Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Judulkan Sendiri!


__ADS_3

“Tuan Muda, apa itu ti …."


“Heh, tidak usah pedulikan wanita licik seperti dia … kau pikir aku mau menamai janinnya dengan margaku? Tidak semudah itu untuk menyandang Marga Smith, hanya karena aku menikah wanit itu … bukan berarti menginjak harga diriku. Paham!" tegas Morgan dingin.


Tidak lupa pria matang itu, memberi peringatan pada sang asisten, untuk tetap mencari seorang pria untuk membantunya, menggagalkan rencana licik dari wanita yang dia benci.


“Kalau begitu saya pamit undur diri, Tuan Muda."


“Jangan sampai penyelidikanmu bocor pada wanita itu. Jika tidak ingin peluru ini menjadi taruhannya. Pergilah!"


Setelah berhasil mengusir asisten pribadi, pria matang itu kembali memikirkan sebuah rencana, untuk membuat wanita licik itu menyesal atas perbuatannya.


Diam-diam pria matang itu, mulai memahami rasa mual yang berlebihan akibat hukuman, dari janin dan keberadaannya menghilang bagai ditelan bumi. Namun, dia sangat yakin gadis tersebut sembunyi di suatu tempat, entah mengapa dia merasa terlihat hampa saat keponakan, tidak lagi menghubungi seperti biasa mereka lakukan.


Aku rindu denganmu Baby? Tidak puaskah kamu menghukum seperti ini? Aku benar-benar sangat menyesal, telah mengecewakanmu kembali. Ada alasan mengapa aku menerima pernikahan tosic ini. Saat ini aku sama sekali tidak pernah berhenti mencari temanmu, bahkan aku tidak mengetahui bagaimana nasib anak-anakku di sana. Harus seperti apa? Supaya kamu tidak mendiamiku terus?


Morgan merasa frustrasi karena dia benar-benar bingung, tidak dapat menemukan jejak apa pun dari gadis tersebut.


*


*


*


Sementara itu, di tempat lain atau lebih tepat di sebuah istana kerajaan, dengan seorang penguasa tengah menunggu laporan, dari Satria yang tidak lain kanan di dunia hacker.


Meskipun ia kecewa dengan orang yang telah mencintainya tanpa syarat, tetap saja tidak mungkin membiarkan sang paman tercinta menderita, di dalam permainan seorang wanita licik yang ingin menguasai seluruh harta kakeknya.


“Sudah menemukan orang itu, Bang Sat?"


“Astaga, Tuan Putri. Bisakah tidak memanggilku seperti itu? Aku sungguh geli mendengarnya," sahut Satria, sambil bersungut-sungut.


“Tidak perlu memasang raut wajah jelekmu. Langsung katakan padaku!" titah Ratu dingin.

__ADS_1


Tanpa membuang banyak waktu, pria muda itu melaporkan semua hal yang berhubungan dengan bujang lapuk, tidak lupa memberitahukan bahwa sang paman telah mengetahui, keberadaan janin yang dibawa lari oleh gadis direnggut paksa.


Bukan itu saja saat ia mendengarkan laporan dari Satria tentang Liora, amarah di dalam dirinya kembali mendidih tentang wanita licik, serta yang lebih mengejutkan semua pelayan di mansion bujang lapuk, termakan hasut karena merasa tuannya hamil anak dari istri siri Morgan.


Padahal sejatinya bujang lapuk terhukum oleh anak kandung, yang dibawa pergi oleh teman kampus yaitu Citra.


“Apa itu berarti bujang lapuk itu belum menemukan keberadaan Citra, Bang?"


Satria menggeleng, “menurut perkiraanku seprtinya temanmu itu, tidak mau meminta apa pun dari tuan muda," tebaknya tanpa ragu.


“Mungkin dia merasa malu karena perbedaan status antara aku dan dia. Padahal aku sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal itu."


“Kenapa tidak menyelidiki sendiri? Aku rasa kemampuanmu tidak pernah turun, bahkan ku' akui selalu kalah olehmu. Sampai-sampai kau menduduki tahta singgasana ini, Ra."


“Aku bukan tidak mau mencari tahu sendiri, Bang … rasa kecewa dari bujang lapuk yang mengambil keputusan, menikahi tante buluk masih terbekas di sini." Sambil memukul dada, sang ratu benar-benar terlalu kecewa.


Lebih kejam lagi ia mati-matian menahan amarah karena sang suami tidak pernah menemuinya, sejak Sonya datang dan mengaku-ngaku hamil anak dari mantan duda casanova tersebut.


“Jangan merasa sendiri, Ra. Aku sangat memahami perasaanmu yang dikecewakan, oleh dua pria yang menyayangimu, itu berarti mereka tidak percaya dengan kemampuanmu." Namun, penghiburan dari Satria, tetap tidak bisa membuat wanita itu tenang.


“Baiklah, Bang. Mintalah anak buahmu untuk memantau dan mengawasi keadaan mansion!"


“Lalu bagaimana dengan suamimu sendiri?" tanya Satria sambil mengangguk, setelah sang ratu memberinya perintah.


“Tidak usah menanyakan tentangnya! Cepat temukan keberadaan Citra, sebelum ada orang lain mengetahui. Dialah gadis yang dimaksud."


Setelah itu Satria berpamitan pada sang ratu, bahkan kedatangan pemuda tersebut tidak ada yang mengetahui, sebab keponakan dari bujang lapuk itu menyiapkan, tempat sendiri untuk pertemuan mereka.


*


*


*

__ADS_1


Kejadian yang menimpa Citra, membuat dia berpikir untuk tidak terlalu mendekati siapa pun, berusaha mengambil hatinya karena perkataan dari wanita tempo hari, menjadikan ibu hamil membentengi diri untuk menghindari hati yang terluka.


Biarlah orang lain mengatai dia sendiri, asal tidak berkata buruk tentang mereka, sebab dirinya akan melindungi segenap napas berdetak, bahkan nyawa pun akan dipertaruhkan ketika menyangkut mereka.


Kedatangan Ivone di rumah sederhananya membuat ibu hamil itu terkejut, bagaimana tidak sang sahabat tak pernah absen mengunjunginya, serta tidak pernah lupa membawakan makanan pada saat dia mengidam pertama kali.


“Kenapa selalu memaksa ke sini, Von? Cuaca di luar sedang turun salju." Ucapan dari ibu hamil, tidak membuat Ivone tersinggung.


Dia datang hanya untuk memastikan, kandungan sang sahabat baik-baik saja, “ibu hamil tidak boleh mengoceh … sudah pasti kedatanganku kemari karena mereka!"


“Justru kau malah terlihat seperti ibu dari mereka, Von," sahut Citra sambil mengejek.


“Dipanggil bunda pun tidak masalah, Citra Sayangku. Kau tetap menjadi mommy untuk anak-anakmu."


Kedua sahabat itu berpeluk erat, sebab Ivone mengabdikan diri layaknya sebuah keluarga, untuk Citra yang telah dianggapnya semenjak masa sekolah.


“Kali ini membawakan mereka apa? Bahkan aku sama sekali, tidak pernah merasakan ibu hamil kebanyakan."


“Benarkah?" beo Ivone yang terkejut, mendengar pernyataan dari sang sahabat.


“Apa mereka yang menghukum ayahnya? Setahuku seorang pria juga merasakan itu, Cit."


Melihat raut wajah sang sahabat bungkam, membuat Ivone meminta maaf karena telah menyinggung, sebab Citra begitu sangat sensitif tentang ayah dari janinnya.


“Ma …af, Cit … ak …."


“Tidak perlu meminta maaf karena menyinggungnya, santailah aku tidak bisa memarahimu." Meskipun terasa berat, tapi bagi Citra tetap, tidak bisa memarahi sang sahabat.


Biar bagaimanapun Ivone yang telah mengorbankan diri untuk selalu menjaga, dan melindunginya dari orang-orang yang menghina ibu hamil tersebut.


"Tidak enak denganmu, Cit," sahut Ivone dengan perasaan bersalah.


"Jangan dipikirkan, nanti aku memakannya ... apa hari ini menginap seperti biasa?" Ibu hamil tak kalah menyahut, sambil mengangkat makanan yang dibawa Ivone.

__ADS_1


"Boleh ... aku akan meminta sopirku pulang lebih dulu. Bisa menunggu sebentar?"


__ADS_2