Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Kekesalan Ivone


__ADS_3

Tak berselang lama setelah urusannya bertemu kedua anak angkat selesai, Ivone memutuskan akan meminta bantuan sang papa untuk membantunya menjaga Citra, sebab dia akan pergi ke suatu tempat dan membicarakan pertemuan penting.


Mengambil benda pipih berlogo apel setengah tergigit yang mana dia, tidak lupa menekan nomor ponsel sang papa sambil menunggu panggilan diangkat, tidak sampai lima menit terdengar suara bariton yang terbatuk-batuk dan membuat Ivone terkejut.


“Papa, sakit?" tanya Ivone tanpa menyapa.


“Tidak, Dear," jawab Kevin dengan suara lirih. “Ada apa kamu menghubungiku, Dear? Sudah beberapa bulan ini, kamu juga tidak merindukanku!"


“Jangan merajuk seperti dong, Pa … kamu tidak pantas merajuk, seperti bayi tua saja … putrimu ini sudah tentu sangat-sangat merindukan bayi tuaku … bolehkah aku memakai jet pribadi Papa, untuk pergi ke negera sebelah?" sahut Ivone yang langsung pada tujuannya.


“Untuk apa pergi ke sana, Dear?" tanya Kevin yang begitu terkejut mendengarnya.


“Ada suatu hal yang mau ku urus, Pa. Apa kamu keberatan?"


“Tidak … hanya saja kenapa kamu ingin pergi ke negera sebelah?"


“Sudah deh tidak perlu mengetahui apa yang sedang kulakukan."


“Baiklah Papa mengalah dan kamu harus berhati-hati di sana … biar anak buahku yang menemanimu! Kamu tidak masalah 'kan, Dear?"


Enggan menjawab, tapi sebaliknya Ivone meminta bantuan sang papa, untuk menjaga sang sahabat selama dua pergi.


“Dear …." Kevin di arah seberang, tengah memijit pelipis yang tiba-tiba berdenyut.


Permintaan dari Ivone benar-benar terdengar konyol, bahkan pria baya itu sama sekali tidak terlalu dekat dengan sahabat putrinya, sebab dia orang yang dikenal sebagai pribadi dingin di sekitarnya.

__ADS_1


“Papa tidak mau begitu, hm?" protes Ivone dengan bibirnya dikerucutkan.


“Bukan begitu, Dear … kamu sendiri paham bukan? Papamu ini seperti apa di luar sana?"


“Aku tidak meminta Papa menjaga secara langsung … cukup kirimkan seseorang untuk menjaganya di luar kamar rawatnya," pinta Ivone yang tidak ingin ditawar.


“Jadi, sahabatmu sudah melahirkan?" ucap Kevin yang tidak menyimak permintaan sang putri.


“Pa!" panggilnya dengan setengah teriak, yang membuat Kevin di arah seberang ponsel, memberi jarak sedikit karena suara cempreng sang putri, membuat telinga pria baya itu terasa kebas mendengar.


“Iya, Dear. Papa sudah mendengar semua permintaanmu! Kenapa jadi kamu yang merajuk," goda Kevin sembari tergelak lucu. “Bagaimana dengan keadaan kedua bayinya, Dear?"


“Kalau mau melihat datanglah ke rumah sakit dan lihatlah sendiri keadaan mereka, tapi maaf belum bisa memberimu seorang cucu. Apa kamu marah denganku, Pa?" jawab Ivone sambil meminta pada cinta pertamanya, sebab sampai sekarang dia masih betah sendiri, dan enggan menjalin hubungan dengan lawan jenis.


“Tidak perlu meminta maaf, Dear. Keinginan menikah itu juga hakmu, Papa tidak pernah mempermasalahkan apa pun tentang. Kamu bebas melakukan itu semua dan harus sesuai dengan keinginanmu sendiri."


“Nanti akan Papa sampaikan permintaanmu. Kalau begitu ditutup dulu ya, Dear. Ponsel Papa panas karena terlalu lama mendengar omelanmu," kelakar Kevin yang tidak pernah berhenti menggoda sang putri.


Hal tersebut membuat Ivone mematikan panggilan secara sepihak, sudah lama dia tidak mendengar suara dari pria cinta pertamanya.


Terima kasih atas kasih sayang dan pengorbananmu untukku, tanpa kamu pun aku tidak mungkin bisa menjadi setangguh sekarang. Meskipun begitu kamu adalah cinta pertamaku, setelah badai berlalu kamu juga tidak pernah sedikit pun meninggalkanku.


Berjalan menelusuri lorong rumah sakit yang akan melangkah ke arah halaman parkir, tanpa sadar bahu Ivone tersenggol oleh seseorang dan membuatnya menegur orang tersebut.


“Sialan! Jalan pakai kaki, kau pikir bisa lari-larian di rumah sakit ini, hah," umpat Ivone sambil meringis sakit.

__ADS_1


Orang yang menabrak Ivone pun enggan meminta maaf bahkan kakinya terus melangkah, tanpa berniat menolong seseorang yang telah ditabrak oleh dirinya, dan membuat wanita mengumpat kembali dia tidak menerima atas perlakuan dari orang tersebut.


.


.


.


.


.


Menjadi Madu Sahabatku


Author: Ayu Andila


Dia tidak menyangka kalau akan menjadi pemeran antagonis dalam kehidupan sahabatnya.


Viola Rinjani, seorang gadis muda berusia 23 tahun harus terpaksa menikah dengan seorang pria yang merupakan suami dari sahabatnya sendiri.


Awalnya, Viola menolak tawaran pernikahan itu. Namun, keadaan yang terus memburuk terasa mencekik leher Viola hingga membuatnya harus mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua.


Biduk rumah tangga pun dimulai, akankah Viola berhasil melewatinya ?


Atau terpuruk dengan segala siksaan dan hinaan yang dilayangkan oleh semua orang ?

__ADS_1



__ADS_2