Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Sesuai kesepatan antara Morgan dengan pria dari ayah kandung bayi dilahirkan Liora. Saat ini pria asing itu memasuki lorong rumah sakit, tempat di mana ia akan melihat putrinya yang telah lahir ke dunia.


Tidak lupa janjinya untuk melakukan permintaan dari Morgan, bukan takut sebuah ancaman melainkan ia tidak terima putrinya ini, memanggil orang asing ayahnya dan hanya ia pantas dipanggil sebagaimana mesti.


“Mari silakan masuk dokter sudah menunggu Anda, Tuan," sahut asisten tuan muda-nya serta, tidak lupa ia mempersilakan pria asing itu masuk.


Ia pun berdehem memberi isyarat pada dokter yang menangani tes DNA, “silakan lakukan sesuai dengan permintaan tuan muda!"


“Saya hanya membutuhkan darah sedikit di tubuh Anda, Tuan. Lalu untuk bayi Anda sendiri, saya bisa mengambil dari darah di tali pusar ibunya."


Tidak memakan waktu yang lama, baik asisten Morgan dan pria asing itu telah menyelesaikan pertemuan mereka, tidak lupa sang asisten pamit undur diri sambil menyampaikan pesan tuan muda.


Jika pria matang sejuta pesona itu, tidak bisa menemui bayi yang dilahirkan oleh istri siri Morgan, bahkan kedatangan asisten Morgan membuat Liora menggeram marah atas penolakan, wanita itu benar-benar tidak menerima penghinaan yang dilakukan oleh suaminya.


“Kenapa dia tidak mau menemui putrinya yang baru lahir? Hei, asisten sialan … ada di mana tuanmu?"


Menulikan umpatan dari wanita yang baru saja melahirkan itu, asisten Morgan mengatakan langsung tujuannya menemui wanita itu, “mohon maaf, Nyonya … Anda tidak diperkenakan mencampuri urusan prinadi tuan muda … mengenai beliau tidak mau menemani Anda … karena ada pekerjaan mendesak yang tidak bisa ditunda."


“Apa kau lupa aku siapa tuanmu, hah!" sentak Liora dengan nada tinggi.


“Nyonya meskipun Anda hanya istri siri tuan muda … bukan berarti Anda merongrongnya memenuhi permintaanmu … sudah untung kau dinikahi beliau karena bayimu. Jadi, kau jangan besar kepala jika tuanku mau, menengok bayi yang kau lahirkan itu. Selain itu Anda tidak diperkenakan memakai marga tanpa seizin beliau … Jangan berpikir untuk melakukan apa yang beliau benci jika tidak ingin di usir dari mansion!" sahut asisten Morgan sambil memberi peringatan.


Hal tersebut membuat wanita itu menggeram marah, dengan tindakan dilakukan oleh pria yang brstatus sebagai suami.


Kurang ajar! Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak mungkin bisa memakai marga Smith untuk putriku. Benar-benar asisten sialan! Kau pikir aku akan mundur hah? Jangan panggil aku Liora jika tidak bisa mendapat apa yang kuinginkan. Hanya putriku yang pantas menyandang marga itu.


“Kenapa dia tidak mengatakan itu sendiri kepadaku? Harusnya jika menolak kehadiran putriku, tidak perlu memberiku ancaman seperti ini. Kau pikir aku akan takut? Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyandang marga Smith … Ingat dan camkan itu baik-baik!"


Asisten Morgan terkekeh sinis mendengar, ancaman balik yang diucapkan oleh wanita itu, “nyonya sekuat apa pun Anda menekan tuan muda … beliau juga tidak sudi menerima putrimu karena itu bukan miliknya. Jangan mengira Anda bisa membodohinya, tidak semudah itu membuatnya bertekuk lutut … seperti keinginanmu bukan begitu, Nyonya?"


Lidah Liora kelu tetap saja wanita tidak akan pernah menyerah, membuat Morgan jatuh ke dalam pelukannya dan diam-diam secepatnya harus segera menemukan, seorang penghalang untuk dilenyapkan agar hanya dirinya bersama putrinya yang pantas bersanding sang suami.


Dirasa urusan sang asisten dengan Liora selesai, pria itu meninggalkan wanita dengan segudang rencana liciknya. Namun, semua itu tidak akan pernah terjadi karena sampai kapan pun wanita itu, tidak akan akan mendapatkan apa pun dari pria yang dinikahinya.


*


*


*


Dua hari kemudian.


Di sebuah kamar inap dengan sang pasien tengah, berusaha membuka mata menyesuaikan keadaan sekitar, sehingga membuat Suster Ima terkejut melihatnya terbangun dari koma.

__ADS_1


“Nona bisa mendengar saya?" tanya Suster Ima.


“Ini di mana?" Enggan menjawab, tapi pasien itu balik bertanya.


“Anda berada di rumah sakit, Nona," jawab Suster Ima, tidak lupa kedua tangan suster itu mengecek kondisi Citra.


“Bagaimana dengan mereka?" gumam Citra yang teringat, dengan kedua bayi kembarnya.


“Kedua bayi Anda ada di ruangan lain, Nona," sahut Suster Ima yang, tidak sengaja mendengar gumaman itu.


“Aku ingin melihat mereka, Sus. Bisakah membawanya kepadaku?" pinta Citra yang tidak berhenti, bersyukur atas kelahiran keduanya.


“Tunggu sebentar Nona, saya masih harus memeriksa kondisi Anda."


Citra mengangguk lemah, bahkan dia tidak sabar bertemu dengan kedua bayi kembarnya, sebagai penyandang seorang ibu gadis itu tidak akan menjadi lemah di depan mereka, dengan segenap cinta dirinya rela mempertaruhkan nyawa untuk melindungi mereka, dari segala mara bahaya yang bisa datang kapan saja.


Tidak berselang lama kemudian terdengar pintu terbuka, dengan Ivone yang terkejut melihat sang sahabat bangun dari koma.


“Ini beneran kau, Cit?" tanya Ivone, tanpa memedulikan keberadaan Suster Ima.


“Lalu kau berharap aku tidak bangun lagi begitu, Von," ketus Citra dengan bibir mencebik kesal.


“Bercanda, Cit," sahut Ivone sambil, menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Kau sudah melihat mereka?"


“Aku menunggumu, Cit!" ujar Ivone sembari menyembunyikan, pertemuannya dengan seseorang.


Setengah jam berlalu akhirnya Suster Ima kembali ke ruang rawat si pasien sambil, mendorong sebuah troli yang berisi dua bayi kembar dan membuat seorang ibu menangis bahagia.


“Mereka lucu sekali, Cit," sahut Ivone yang, tidak kalah antusias.


Sebagai seorang ibu, Citra justru ingin mengetahui keadaan bayi kembar, tidak lupa dia menanyakan jenis kelamin yang menjadi kejutan, setelah kedua bayi tersebut lahir ke dunia.


“Selama aku terbaring koma … apakah kedua anak kembarku baik-baik saja, Sus?"


Suster Ima tersenyum, “Anak-anak Anda dalam keadaan sehat dan untuk lebih jelas, lebih baik dokter saja yang menjelaskannya."


Tidak sampai lima menit, dokter yang menangani Citra telah sampai di kamar rawat inap, kedatangannya pun mendapat todongan pertanyaan dari sang ibu bayi kembar tersebut.


“Tidak mungkin, Dok!" sahut Citra yang begitu terpukul mendengar pernyataan dari dokter, tentang kondisi salah satu bayi kembarnya mengalami kelainan.


“Saya sudah memastikan hal itu, Nona … mohon maaf atas berita yang Anda dengar."


“Lalu apa tidak ada cara lain untuk dia?" Sambil menangis, Citra memastikan kembali kondisi bayi kembar, yang salah satunya di diagnosa kelainan hipospadia.

__ADS_1


“Sebenarnya operasi bisa menyelamatkannya dari hipospadia, sebelum bayi Anda beranjak dewasa," sahut Dokter itu, sambil mengecek masing-masing dari dua bayi kembar tersebut.


Ivone yang sedari tadi menyimak pun, membuka suara karena dia juga tidak tega, dengan kondisi salah satu bayi kembar sang sahabat.


“Umur berapa operasi itu dilakukan, Dok?"


“Normalnya untuk operasi kelainan hipospadia dilakukan, pada saat bayi tersebut berusia sekitar delapan belas bulan."


Sementara itu, Citra tengah melamun dan memikirkan kondisi salah satu dari bayi kembarnya, sebagai seorang ibu dia benar-benar tidak tega mendengar pernyataan dari dokter tersebut, bukan itu saja dirinya tidak ingin merepotkan sahabatnya kembali.


.


.


.


.


.


Istri Siri Tuan Bryant


Author: Asma Khan


Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.


Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.


Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.


"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"


Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.


"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"


Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.


Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?


Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


__ADS_1


__ADS_2