Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Di Alam Bawah Sadar


__ADS_3

"Apa hanya itu yang ingin Anda lakukan, Tuan Muda?" Selesai mendengar permintaan dari Morgan. Asisten itu memastikan bahwa ia tidak akan melakukan, kesalahan dalam mengemban tugas dari tuannya.


Mencari bukti sambil membawakan hasil penyelidikkan, tentang identitas seorang anak yang membuat tuannya tertarik.


"Pastikan kau temukan pelakunya!"


Sambungan itu pun terputus dengan Morgan mematikan secara sepihak, sehingga membuatnya meneteskan air mata secara tiba-tiba. Sesaat dia telah melihat sendiri kejadian begitu nyata, tubuh bersimbah darah yang terbaring lemah di atas brankar.


*


*


*


Sementara itu, di sisi lain penjaga bayangan yang ditugaskan oleh sang Ratu terkejut bukan main. Ketika mengetahui bahwa mereka telah lalai, dalam tugas yang diemban pundak masing-masing.


"Gawat! Bagaimana dengan hukuman dari nona? Kita benar-benar kecolongan kali ini!" tukas dari salah seorang mata-mata sang Ratu.


"Itu sudah menjadi risiko dari kita semua. Kalau perlu kita cari pelaku yang menyebabkan sepupu nona tertabrak!" sahut rekannya sembari mengajak beberapa rekan lain, untuk tidak gegabah dalam melaporkan kejadian tersebut.


Membuat mereka memutuskan melakukan penyelidikkan, sebelum sang nona mengetahui berita buruk menimpa sepupunya.


"Kalaupun nona mengetahui hal ini. Kita tidak perlu takut, dengan hukuman yang sedang dinantikan. Apa yang kita lakukan sudah sewajarnya nona memberi hukuman."


Salah satu dari mereka menegaskan pada rekan-rekannya. Bahwa tugas kali ini melibatkan hukuman yang diberikan oleh nona muda, tidak lain sang Ratu akan sangat murka jika kejadian buruk menimpa sepupunya. Namun, semua itu terjadi begitu cepat yang membuat, mereka mempersiapkan diri menerima segala risiko.


*


*


*

__ADS_1


Kembali di rumah sakit, dengan Citra yang tidak berhenti berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD, sambil menggigit bawah bibir yang sedang menahan tangisan karena wanita itu tidak ingin, terlihat lemah di depan anak perempuannya yang tidak berhenti menangisi sang kembaran.


Rere sendiri pun tidak menyangka kakak kembarannya sedang berjuang, melawan maut di dalam ruang perawatan dengan dia yang begitu setia menunggu.


Twins! Mengapa kamu melakukan semua ini untuk kami? Aku bahkan tidak mengerti dengan jalan pikiranmu! Selama ini aku juga tidak pernah mengerti tentangmu. Mengapa harus kamu Kak? Sambil menatap pintu ruangan IGD, yang juga tidak berhenti menangis sesenggukan.


Anak perempuan itu, tidak akan memaafkan perbuatan seseorang yang telah, membuat sang kembaran terbaring


lemah dengan tubuh bersimbah darah.


"Mom," panggil Rere lirih. Hal tersebut membuat Citra menghentikan langkah kaki yang sedari tadi, tidak berhenti berjalan mondar-mandir di depan ruangan sang putra dirawat.


"Ada apa, hm?"


"A ... pa kakak baik-baik saja?" Rere membalik pertanyaan sambil memeluk, tubuh mungil sang mommy yang juga sedang mengelus punggungnya.


"Mommy sendiri pun tidak berhenti berdoa untuk dia. Jadi, berhentilah memikirkan hal yang tidak kita inginkan. Bisa?"


*


*


*


Di dalam ruangan IGD beberapa dokter serta para perawat tengah berjuang, menyelamatkan pasien yang tiba-tiba saja tubuh kecil itu mengalami kejang-kejang.


Hal tersebut dikarenakan sang pasien sedang berada, di alam bawah sadar yang tengah mengobrol dengan seseorang.


Irene atau nama asli Renodio tengah mengobrol dengan dua orang wanita yang, tidak lain ibu dari sepupunya serta ibu dari seorang pria yang dibenci oleh anak lelaki tersebut.


"Jangan takut! Aku ingin menyampaikan beberapa hal untukmu!" Seorang wanita cantik yang tidak lain Rahmadiana. Pertama kali menyapa anak itu karena memang, ada sesuatu yang ingin disampaikan secara langsung.

__ADS_1


"Apa yang Tante sampaikan kepadaku?"


"Bukankah dia benar-benar seperti putramu, Ibu?"


.


.


.


.


.


Kinara.


Gadis cantik nan lembut ini menikah pada saat usia masih sangat muda. Ia menerima lamaran seorang pemuda dari sahabat serta rekan Abangnya.


Kehidupan mereka sangat bahagia dua tahun pertama. Namun di tahun ketiga, masalah baru datang.


Sang suami yang sedang bertugas bersama abangnya tewas di saat ia bertugas. Padahal saat itu Kinara sedang berbadan dua.


Mampukah Kinara menerima kenyataan jika sang suami telah tiada sementara hati kecilnya mengatakan jika sang suami masih hidup?


Ataukah ia lebih menanti kepulangan sang suami?


Ataukah pasrah pada takdir tentang kenyataan hidupnya yang harus menjanda pada usia masih sangat muda?


Inilah kisahnya!


__ADS_1


__ADS_2