
"Baiklah kalau begitu kami kembali dulu ya," pamit Reno pada kelima kembar yang, diantara keempatnya tengah memprotes. Namun, dia lebih dulu menghindar karena anak lelaki itu teringat dengan sang mommy.
Sebelum sampai ke tempat mommy berada. Rere menghentikan langkah sambil menodong pertanyaan, untuk ditujukan pada kakak kembarnya karena dia sangat yakin. Jika kembarannya itu menyembunyikan sesuatu, yang tidak diketahui oleh anak perempuan itu.
"Untuk sekarang kau belum boleh mengetahuinya, Re. Namun, aku hanya mengatakan hal ini di hadapanmu bahwa, mereka memang ada hubungannya dengan kita berdua," tukas Renodio dingin.
"Maksudmu apa, Iren?" Rere sendiri pun belum bisa mencerna, ucapan dari sang kembaran.
Hal tersebut yang membuat Irene alias Renodio, enggan berbagi masalah dengan kembarannya.
"Intinya jika kita berdua bertemu mereka. Jangan kaget dengan panggilan untuk kita, sebab memang itulah sebutan untuk kita, Rere. Nanti juga kau akan mengetahui apa yang ku' ucapkan!" tegas sang kakak dengan nada dingin.
Tidak berselang lama kemudian sampailah kedua anak kembar itu, di mana terdapat seorang wanita yang begitu sabar menunggu mereka, sehingga membuat keduanya merasa bersalah karena terlalu lama berurusan dengan kelima kembar itu.
"Mom," panggil keduanya dengan nada kompak.
"Apa Mommy terlalu lama menunggu kami?" lanjut Rere yang sedang mewakili sang kakak.
Citra menggeleng karena dia sama sekali tidak lelah untuk kebahagian kedua harta berharganya dan kalaupun nanti wanita itu, bertemu dengan pria yang merenggutnya dulu tidak akan pernah memberikan kedua pada pria itu.
__ADS_1
"Sayang Mommy tidak merasa lelah menunggu kalian, Nak ... apa urusan kalian sudah beres?" ucap ibu dua anak sambil bertanya.
"Sudah, Mommy," jawab Rere sambil tersenyum menampilkan, beberapa gigi putih yang berginsul itu.
Sampai terdengar bunyi suara perut keroncongan, yang berasal dari salah anak kembarnya. Hal tersebut membuat Citra tergelak lucu, dengan tingkah laku dari anak-anaknya. "Sepertinya ada yang sedang malu-malu kucing, nih!"
"Mommy jangan ditegur si Iren. Kalau dia menahan lapar tentu saja, aku juga ingin segera menikmati ayam goreng kesukaanku. Apakah boleh, Mom?" sahut Rere dengan raut wajah memelas.
"Sekarang kalian pamit dulu sama pelatih, tapi ingat Mommy membawa kalian ke tempat biasa hanya sekali, tidak kedua ataupun seterusnya karena aturan Mommy sama. Paham!" Citra menegaskan pada kedua anak kembarnya untuk sekali saja, mendatangi tempat junk food karena itu sudah menjadi aturan mutlak.
Demi kesehatan dan kebaikkan duo R yang, tidak ingin terjadi sesuatu yang mengerikan.
Akan tetapi, saat keduanya menghampiri sang pelatih dari arah lain seseorang, sedang melangkahkan kaki menghampiri duo bersamaan itu, orang yang menghampiri kedua anak kembar itu menyapa sambil berbasa-basi, sebelum ia mengutarakan tujuannya atas perintah langsung dari Morgan Gayatri Smith.
"Jadi, kalian menolak bertemu dengan panitia penyelenggara kompetisi ini?" cetus sang asisten yang sedang bergumam lirih. Namun, ia tidak menyadari Irene pun mendengarnya.
"Maaf kami bukan bermaksud menolak undangan Anda, Paman. Hanya saja aku dan adikku sedang lapar! Lain waktu aku akan memenuhi undangan, Anda," sahut Irene dingin sambil, menarik kasar tangan sang adik kembarnya.
Sementara sang asisten Morgan sedikit terkejut dengan penolakan, dari salah satu dari kedua anak kembar yang membuat ia semakin yakin, dengan dugaan hubungan antara keduanya beserta sang tuan.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Aku pergi, Xander. Kuharap kamu akan baik-baik saja." ~ Tania Maharani
"Pergilah! Jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku! Aku sangat membencimu! ~ Alexander Vincent Pramono
Rumah tangga harmonis yang diharapkan langgeng hingga maut memisahkan rupanya hanya angan belaka. Tania harus pergi meninggalkan suami tercinta dalam keadaan hamil.
Lantas, bagaimana kehidupan Tania setelah resmi berpisah dari Xander? Akankah Arsenio menerima Xander sebagai ayahnya setelah mengetahui pria itu akan menikah lagi?
__ADS_1