
“Bisakah aku pulang sekarang, Von?" Suara Citra memecah keheningan.
“Jangan dulu, kamu harus banyak-banyak istirahat, Cit," sahut Ivone, sambil menolak keinginan sahabatnya.
“Aku tidak enak dengan karyawan kantor, Von … pasti mereka membicarakanku!" kata Citra yang merasa tidak enak hati.
Atas kebaikan atasan yang suka rela membawanya ke rumah sakit.
“Biar aku menghubungi atasanmu itu … jangan cemaskan apa pun tentang mereka. Oke!" hibur Ivone yang begitu gigih, memberi pengertian pada sang sahabat.
Bahwa pria yang dianggap kakak kandung, tidaklah seburuk yang ada dipikiran gadis tersebut.
“Tidak perlu, Von … untuk kali ini aku akan memenuhi permintaanmu, tetapi besok aku harus kembali bekerja … aku tidak ingin terlalu lama merepotkanmu."
Mau tidak mau Ivone mengalah, sebagai ganti dia yang akan menjaga seharian penuh, serta memastikan kondisi sang sahabat dalam keadaan baik, setelah mendapatkan perawatan khusus dan semua itu tak luput, dari seorang pria yang tidak ingin orang lain mengetahui aksinya.
*
*
*
Sesampai di kantor, Leonard memanggil Andra dan memberi perintah pada sang asisten, untuk menyelidiki latar belakang gadis yang dibawa Ivone.
“Kenapa harus aku, Yo?" ucap Andra, setelah sang sahabat memberi ultimatum.
“Lakukan apa yang ku' perintahkan! Jangan terlalu kepo, tugasmu cari tahu latar belakang dia!" titah Leonard dingin.
“Baiklah, aku akan memulainya sekarang! Lalu mengapa tidak meminta tolong, pada adikmu yang dingin itu?"
“Apa kau lupa … dia tidak akan mau membantuku dalam masalah ini … meskipun yang dilakukannya atas permintaan Ivone."
“Berarti kau belum bertemu dengannya lagi, Yo?" tanya Andra yang begitu penasaran, dengan sikap ditunjukkan oleh gadis dingin itu.
“Belum!" Tak lupa, pria muda itu menceritakan alasan, salah satu adik kembarnya yang sikapnya sulit ditebak.
Bahkan pada orang lain ia akan selalu bersikap dingin, tapi hanya bersikap hangat hanya untuk kedua saudara kembarnya.
“Jadi, mereka masih memisahkan diri?"
“Tidak perlu mencari tahu mereka … lakukan apa yang ku' perintahkan!"
__ADS_1
Tanpa membuang waktu banyak, Andra melakukan perintah dari Leonard, dengan menghubungi salah satu anak buah yang bertugas sebagai peretas, untuk membantu menyelidiki latar belakang dari karyawan bernama Citra.
*
*
*
Sementara itu, di sisi lain di sebuah tempat asing terdengar sebuah umpatan kasar, dari seorang gadis yang dibicarakan oleh Leonard dan juga Andra.
Ia merasa kecolongan, di saat menghilangkan aroma tubuh seseorang, justru telah mendatangkan masalah besar dan sial lagi, kakak sulungnya diam-diam jatuh hati pada seorang gadis yang telah ditolong oleh dirinya.
“Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pantas saja telingaku terasa begitu panas, saat mereka menyebutku gadis dingin!" monolog gadis itu, sambil mengusap kasar wajahnya.
Bahkan ia pergi ke tempat ini karena suatu misi yang begitu sangat berbahaya, sehingga kedua saudara kembarnya pun enggan ikut ke dalam misi tersebut.
Terlalu lama melamun, sampai ia tidak menyadari kedatangan sang kekasih, bahkan kedua insan itu yang begitu terang-terangan, mengambil misi berbahaya untuk mengungkap sebuah misteri.
“Kenapa lagi, Yank?"
“Hm."
“Aku mendapat pesan dari om Ray … beliau memintaku untuk menjagamu dari misi berbahaya ini … tidak keberatan bukan, Yank?"
Tidak ada yang dibicarakan oleh kedua insan tersebut, sehingga Araxi gadis dingin itu kembali memikirkan kakak sulungnya tercinta, sampai kapanpun mereka tidak akan bisa bersatu karena dia telah melihat semua masa ke depan.
*
*
*
Kembali di mansion pribadi milik Morgan, saat ini tengah kedatangan dua orang yang ingin, melaporkan informasi atas perintah dari nona muda.
“Apa kalian terlalu lama menungguku?" tanpa membalas sapaan, Araela langsung pada tujuannya.
“Tidak terlalu buru-buru, Nona." Joko menyahut, tanpa takut dengan sorot mata datar nona-nya.
“Jadi, apa yang ingin kalian sampaikan padaku? Tidak mungkin 'kan, meminta bertemu denganku!"
“Tuan besar mengetahui permasalahan tuan muda, Nona." Joko langsung memberitahukan, dan hal tersebut.
__ADS_1
Membuat cucu kesayangan Gunawan terkejut mendengar kenyataan, bahwa sang kakek telah mengetahui jika om-nya telah melakukan kesalahan besar.
“Apa ada lagi?"
Joko mengangguk, “saya melihat wanita itu mendatangi tuan besar, sambil membawakan benda pipih … tidak itu saja, dirinya juga mengaku hamil anak tuan muda, sehingga mendesak tuan besar agar tuan muda bersedia menikahinya."
“Lalu reaksi kakek bagaimana? Kau seharusnya tahu sendiri bukan? Kesehatan kakek akhir-akhir ini menurun … aku tidak menerima sundal itu, menemui kakekku secara diam-diam," geram Ara dengan sorot mata dingin.
“Tuan besar menyerahkan urusan ini pada Anda, Nona … beliau sendiri juga tidak sudi menerima wanita itu, sebagai menantunya."
“Apa dia juga mengancam kakek?"
“Benar, Nona."
“Jika memang sundal itu, menginginkan omku menjadi suaminya … maka dia salah besar mencari masalah denganku!"
“Apa Nona Muda ingin bermain-main?"
“Tidak, tapi aku akan membuatnya merasakan hidup di dalam neraka … aku dari kecil, tidak terlalu menyukai dia yang terlalu mengejar bujang lapuk itu."
Jika Joko dan rekannya melihat kemarahan di dalam nona muda, mereka tidak dapat berbuat banyak selain hanya bisa menunggu perintah.
Ternyata dia dan rekannya menjadi tumbal dari nona mudamenjaga serta mengawasi, pergerakan dilakukan oleh wanita yang mengaku-ngaku hamil.
Saat ini kedua mata-mata, tengah mengobrol sambil menggerutu karena tugas itu, terasa begitu sangat berat untuk keduanya.
“Jangan menggerutu, Ko … biarpun terasa berat bagi kita, tetap saja nona muda hanya memercayakan misi ini pada kita … jangan sampai membuat nona kecewa."
“Ingin ku' sumpal mulut wanita itu … kok bisa-bisanya mengaku hamil tuan muda, padahal jelas-jelas kita sendiri melihat gadis yang dibawa tuan waktu itu."
Mendengar pernyataan dari Joko, membuat rekannya membenarkan bahwa mereka sendiri, melihat kejadian yang menimpa bujang lapuk tersebut.
“Lebih baik tidak usah mengeluh misi ini … kita harus benar-benar serius, lalu jangan lupa penyamaran kita tidak boleh gagal."
“Justru aku sangat bersamangat dalam misi kali ini, kau bisa menebak sendiri bukan? Aku begitu sangat menyukai sebuah tantangan memacu adrenalin."
Ucapan Joko dengan semangat berapi-api, membuat kedua mata-mata yang bertugas, menjadi lebih semangat dari biasanya dan juga misi tersebut, melibatkan sebuah nyawa yang dipertaruhkan untuk mata-mata Araela.
Sementara itu, di tempat lain Liora membanting seluruh barang-barang karena gagal mendesak, sehingga mau tidak mau wanita itu lebih memilih mundur sambil menyusun rencana.
Untuk membuat seorang bujang lapuk mau menikahinya, padahal dia sendiri tengah mengandung janin dari pria lain.
__ADS_1
Kurang ajar pria bangka sialan! Aku tidak akan menyerah untuk membuat putramu menikahiku. Jika begitu kau yang harus, membayar mahal atas penghinaan ini! Hanya aku seorang yang pantas, bersanding di samping Morgan Gayatri Smith.