
Pria kecil itu, tidak menyadari kedatangan adik tercinta yang terlihat bingung dengan dirinya tengah melamun, sehingga suara lembut dari Rere menyadarkan dia dari lamunannya.
"Aku tidak melamun, Re," elak Renodio tanpa berani menatap wajah kembarannya.
"Benaran tidak ada yang disembunyikan olehmu, Ren?" Rere mendesak dengan todongan yang ditujukan untuk kakak kembarnya, mengingat dia sangat yakin ada sesuatu yang tidak diketahui oleh perempuan kecil tersebut.
"Tidak ada." Bahkan Renodio pun bersikukuh pada kembarannya bahwa dia sendiri, tidak akan memberitahukan perihal seorang pria yang menjenguknya.
"Bagaimana dengan keadaan tubuhmu, Ren?" Perempuan kecil itu terpaksa mengalah pada kakak kembarnya. Bahkan dia tidak jadi membahas perihal pria yang wajah begitu mirip dengan kakaknya itu.
"Seperti yang kamu lihat sendiri, Re. Beginilah kondisiku sekarang." Tidak lupa pria kecil itu menanyakan keberadaan, sang mommy yang belum terlihat di hadapannya.
"Mommy sedang bekerja, Ren. Lagipula aku sudah memberitahukan pada mommy, kalau kamu sudah sadar dari koma," sahut Rere yang begitu tegas menjawab pertanyaan dari sang kakak.
"Terima kasih!"
Rere mengangguk dan keduanya pun terdiam membisu, dengan perempuan kecil itu yang benar-benar terlihat bingung harus dimulai dari mana, bercerita banyak tentang kejadian menimpa kakak kembarnya dan juga tentang keberadaan daddy-nya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku, Re?" Suara lemah dari Renodio, membuat perempuan kecil itu terhenyak mendengar ucapan dari sang kakak.
__ADS_1
"Tidak jadi, Ren," sahut Rere sembari menggeleng kepala.
Renodio pun sedikit memahami jika adik kembarnya itu, ingin membahas tentang keberadaan sang daddy. Bahkan pria kecil itu memutuskan, memendam sendiri pertemuannya bersama daddy-nya. Namun, dia tidak menyadari masing-masing diantara mereka telah bertemu sang daddy.
Hal tersebut membuat duo R mempunyai sifat yang bertolak belakang. Meskipun identitas Renodio yang tertutup, tidak membuat pria kecil itu tersinggung dengan perkataan mereka. Mengingat dia sendiri mempunyai dua sifat sekaligus dan tidak ada, seorang pun mengetahui jati diri Renodio yang tidak lain Irene.
Alhasil Rere pun memilih beranjak dari kamar inap sang kakak. Dikarenakan perempuan kecil itu, ingin mengganti seragam yang dipakai meskipun dia harus meninggalkan sang kakak.
*
*
*
"Sabar ya, Sayang. Biar Ayah yang mengobrol dengan beliau dan meminta izinnya untuk menjenguk paman kalian di sana!" Pria yang berada di samping sang Ratu mengambil alih, dengan menenangkan kegaduhan yang ditimbulkan oleh kelima kembar tersebut.
"Baiklah, Ayah. Katakan pada ibunda atas izinnya kami menjenguk paman!"
Rewindra mengangguk setelah dia mendengar permintaan dari salah satu kelima anak kembarnya, hingga pria itu menghampiri sang istri yang sedang melamun tanpa menyadari kedua tangan kekar mendekap erat tubuh mungilnya.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan, Hon. Mendengar kabar sepupumu masuk rumah sakit, sudah pasti mereka tidak akan tinggal diam."
"Aku tahu ... kamu ingin meminta izinku untuk mereka bukan?"
Rewindra meringis pelan ketika sang istri mengetahui, niat tujuannya dengan mengalihkan pertanyaan. "Kamu tidak ingin menjenguk sepupumu, Hon?"
"Ada saatnya nanti aku menampakkan diri di hadapan anak itu, Bee. Bahkan dia sendiri begitu berani mengusir, bujang lapuk itu dari kamar inapnya."
*
*
*
Semenjak kata ‘’I Love You Ardian’’
Gadis cantik itu ucapkan. Hidupnya sudah tidak tenang lagi. Gadis itu di kejar musuh bebuyutan ARIGEL sebagai kelemahan pemimpin ARIGEL bernama, ArdianWilliam Adhiyatma.
VAGOS ingin balas dendam kepada anak ARIGEL, dengan cara mencari kelemahan pemimpin mereka yang bernama Ardian.
__ADS_1