dan dia sendiri, tidak bisa berbuat banyak ketika suaminya itu benar-benar, tidak menganggap pernikahan itu seperti mimpinya.


“Mohon maaf, Nyonya. Kami tidak bisa menemukan keberadaan orang yang Anda maksud," sahut salah satu anak buah Liora.


Hal tersebut membuatnya menggeram marah, ketika mendengar laporan dari anak buah yang bertugas.


“Aku tidak mau tahu … cari terus keberadaan sampai ke ujung dunia … jika berhasil menemukannya segera bunuh! Aku tidak ingin ada yang menjadi penghalang jalanku. Paham!" titah Liora dengan sorot mata kebencian.


“Baik, Nyonya."


Setelah urusannya selesai, ibu hamil dengan perut membuncit besar sangat tidak menerima, dengan kehadiran seseorang dan membuatnya bertekad melenyapkan sekaligus.


Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku yang akan melenyapkan siapa pun itu, tidak peduli seribu penolakan karena aku yakin cepat atau lambat, kau sendiri yang akan mengemis dan bertekuk lutut dibawah genggamanku.


*


*


*


“Apa yang membuatmu memintaku bertemu?"


Sebelum menjawab pertanyaan, Morgan menyesap teh yang dipesan, tidak lupa alasannya meminta bertemu karena suatu hal. “Liora adalah alasanku bertemu denganmu."


“Apa kau mengenalnya?" Pria asing begitu penasaran, dengan ucapan yang terlontar oleh bujang lapuk.


“Hanya wanita yang tidak tahu malu … mengaku hamil janinku, padahal bayi itu sudah pasti bukan milikku." Tegas Morgan yang membuat, pria asing terkejut mendengarnya.


“Lalu apa hubungannya denganku, hah?" bentaknya dengan mengcengkeram kerah Morgan.


“Tentu saja aku menyelidiki hubungan kalian … dia juga memintamu tidak muncul. Agar rencana menjebakku menikahnya berhasil. Namun, harus selalu kau ingat ini baik-baik. Aku bukanlah seorang pria yang termakan jebakan ini. Paham!"


“Apa yang kau inginkan dariku?"


“Nanti aku akan menghubungimu kembali, pastikan kau tidak mengatakan apa pun pertemuan ini pada dia." Setelah memberi ancaman, bujang lapuk beranjak dari tempat duduk sesaat dia, mendengar nada dering yang masuk ke dalam benda pipih.

__ADS_1


Sesampainya di tempat parkir, pria matang itu mengangkat panggilan, terdengar laporan dari mata-mata bahwa, wanita tersebut telah mengetahui keberadaan gadis-nya.


“Bagaimana dia bisa mengetahui hal ini, hah?" sentak Morgan dingin.


“Mohon maaf atas kelalaian kami , Tuan Muda."


“Apa ada pengkhianat di antara kalian?"


“Kami tidak berani melawan perintah, Anda. Mengingat Anda sendiri, menyuruh kami untuk memantau wanita itu!"


Inilah yang ditakutkan oleh Morgan, bukan itu saja keselamatan gadis itu menjadi incaran dari, seorang wanita yang begitu terobsesi pada dirinya.


"Pantau terus dan segera laporkan hasil apa pun dari penyelidikannya. Paham!"


Panggilan itu pun terputus, dengan dia mematikannya sambil mengusap kasar wajah sejuta pesona, bagaimana tidak bujang lapuk tersebut dilema besar tentang kesalamatan dari gadisnya.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Di saat seperti ini aku benar-benar membutuhkanmu. Kamu benar aku selalu meremehkan kemampuan yang ada di dalam darahmu.


Menyalakan kendaraan kuda besi yang akan membawa pria matang ke mansion, sambil terus memikirkan sebuah cara untuk menemukan keberadaannya, sebelum terendus lebih dalam oleh wanita yang berbahaya.


*


*


*


Beberapa bulan berlalu, setelah menyelesaikan misi berbahaya. Akhirnya gadis dingin itu bertemu kakak sulung, untuk membicarakan masalah hati yang menimpa sang kakak.


Araxi tidak ingin ada pertumpahan darah. Meskipun gadis itu telah melihat sesuatu yang akan terjadi, tapi gadis dingin itu lebih memilih bungkam karena tidak ada yang boleh, mengetahui suatu hal antara sang kakak dan wanita yang dicintainya.


"Ada apa, Ra?" Leonard yang tengah menyusun berkas, sedikit heran dengan kebungkaman adik dinginnya itu.


"Apa tidak ingin menanyakan sesuatu padaku? Justru aku menemuimu, hanya sekadar mengingatkan. Jadilah, pria yang tegas dan berani mengungkapkan rasa itu."


Leonard yang pertama kali mendengar sang adik berbicara terkejut bukan main, sebab kata yang diucapkan tidak sebanding dengan sifat dinginnya.


"Apa ini kamu, Ra?" Leonard memastikan, membuat adik dinginnya mendengkus kesal.


Jika bukan keselamatan sang kakak, dia tidak akan berbicara panjang lebar. Mengingat ada satu wanita yang membuatnya waspada.


Seseorang yang terobsesi ingin membunuh ibu hamil, dia tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Sebisa mungkin gadis dingin itu melindungi dan menjaga nyawa sang kakak tercinta.

__ADS_1


__ADS_2