
"Jadi, bagaimana kamu bisa mengetahui hal ini, Hon?" tanya Rewindra dengan tatapan bingungnya.
"Di sana ada beberapa mata-mata yang ku' tugaskan. Jadi, tidak perlu lagi menanyakan hal apa pun tentangnya. Paham!"
"Baiklah aku tidak aku bertanya apa pun tentang dan bisakah kamu memberi kami izin, Hon?"
Dia pun mengangguk setuju untuk menyetujui permintaan kelima anak kembarnya yang akan mengunjungi kembali di negara itu, kemudian mereka juga menjenguk sang sepupu yang tidak lain paman dari mereka.
*
*
*
Kedatangan Gunawan Gayatri Smith pebisnis sukses pada masanya menarik perhatian beberapa orang di sekitar rumah sakit yang sibuk membicarakan pria senja yang duduk di atas kursi roda.
Desas-desus pria senja itu sampai terdengar di telinga dokter pribadi yang tidak lain sahabat dari pria itu sendiri, bahkan terlihat heran atas kedatangan sesosok yang selama ini tidak pernah terlihat menginjakkan di rumah sakit.
“Coba katakan pada pria tua ini ... mengapa kedatanganmu menggemparkan rumah sakit milikku, Wan?” Seorang pria senja melontarkan pertanyaan ditujukan untuk Gunawan yang duduk berhadapan dengannya.
__ADS_1
“Ajak aku masuk ke dalam ruangan milikmu ... disana kau akan menemukan jawaban atas rasa penasaranmu!” sahut Gunawan dengan dia memerintahkan Satria mendorong kursi roda yang di arahkan ke tempat ruang pribadi sahabatnya.
“Sekarang jelaskan kepadaku, Wan. Apa yang membuatmu singgah di rumah sakit milikmu? Mengingat sebagai direktur di sini tentu sangat asing, bagi mereka semua yang baru pertama kali melihatmu!”
“Ini tentang pasien kecelakaan yang dirawat oleh beberapa dokter bawahanmu.” Gunawan melontarkan ucapan tanpa berbasa-basi, sambil membalik pertanyaan. “Bagaimana dengan kondisi pasien yang mengalami kecelakaan hebat itu?”
Pria yang sebaya dengan Gunawan mengernyit heran mendengar lontaran tanya tertuju pada pasien yang mengalami kecelakaan itu. “Tunggu, Wan. Kau mengenal dekat dengan pasien itu? Aku tidak bisa memberitahukan hal ini, meskipun kau sahabatku sendiri.”
Gunawan berdecak kesal ketika mengetahui jika sahabatnya itu, enggan memberitahukan keadaan yang menimpa cucunya.
Tanpa segan-segan pria senja yang duduk di atas kursi roda itu pun, menjelaskan alasan dan tujuannya berkunjung ke rumah sakit tersebut. “Di dalam diri pasien yang ditangani oleh bawahanmu itu, tentu saja mengalir darah di dalam diri sahabatmu ini. Masihkah kau tega menyembunyikan kondisinya di hadapanku, hm?”
Gunawan mengangguk. “Itulah kenyataan yang sebenarnya, bahwa mereka adalah cucu kandungku sendiri. Apa kau tidak mengetahui jika sepupu dari dua anak kembar itu datang berkunjung, di rumah sakit ini tanpa sepengetahuan dari direktur sepertimu?” Pria senja itu, tidak berhenti menceritakan asal mula kedua cucu kembarnya, sampai membuat sang sahabat tidak dapat mengungkapkan kata-kata.
Selama ini, ia hanya mengetahui jika putra bungsu pria senja itu, telah menikah dan mempunyai seorang putri.
“Bukankah putramu yang dijuluki bujang lapuk itu, sudah menikah dan memiliki seorang putri, Wan?”
“Aku tidak semurah itu menerima kehadiran wanita lain, untuk masuk ke dalam kehidupan keluargaku. Pernikahannya pun tidak pernah aku restui sebelum dia berhasil menemukan, gadis yang telah menjadi incaran untuk menjadi menantuku.” Gunawan menegaskan sampai kapan pun pernikahan Morgan tidak sah. “Wanita itu, hanya mengincar harta yang telah ku’ wariskan sebagian untuk cucu perempuanku. Lalu begitu dia mendengar jika Morgan memiliki anak, dari gadis yang pernah menghabiskan malamnya. Dia punya seribu cara untuk menghalangi Morgan bertemu anak kandungnya, tapi aku tidak yakin dua anak kembar itu mau menerima kehadiran bujang lapuk.”
__ADS_1
“Kenapa tidak menerima kehadirannya?”
Pria senja itu enggan membalas pertanyaan rasa penasaran di dalam diri sang sahabat, tapi sebaliknya Gunawan melontarkan tanya untuk bisa mengetahui keadaan cucunya itu. “Untuk masalah Morgan cukup sampai sini, aku hanya ingin mengetahui keadaan cucuku. Kenapa susah sekali memberitahukannya di hadapanku?”
Tanpa berbasa-basi, pria duduk berseberangan dengan Gunawan itu pun. Mulai menjelaskan tentang kondisi pasien yang sebenarnya tidak lupa ia, memberitahukan jika ada hal lain yang berhubungan cucu pria senja itu.
Kondisi lain tentang kelainan yang diidap oleh cucu Gunawan itu sendiri. Tanpa dijelaskan oleh sahabatnya pria senja itu, sudah lebih dulu mengetahui kelainan sang cucu tercinta.
“Berapa lama kau mengetahui kelainan itu, Wan? Lalu kenapa tidak segera ditangani, agar tidak sampai mengubah identitasnya.”
Menghela napas panjang, Gunawan kembali bercerita. “Meskipun aku mengetahui kelainan diidap oleh cucuku, tapi aku tidak berhak mencampuri urusan yang bukan ranahku! Aku hanya bisa mengawasi dan memantaunya dari kejauhan, dan itu pun atas bantuan dari cucuku yang tinggal di istana kerajaan.”
Sahabat Gunawan yang bernama Priwansis diam menyimak dengan, saksama rangkaian cerita yang diungkapkan oleh sang sahabat.
Sampai membuatnya paham dengan tujuan kedatangan dari pria senja yang sebaya dengannya. “Jadi, sekarang kau hanya menginginkan kabar dari kondisinya sekarang ‘kan, Wan?”
Gunawan mengangguk. “Langsung katakan!”
__ADS_1