
“Aku akan mengingat hal ini sebagai janjimu untukku!" sahut Araela dingin, dia pun teringat kondisi tubuh, bujang lapuk yang membuat gadis itu berpikir.
Kenapa aku tidak terpikir ke sana? Bahkan sudah seminggu ini, dia sama sekali tidak menghubungiku. Jangan-jangan kondisi dialami bujang lapuk ini karena ….
Suara bariton bujang lapuk membuyarkan lamunan gadis tersebut, “jangan terlalu dipikirkan, Baby … aku tidak apa-apa!"
Belum sempat Morgan turun dari ranjang, tiba-tiba saja dia mencium aroma parfum, bahkan dari aroma tersebut membuatnya tidak berdaya.
“Apa aku merepotkanmu, Baby?"
“Jangan banyak bergerak! Nanti kondisimu semakin memburuk." Bersamaan itu, terdengar suara dari sang suami, memberitahukan jika dokter pribadi Morgan telah datang.
“Jangan merajuk dong … kalah dengan Ando ya kamu, Bee!" Araela tergelak lucu, melihat wajah Rewindra yang masam seperti jeruk nipis.
“Kamu sendiri yang membuatku seperti ini, Hon!"
“Sini aku beritahu satu hal."
Mendapat lampu hijau, membuat Rewindra lebih banyak diam, sedangkan sang istri saat ini tengah mengobrol, dengan seorang dokter pribadi yang menangani sang bujang lapuk.
“Langsung saja katakan kondisi bujang lapuk itu, Dok!" pinta Araela dengan tegas.
“Tidak ada yang salah di dalam diri tuan muda … kondisinya hanya mengalami seperti yang ibu hamil rasakan."
“Tidak adakah cara lain untuk meredakan kondisi yang dialaminya, Dok?"
Dokter itu menggeleng lemah, “itu sudah terbiasa dialami oleh ibu hamil pada umumnya, Nona Muda."
“Jangan katakan hal ini pada dia! Bisa melakukannya untukku?"
“Kalau begitu saya permisi, Nona Muda."
Setelah gadis itu memastikan kondisi sang bujang lapuk yang begitu terlihat pucat, sambil tertidur pulas Araela pun menarik tangan sang suami menuju kamar pribadinya.
“Jangan berisik dan membocorkan apa pun pada dia, Bee."
“Why, Honey?"
“Aku tidak ingin seseorang menguntungkan keadaan bujang lapuk itu. Meskipun aku tidak yakin orang itu berhenti mengganggunya."
“Lebih baik kamu memantaunya, dimulai dari sekarang!"
__ADS_1
Araela mendengkus kesal, tak berselang lama, di dalam kamar tersebut terdapat kedua insan yang tengah, mengarungi lautan bersama sebagai pertanda gadis itu menerima kehadiran, sang duda casanova karena dia sendiri telah mencintai Rewindra Wiratama.
*
*
*
Sementara itu, di sisi lain terdapat seorang pria senja yang tengah mengobrol dengan seseorang, bahkan tanpa malu wanita tersebut menyodorkan sebuah benda tipis.
Akan tetapi, itu tidak membuatnya menang. Oleh karena itu Liora merasa, ada yang tidak beres dengan pertemuan ini.
“Apa yang membuatmu datang kemari, Nona?" Suara bariton dari asisten pribadi Gunawan, membuat wanita itu tidak bisa berkutik.
“Saya datang karena ini!" Batin Liora dibuat geram, dengan sorot mata dingin. Sial! Kalau aku menjandi istrinya, kupecat tahu rasa.
Gunawan yang berpura-pura tidak tahu apa-apa, dibuat geram dengan tingkah laku dari seorang wanita sial lagi wanita itu, menyodorkan beberapa lembar foto untuk menjebak putra bungsunya.
“Maksudmu kau datang kemari karena menginginkan, putraku bertanggungjawab atas perutmu begitu?"
“Bukankah Anda bisa memastikannya sendiri, Pak!"
“Tidak bisa begitu dong, Pak." Liora memprotes tindakan yang dilakukan oleh pria senja di hadapannya.
Dia terlihat begitu gusar, mengingat Gunawan terlihat sangat berbeda, dari yang biasa wanita tersebut amati selama ini.
“Semua keputusan ada di tangan anak itu … jika mau menunggu silakan, tapi ingat jangan pernah bermain-main dengan pria senja sepertiku. Paham, Nona!"
“Apa kau baru saja mengancamku, Pak."
“Jika anggapanmu begitu … silakan lakukan apa yang kau inginkan dari putraku … aku sendiri tidak akan, pernah takut dengan ancaman murahan seperti ini!"
Tanpa mengurangi rasa hormat, Gunawan tidak segan-segan mengusir seorang wanita, bahkan dia merasa de javu seperti kejadian, menimpa putra sulungnya tercinta.
“Kau sudah mendengar sendiri bukan? Dia pikir aku akan takut dengan ancamannya," sahut Gunawan dingin, begitu tidak melihat punggung wanita tersebut. Kakek dari Araela itu benar-benar marah atas perbuatan yang dilakukan oleh bujang lapuk.
“Apa perlu kita menyingkirkan wanita itu, Tuan Besar?"
Gunawan menggeleng, dia sangat yakin lawan yang sepadan dengan wanita itu, dialah cucu kesayangannya sendiri, “jangan mencampuri urusan mereka … sudah anak nakal yang menangani kejadian menimpa putraku."
“Baik, Tuan Besar … saya mendapat kabar, tuan muda akhir-akhir ini, kondisinya sedang tidak baik-baik saja … haruskah saya sendiri mengecek ke sana, Tuan?"
__ADS_1
“Tidak perlu, di sana sudah ada anak nakal yang menjaganya … pastikan kau sudah menemukan keberadaan gadis itu!"
Bukannya tidak bisa menemukan keberadaan gadis dimaksud tuan besar, tapi jejaknya benar-benar menghilang seperti ada, seseorang yang sengaja menutup akses tersebut.
*
*
*
“Sudah lebih tenang, Cit? Jangan mengutuk kehadirannya di sana!" Ivone benar-benar tidak tega, dengan kondisi psikis dari sang sahabat tercinta.
Seperti yang diucapkan oleh Leonard, dia harus benar-benar ikut andil dalam permasalahan ini, sebagai seorang sahabat dirinya juga tidak tega dengan keadaan Citra.
Maafkan aku Cit! Aku benar-benar tidak ingin kamu menghilangkan nyawanya. Sebesar apa pun kesalahanmu, dia tetaplah anugerah untuk kehidupanmu kelak.
”Maafkan yang tidak bisa membantumu banyak selain, membuatmu menghilang dari kehidupan mereka karena aku yakin, kamu adalah wanita setangguh karang dan sekuat baja."
Penghiburan dari Ivone, membuat Citra berpikir keras, tentang kehidupannya setelah ini, pasti akan mengalami hal yang tidak terduga, dibalik sebuah takdir yang menimpa gadis tersebut.
“Maaf sudah terlalu sering merepotkanmu, terima kasih atas pengorbanan yang tidak akan pernah bisa kubalas, selain menerimanya sebagai permintaan darimu yang akan dipanggil 'tante' oleh dia!"
“Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu, Cit … nanti kamu bisa meminta apa pun yang diinginkan oleh dia," sahut Ivone yang terlihat senang, dengan kehadiran seorang bayi.
“Sekali lagi …."
“Aku tidak ingin mendengar apa pun tentangmu … pintaku jagalah 'dia' dengan baik. Bisa?"
Citra mengangguk lemah, bahkan tanpa canggung Ivone mendekap erat, tubuh mungilnya sambil terus memberikan sebuah semangat.
Oleh karena itu, sekarang dan selamanya dia hanya ingin hidup bersama, sesosok yang akan menjadikan Citra setangguh karang.
“Tolong sampaikan terima kasihku untuk … maaf telah merepotkannya, Von."
“Astaga kenapa mesti mengatakan itu untuk si kulkas? Dia itu sangat menyebalkan tahu enggak!"
Mendengar aduan yang diucapkan oleh Ivone, membuat Citra menggeleng setengah tidak percaya, padahal jelas-jelas pria itu yang telah membawanya ke rumah sakit.
Meskipun diakui bahwa atasannya terlihat begitu dingin, bahkan mengingatkan tentang seseorang dengan sorot mata dingin itu.
Kenapa aku merasa pria yang menolongku, seperti seseorang dengan sorot mata dingin, mungkinkah mereka? Oh tidak mengapa aku memikirkan sesuatu yang tidak penting bagiku? Aku tidak boleh jatuh cinta pada pria mana pun.
__ADS_1