
Menutup pintu dan tidak lupa membunyikan tombol peredam suara, agar Morgan leluasa membicarakan hal penting dengan wanita licik tersebut.
“Bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu, Liora! Jangan pernah mengajari putrimu memanggilku papa, sebab aku bukanlah milikmu mau pun dia," cetus Morgan dingin.
“Dia pun selama ini hanya menganggapmu sebagaimana mestinya … bukankah begitu Morgan, Sayang," ujar Liora tanpa takut, dengan sorot mata dingin.
“Kau benar-benar melewati batasmu, Liora! Aku Morgan Gayatri Smith … sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menjadi milikmu! Paham!" Sambil menahan geram, pria matang tersebut menegaskan, bahwa dia bukanlah milik siapa pun.
Termasuk wanita yang tidak tahu malu seperti Liora, sampai sekarang wanita tersebut masih mengikat Morgan, sebagai perlindungan atas putri kandungnya sendiri.
“A … a … ku." Lidah wanita itu mendadak kelu, sebab dia sendiri tidak atas penolakan untuk sang putri.
“Meskipun kau mengatakan pada mereka sekali pun, tidak akan bisa mengubah semua keputusanku karena ada …." Morgan sengaja menjeda, sebelum membuat perhitungan dengan wanita licik tersebut.
“Lupakan … kau akan mengetahui sebentar lagi, sebab aku tekankan sekali lagi pada dirimu … selama ini aku benar-benar tidak pernah menikahimu, bahkan pernikahan itu tidaklah SAH karena kau pun juga tidak pernah menikah denganku," lanjut Morgan dengan menyeringai dingin.
Hal tersebut membuat Liora terkejut bukan main, dia sendiri menggeram marah karena pria dingin itu, telah mempermainkan perasaan dan juga melukai hati putrinya.
__ADS_1
“Apa kau mau melukai hatinya? Aku tidak terima dengan penghinaan ini, Morgan!" ucap Liora yang terlihat seperti dilukai.
“Aku tidak peduli! Kau pun tidak akan pandai berakting di hadapanku, sebab aku muak dengan wanita bermuka dua sepertimu … mau membunuh nyawa gadis yang kucari, silakan lakukan sesuai dengan ambisimu. Namun, satu hal yang perlu kau ingat dan camkan baik-baik. Dia yang berusaha kau bunuh, tidak akan pernah bisa digapai olehmu karena ada mereka yang akan melindungi."
Detak jantung wanita baya itu menegang, bagaimana mungkin pria yang menjadi obsesinya, mengetahui semua rencana tentang pembunuhan itu?
“Apa maksudmu, Morgan?" elak Liora yang, tengah menutup kebohongannya.
Tawa dingin Morgan membuat Liora gelagapan dibuatnya, wanita itu tidak menyangka jika pria di hadapannya ini, tidak sebodoh yang dia kira selama menjadi suami.
“Aku anggap kau tidak bodoh mendengar semua ucapanku, Liora."
“Kau tidak bisa mengusir putriku seperti ini, Morgan."
“Aku tidak peduli apa yang kau ucapkan, sekali pun tidak akan mengubah apa pun, semua tentangku kau harus bisa membuat putrimu lepas dariku," hardik Morgan dingin, tidak lupa dia memanggil satpam untuk mengusir wanita licik tersebut.
Tidak berselang lama kedua satpam itu, sampai di dalam ruangan dengan dia memberi perintah, tapi ternyata Liora tidak akan tinggal diam saja atas penghinaan itu.
__ADS_1
Morgan pun memutuskan akan menunggu rencana yang akan dilakukan oleh wanita licik itu bahkan dia sendiri, membiarkan Liora memulai semua rencana yang selalu digagalkan oleh sang keponakan tercinta.
Setelah tidak melihat wanita licik tersebut, dia mengambil benda pipih yang tergeletak di atas, untuk menghubungi seseorang dari arah seberang ponsel.
Bersamaan itu, nada dering tersambung yang berganti, suara sapaan dari orang tersebut.
“Ada apa menghubungiku, Bro? Apa kau merindukanku?"
“Sialan! Aku hanya memberimu perintah, jemputlah putrimu di mansionku sekarang!" umpat Morgan dengan menitah.
“Kenapa kau mengusirnya?"
“Aku sudah muak dengan tingkah laku ibunya … bahkan putrimu terus-terusan memanggilku papa … dia pikir aku siapanya, hah?" Bersama dengan pria di arah seberang ponsel, Morgan sangat berani mengeluarkan amarah, serta menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh Liora.
“Baiklah aku akan mengambil alih putriku, lalu untuk urusan dia aku tidak akan mencampurinya, sebab itu bukan ranahku … kau tidak keberatan?" Pertanyaan dari arah seberang ponsel, membuat pria matang tidak bisa berbuat banyak.
Pria asing tersebut hanya mau mengambil alih putrinya sebab urusannya, dengan wanita yang telah melahirkan sang putri telah selesai.
__ADS_1
“Bawalah dia sejauh-jauhnya. Jangan lagi menampakkan wajah putrimu di hadapanku, atau kau akan berhadapan langsung denganku!" peringat Morgan dingin, dengan sarat nada ancaman.
Morgan pun mematikan panggilan secara sepihak, tanpa harus menunggu jawaban dari pria tersebut.