
“Sebenarnya kondisi pasien saat ini harus banyak istirahat, untuk menghindari kejadian buruk menimpa kandungannya."
Pria muda itu terkejut mendengar penuturan, dari dokter yang menangani gadis tersebut, “Dok … kau sedang tidak membual 'kan?"
Dokter itu menggeleng, bahkan ia juga membenarkan pernyataan, pasien yang dibawa oleh pria muda itu, saat ini tengah dalam keadaan hamil beberapa minggu.
Lebih baik lagi gadis itu, tidak harus mengalami mual dan muntah yang berlebihan, hanya saja harus beristirahat karena kondisi tubuh mungilnya gampang kelelahan.
“Itu saja yang ingin saya sampaikan pada Anda, Pak … satu hal lagi, tolong ingatkan pada pasien untuk tidak terlalu berpikir berlebihan, biar janin di dalam kandungannya dalam keadaan baik-baik saja."
Enggan membalas permintaan dari dokter tersebut, pria muda itu memutuskan keluar dari ruangan pribadi sang dokter, sambil menunggu kedatangan seseorang yang akan dimintai, beberapa pertanyaan mengapa sang sahabat membawa gadis itu ke tempat asing seperti ini?
Tak berselang lama kemudian, orang yang ditunggu pun akhirnya datang, dengan raut wajah dinginnya ia menanyakan tujuan Ivone, membawa orang asing ke tempat bukan menjadi tempatnya.
“Untuk apa menanyakan hal sepele ini denganku, hah?"
“Hal sepele katamu!" geram pria muda dengan nada amarah.
“Dia tidak ada hubungannya denganmu, Nard … untuk apa harus mencampuri urusan pribadinya? Harusnya kau lebih memahami dan mengerti keadaanku … dia adalah orang yang begitu baik denganku! Lalu salahkah aku membalas kebaikannya?"
“Ma … af!"
“Jadi, tidak perlu mencampuri urusannya, maafkan atas keegoisanku karena telah, membuatmu dalam posisi sulit seperti ini"
Leonard, pria muda yang membawa Citra hanya bisa pasrah, bahkan dia tidak bisa berkutik ketika salah satu dari, adik kembarnya sendiri yang turun tangan membantu gadis tersebut.
“Apakah dia sahabat yang pernah kau ceritakan pada kami, Von?"
Ivone mengangguk. “Apa kau marah, Nard?"
__ADS_1
“Tidak … janjiku pada papamu masih sama, memerhatikanmu seperti adik kandungku sendiri. Jadi, aku tidak berdaya saat kau merengek memintaku memasukkannya ke kantor." Leonard menegaskan, bahwa pria muda itu telah berjanji menjaga, serta melindungi sahabat yang dianggap adik dari bahaya di sekitarnya.
“Aku pikir kau akan marah kepadaku!"
“Lalu kau berharap aku memarahimu begitu, heh!" sahut Leonard dingin, pria muda itu mengingatkan Ivone untuk lebih memerhatikan kondisi, gadis yang dia bawa ke rumah sakit ini. “Kau juga harus andil dalam hal ini, Von … jangan sampai gadis itu tertekan karena kondisi kehamilannya, aku tidak mau kau menangis karena gagal menjaganya."
“Baiklah, terima kasih atas bantuanmu … ngomong-ngomong, apa kamu sudah bertemu dengan Araxi? Ku' dengar saat ini, adikmu yang satu itu ikut misi berbahaya … kenapa tidak mencegah dia?"
“Dia tidaklah lemah seperti yang kau kira, di sana ada yang menjaga anak itu … bukankah kau sendiri meminta bantuannya!"
Ivone meringis pelan, sambil menampilkan giginya yang bergingsul, sahabat Citra hanya bisa terdiam membisu pada saat, Leonard membalik seluruh kata-kata yang diucapkan oleh pria muda tersebut.
Obrolan mereka terhenti pada saat si pasien tersadar dari pingsannya, bahkan gadis yang dibawa oleh Leonard begitu terkejut, saat dirinya mendapati keadaan tubuh yang sedang berada di rumah sakit.
“Jangan bergerak dulu, Cit … kondisimu sedang tidak baik-baik saja," peringat Ivone dengan raut wajah cemas.
Sementara itu Leonard kembali menampilkan raut wajah dinginnya, dia tidak ingin orang lain mengetahui ada yang salah pada perasaannya.
Setelah memastikan Leonard tidak lagi berada di ruangan yang sama, Ivone menceritakan kondisi si pasein dengan tenang mengingat dia sendiri, tidak menginginkan sesuatu terjadi pada Citra setelah mengetahui kebenaran itu.
*
*
*
Sementara itu, di sisi lain saat ini Morgan si bujang lapuk, tengah mengalami kondisi di mana tubuh tegapnya, tiba-tiba mengalami sesuatu yang membuat pria matang itu tidak berdaya.
Kondisi tubuhnya pun sampai terdengar langsung di telinga sang keponakan, saat ini bayi mungilnya datang bersama dengan seorang pria, bahkan Morgan dan pria itu telah menjadi musuh abadi sejak keduanya, memperebutkan perhatian kecil dari Araela si gadis bar-bar yang menjelma sebagai seorang wanita dewasa.
__ADS_1
“Kenapa bisa sampai seperti ini sih, Om?" omelan dari bayi mungilnya, membuat bujang lapuk tidak bisa berkutik banyak.
Pria matang itu merasa jika sang keponakan, alias bayi mungilnya tidak akan bisa marah, dia sangat yakin akan hal itu.
“Aku sendiri pun tidak tahu, Baby … tubuhku mendadak lemah seperti yang kamu lihat … hanya mau diperhatikan olehmu!"
Bujang lapuk itu tidak memedulikan sorot mata dingin dari musuhnya, benar-benar dua bayi tua yang tidak mau mengalah bukan?
“Sudah memanggil dokter pribadimu, Om?"
Belum sempat menjawab pertanyaan dari bayi mungilnya, bujang lapuk itu berjalan dengan sempoyongan, di dalam kamar mandi itu terdengar suara muntahan.
Hal tersebut membuat Ara berpikir kejadian yang tengah menimpa om-nya, bahkan dia tidak berhenti menatap dingin yang membuat Rewindra, tidak bisa berkutik saat sang istri mengeluarkan jurus mautnya.
“Kalian itu sama-sama bayi tua yang tidak mau mengalah … ku' harap kau mau, mengalah kalah ini jika tidak mau silakan …." Ancaman mematikan dari sang istri, membuat pria berstatus mantan duda casanova, takut dengan jurus maut dari Araela.
“Ma … af, Hon … aku hanya tidak bisa berjauhan denganmu … jangan marah dan galak-galak," cicit Rewindra lirih.
“Aku mengajakmu kemari karena ini! Bisakah kau memberiku waktu … ada yang ingin ku' bahas dengannya."
Setelah sang suami memberi izin, Araela meminta penjelasan dari om-nya, tentang keputusannya yang menikah secara diam-diam, mengingat dia sendiri tidak akan sudi menerima Liora sebagian dari keluarga.
“Kenapa tidak memberitahukan hal ini kepadaku, Om? Aku sungguh tidak menyangka … kau mengambil langkah yang salah!"
“Ba … by, a … ku tidak tahan dengan ancaman darinya." Rasa sesal bujang lapuk, tidak berpikir panjang, sebelum mengambil tindakan.
“Kau juga terlalu bo.doh … untuk kali aku akan mengikuti permainan dari wanita itu … sejauh mana kau mencari keberadaannya?"
Gelengan kepala dari bujang lapuk, membuat Araela mendengkus kesal, entah mengapa dia begitu sangat yakin kondisi tubuh om-nya, pasti ada hubungan sesuatu yang tengah menimpa teman se-kampusnya itu.
__ADS_1
“Kalau begitu mulai sekarang, aku akan mengawasi dan memantau wanita itu, sejak kau melakukan kesalahan yang tidak akan termaafkan … aku mau hanya dia yang menjadi bagian keluarga Smith. Kau mengerti apa yang ku' katakan, Om?"
“Aku tidak bisa berjanji apa pun, tapi aku juga tidak akan pernah menyerah, ku' pastikan akan menemukan dia!"