
Tidak lama kemudian masuklah seorang pengawal yang ditugaskan sang ratu, untuk mengamankan seseorang yang saat ini tengah dalam perjalanan ke negaranya.
“Aku tidak mau kau memanggilku seperti itu, cukup panggil Nona!" cetusnya dingin. “Selama kekuasaan ini di dalam kepimpinanku, tidak ada satu pun yang boleh memanggilku seperti itu, sebab panggilan itu hanya dalam keadaan formal. Paham!"
“Baik, Nona."
Ibu hamil itu pun kembali memberi perintah, agar tempat persinggahan yang akan di datangi, oleh seseorang harus dalam keadaan aman dan perlindungan, mengingat di negara yang dipimpin oleh dirinya masih terdapat, beberapa orang yang memutuskan melalukan pemberontakan karena tidak, terlalu menyukai cara kepimpinan yang diambil alih oleh keturunan sang legenda.
“Kembalilah! Jalankan tugasmu dengan baik. Pastikan dia sampai ke istana dengan selamat. Aku tidak mau mendengar kabar buruk apa pun itu!"
*
*
*
Kembali di rumah sakit, dengan Citra tengah menatap sendu pandangan mata, di arahkan sebuah troli box yang berisi dua bayi kembar, tapi dia begitu tidak tega melihat keadaan salah satu bayinya, sehingga dengan terpaksa mengubah dan menutup identitasnya.
Citra hanya menginginkan kehidupan yang terbaik untuk kedua bayi kembarnya. Meskipun dia merelakan diri sebagaimana mesti, seorang ibu yang mempertaruhkan nyawa.
“Sayang, maafin mama yang melakukan hal ini pada dirimu. Namun, satu yang pasti mama tidak akan membiarkan, siapa pun menghinamu dan biarlah mama yang menanggung semua ini. Maukah kamu menerima takdir yang akan dijalani olehmu? Bukan itu saja, mama yakin kamu dan kembaranmu anak-anak yang tangguh," ucap Citra sambil menggendong, putra sulung yang begitu sangat istimewa.
Tidak sampai sedetik kemudian, kedua bayi kembar itu saling bersahutan, seolah-olah diantara mereka saling bertaruh untuk memperebutkan, kasih sayang dari wanita yang baru saja melahirkannya.
Hal tersebut membuat Citra tergelak lucu, melihat tingkah laku kedua bayi kembarnya, tanpa sadar rasa nyeri diperut mulai mendera. Namun, dia terus menahan semua rasa sakit karena tidak ingin melewatkan momen penting, dengan segala tingkah laku dari kedua bayi kembar tersebut.
*
*
*
__ADS_1
Sementara itu, di sisi lain saat ini Leonard dengan sorot mata yang begitu dingin tengah menunggu kedatangan asisten, yang ditugaskan untuk melihat keadaan ibu hamil akibat ulah dari seorang wanita gila, yang mengklaim dia sebagai calon suami padahal dia sama sekali tidak merasa mengejar-ngejar wanita itu.
Tidak berselang lama kemudian, orang yang telah dia tunggu pun datang tanpa berbasa-basa, Leonard langsung mengutarakan tujuannya menunggu sang asisten datang.
“Bagaimana apa kau sudah memastikan, kondisi ibu dan kedua bayi kembarnya?"
Asisten yang tidak lain Andra pun terhenyak, mendengar todongan dari atasan sekaligus sahabatnya. “Kenapa kau jadi tidak sabaran begini, Bro?"
“Cepat katakan!" sentak Leonard dengan geram. “Kau juga kenapa harus memakai nama papamu, hah? Apa kau tidak dimarahi oleh Sasa?"
“Dia tidak pernah melarangku. Jadi, santai saja, Bung," jawab Andra atau lebih tepatnya nama panggilan si Theo.
“Aku tidak mau basa-basi lagi … langsung saja katakan keadaan di sana!" ulang pria muda itu, dengan bibir mencebik sinis.
“Mereka semua selamat, tanpa ada kekurangan apa pun, lalu setelah ini apa yang akan aku lakukan?" ucapnya sambil bertanya.
Leonard menggeleng bahkan dia sendiri tidak berani menampakkan, diri di hadapan wanita yang dia cintai diam-diam sampai membuat, si gadis dingin yang tak lain Araxi menegurnya secara terang-terangan dan sudut bibirnya, masih terbekas sebuah sobekan akibat tamparan dari salah satu adik kembarnya.
Suara bariton dari asistennya, membuat Leonard terhenyak mendengar berita mengejutkan, “Apa kau tidak bercanda?"
“Itu berarti aku tidak diizinkan menjenguknya di sana?" Leonard memastikan.
Kebungkaman dari sahabat pria muda itu, membuatnya berpikir bahwa dia tidak diizinkan, menginjakkan kakinya di rumah sakit tempat wanita itu di rawat.
“Kenapa tidak menghubungi Ivone?" Usulan dari sang sahabat, membuat Leonard menolak tegas.
Dirinya benar-benar tidak ingin menambah masalah, sampai wanita yang mengejar Leonard menghilang dari pandangan matanya.
*
*
__ADS_1
*
Jika di sebuah rumah sakit dengan Liora dan segudang rencana yang tengah disusun, lain hal yang dilakukan oleh Morgan Gayatri Smith mengepalkan kedua tangan sambil menahan geram, sebab pria matang sejuta pesona tidak menyangka istri sirinya itu mencari sebuah rencana, untuk melenyapkan nyawa dari seorang gadis yang sampai sekarang masih menghilang.
Diam-diam dia memasang alat penyadap di sebuah rumah sakit, tanpa sepengtahuan dari Liora. Oleh karena itu, saat ini pria matang dengan julukan bujang lapuk, telah mengetahui sebuah rencana dari wanita licik tersebut.
Masih berada di apartemen pribadi yang tidak ada seorang pun mengetahuinya. Morgan Gayatri Smith memutuskan akan mengambil jalan lain, untuk menghentikan rencana gila dari Liora.
Sampai kapan pun dia sendiri tidak akan pernah menjadi milik wanita licik tersebut, sebab tujuan hidup dari Morgan saat ini adalah seorang gadis yang dia renggut.
“Liora … Liora … sampai kapan pun aku tidak akan bisa menjadi milikmu, mau selicik apa pun usahamu akan sia-sia, pada saat menginginkan suatu hal yang bukan hak-mu. Aku juga tidak akan membuatmu menang, dalam rencana yang kau susun itu, sebab adanya kau sendiri yang kalah dalam rencanamu sendiri," gumamnya sembari menyeringai dingin.
Setelah itu Morgan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, sebelum pria matang itu kembali ke mansion, sebab dia juga tidak menginingkan Liora semena-mena pada pelayan di mansion miliknya.
.
.
.
.
.
Kurebut Calon Suamimu
Author Yeni Sri
Silvia Lestari tertabrak mobil yang di kendarai oleh Devan Alvandra, seorang Pria yang ia kenali adalah calon suami dari mantan sahabat lamanya. Mantan sahabat yang pernah membuat hidup dan reputasinya hancur seketika. Di tinggalkan oleh kekasih sekaligus kehilangan Ayah tercintanya.
Karena kecelakaan yang tak disengaja membuat tulang kaki Silvia mengalami keretakan parah dan tak mampu lagi berjalan dalam waktu yang lama, sehingga Silvia memanfaatkan kondisi itu dan meminta Devan untuk menikahinya sebagai pertanggungjawabannya dan juga sebagai jalan untuk membalaskan dendamnya terhadap sang mantan sahabat.
__ADS_1
Akankah Silvia mampu membuat Devan mencintai dirinya, dan berpaling dari Cathrine, mantan sahabatnya sendiri?