Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Belenggu Hasrat Bujang Lapuk


__ADS_3

“Kalian berdua ini kenapa dan ada apa?" Citra yang melihat tingkah laku duo R merasa gemas, sudah tujuh tahun berlalu mereka hidup bahagia.


Meskipun masih ada seseorang, yang begitu menginginkan nyawa ketiganya. Namun, tidak menutup kemungkinan nyawa mereka terancam kembali.


“Tidak ada Mommy … Rere 'kan hanya sedang menguap saja, tapi tunggu apakah hari ini sudah siang?" Pertanyaan polos yang diucapkan oleh anak perempuan itu, membuat sang mommy tergelak lucu mendengarnya.


“Bukankah kalian libur, Sayang?"


“Kami hanya libur mata pelajaran saja, tapi tidak untuk ekstrakulikuler tetap berjalan seperti biasa," jawab Rere dengan raut wajah lesu.


“Apa kalian ada kompetisi?" Citra memastikan, tentang kompetisi yang selalu di adakan oleh sekolah si kembar.


“Sekitar beberapa bulan lagi, Mom … kami berdua harus berlatih secara giat lagi, agar bisa menghasilkan dance taekwondo," sahut Rere sembari menjelaskan perihal kompetisi tersebut, sedangkan Irene alias Renodio nama asli dari kembaran Rere, hanya diam menyimak obrolan sang mommy dengan kembarannya itu.


“Lalu untuk Iren tidak ikut?" tanya Citra sambil mengelus, pucuk kepala putranya.

__ADS_1


“Seperti biasa, aku selalu ikut apa pun yang dilakukan Rere. Jangan cemaskan tentangku, sebab aku tidak selemah itu."


Tidak kuat menahan tangis, Citra membawa tubuh si kembar ke dalam pelukan, tidak lupa meminta maaf pada mereka karena telah menempatkan, Renodio diposisi yang sulit dan terjebak sebagai seorang anak perempuan.


“Maafin Mommy ya, Sayang … terutama untuk Reno. Mommy bersalah membuatmu seperti ini," ucap Citra yang tidak, berhenti memeluk tubuh putranya.


Rere yang mengerti kondisi Reno, memeluk kembaran tak lain sang kakak, sekaligus bertukar peran menjadi adik, sehingga tidak ada seorang pun yang mengetahui kebenaran itu.


“Mommy tidak perlu meminta maaf. Kami sangat mengerti alasanmu, melakukan ini pada Kakak," sahut Rere yang begitu enggan, melepas pelukan dari kembarannya.


“Lihatlah, Mom. Dia selalu berbicara dingin seperti itu," adu Rere dengan bibir mengerucut kesal.


Citra memberi senyum khas, sebagai tanda dia begitu bahagia melihat tawa dari kedua anak kembar, yang tidak pernah sedikit pun menanyakan keberadaan ayah mereka.


Tidak ingin membuang waktu terlalu lama, wanita itu pun menyuruh si kembar untuk segera mandi, sebab dia tidak ingin sarapan milik mereka menjadi dingin.

__ADS_1


*


*


*


Di ujung belahan dunia lain, dengan seorang pria yang usianya telah menginjak 52 tahun, tidak mengurangi ketampanan di dalam dirinya yang semakin matang, sudah tujuh tahun berlalu telah mengubah kepribadiannya menjadi lebih dingin.


Sampai sekarang pun Morgan Gayatri Smith, masih belum bisa terbebas dari wanita licik seperti Liora, dia tidak menyangka wanita itu terus mengancam akan membunuh seseorang.


Akhirnya mau tidak mau, dia harus lebih mengalah untuk menghadapi wanita licik tersebut, bahkan sampai sekarang Morgan masih belum menemukan keberadaan dari gadis-nya, sehingga membuat pria matang itu merasa frutrasi dibuatnya.


Ke mana lagi aku harus mencarimu? Semua jejakmu benar-benar menghilang. Tidakkah kau merasa telah membelenggu hatiku, bahkan mengingat wajahmu saja membuat milikku terbangun, hasratku hanya tersimpan rapat untukmu seorang. gumam Morgan dalam batin, sembari mengusap kasar wajah tampan itu.


Di bangunan kantor yang menjulang tinggi, saat ini dia disibukkan dengan berkas-berkas menumpuk, tidak berselang lama kemudian terdengar suara pintu diketuk, sehingga mau tidak mau Morgan menyuruhnya masuk ke dalam.

__ADS_1


Bersamaan itu terdengar suara seorang anak perempuan yang berteriak memanggil dirinya papa, hal tersebut membuat Morgan mengumpat geram dengan tindakan dilakukan oleh Liora, secara tidak langsung wanita licik itu telah berhasil mencuci otak anaknya sendiri.


__ADS_2