
“Aku adalah Kakek kalian, Nak.” Sapaan dari pria senja duduk di atas kursi roda, membuat dahi Rere mengernyit heran. Namun, tidak untuk Irene yang tak lain Renodio justru mengetahui identitas asli dari tamu yang masuk ke kamar inapnya. “Kamu bisa tanyakan siapa Kakek ini pada dia?” Gunawan tergelak melihat raut wajah cucu perempuannya. “Bolehkah Kakek mengenal dekat dengan kalian?”
Belum sempat Rere menjawab pertanyaan dari kakek tersebut, terdengar nada sahutan dingin yang terucap di bibir Renodio, tentu saja hal itu membuat Gunawan diusir paksa oleh cucu laki-lakinya. “Kami tak butuh mengenalmu, Kek! Ada baiknya segera keluar dari kamarku.”
“Apa mommy pernah mengajarimu seperti ini, Kak Ren?” Rere menegur, kemudian gadis kecil itu mengalihkan pandangan mata, tertuju pada seorang kakek tua yang masih belum diketahui namanya. “Kamu tak perlu mendengarkan apa yang dikatakan oleh dia ya, Kek. Tak perlu berkenalan dengannya, lebih baik berkenalan denganku saja!” Tawaran gadis kecil bersamaan raut wajah sendu, membuat Renodio tak tega melihat kesedihan di dalam sana.
“Sudah-sudah jangan bertengkar, bukankah kalian saling menyayangi satu sama lain?” Gunawan menghibur dengan lontaran tanya itu terucap dari bibirnya. “Masalah dia tak perlu dibahas lagi, kakek hanya ingin bertemu dengan kalian.”
Renodio mengalah dan memilih membiarkan tamu tersebut berkunjung menemuinya, bahkan pria kecil itu merasakan jika sang kakek begitu sangat merindukan mereka, hal tersebut terbukti dari sorot pandangan mata pria senja yang duduk di kursi roda.
Suara dengan lontaran tanya itu akhirnya terucap di bibir Rere, hingga membuat dua pria berbeda generasi melamun terhenyak kaget, bersamaan Gunawan memilih untuk menjawab rasa penasaran cucu perempuannya itu.
__ADS_1
“Seperti yang Kakek bilang tadi, Kakek tua ini adalah Kakek kandung kalian. Kedatanganku tentu saja karena merindukan kalian.”
“Cucumu itu bukanlah kami, melainkan ....” Tak meneruskan apa yang ingin diungkapkan, membuat Renodio tak tega melihat wajah sedih adik kembarnya. “Aku masih belum bisa membuat perhitungan dengannya!” Mengganti topik lain dengan mengirimkan, sinyal yang membuat Gunawan tanggap.
“Siapa, Kak Ren?” Rere justru dibuat penasaran dengan, lontaran yang terucap dari bibir kakak kembarnya. “Apakah dia yang Kakak maksud adalah daddy?”
“Bukan.” Pria kecil itu mengelak, ia tak ingin sang kembaran mengetahui sesuatu hal, yang tak seharusnya diketahui oleh gadis kecil itu. “Jangan bahas masalah daddy, biarkan semua mengalir semestinya.”
Sampai membuat dada Gunawan terasa sesak yang begitu menyiksa, tapi ia tak akan membiarkan mereka melihat sembari menahan nyeri.
Renodio kembali menyadari ada sesuatu hal yang membuat, kakek duduk di kursi roda itu seperti menahan nyeri, hingga lontaran tanya meluncur dari bibirnya. “Kau kenapa, Kek? Kalau sakit jangan berkunjung ke mari, tapi beristirahatlah di rumah!”
__ADS_1
Pernyataan dari pria kecil itu, membuat Gunawan sedih. Entah mengapa cucu laki-lakinya seperti, tak menyukai keberadaannya di kamar inap ini.
'Astaga kenapa sikapnya 11-12 sama Ara, apa anak itu juga tak memberitahukan hal ini padaku? Aku merasa perlu membahas hal ini berdua, sorot mata kebenciannya begitu jelas untuk bujang lapuk itu.'
Belum sempat Gunawan membalas tanyaan itu, Rere menegur kakak kembarnya yang selalu bersikap tak sopan. Diam-diam pria senja itu menyungging senyum, melihat interaksi antara cucu kembarannya.
“Tak perlu bertengkar karena kedatanganku, tapi sebelum aku pergi dari kamar ini. Bolehkah Kakek memeluk kalian berdua?” Sebelum pergi dari kamar inap cucu laki-lakinya, Gunawan membuat permintaan hingga dua anak kembar tersebut mengangguk.
Memeluk cucu perempuannya terlebih dulu hingga kemudian, ia mendekati brankar yang di tempati oleh cucu laki-lakinya.
Sembari berbisik pelan di telinga pria kecil tersebut. “Nanti aku akan memintanya menjaga kembaranmu, bukankah kamu ingin mengeluarkan isi hatimu terpendam padaku?”
__ADS_1