Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Pertama Kali Bertatap Muka Dengan Cucu Kembar


__ADS_3

Priwansis berdehem pelan. “Maaf ... aku harus mengatakan hal ini, agar nanti kau tak terkejut mendengar apa yang akan disampaikan untukmu!”


“Kalau begitu langsung saja katakan!” desak Gunawan dengan nada dinginnya.


“Untuk kondisi yang dialami oleh ....” Gunawan menyela seraya menyebutkan nama asli cucu laki-lakinya.


“Renodio, tapi dia hanya mau dipanggil Irene.” Pria senja itu juga meminta sang sahabat untuk, tak membocorkan nama asli dari anak kandung Morgan di hadapan publik. “Hanya kau dan segelintir orang-orang yang mengetahui nama aslinya, bisakah kau membantuku menjaga rahasia perihal nama itu?”


Priwansis mengangguk. “Jangan khawatir soal kerahasiaan nama cucumu ini aman di hadapanku, aku akan memakai nama Rere sebagai identitasnya yang lain. Apa kau tak keberatan?” Melontar pertanyaan sebelum melanjutkan kembali tentang kondisi cucu sang sahabat, hingga tak lama kemudian ia pun kembali berucap. “Luka-luka yang dialami oleh cucumu tak terlalu parah, tapi ada salah satu dari tulang tengkorak dikaki cucumu sedikit bengkok.”


Pria senja yang duduk di atas kursi roda itu mendadak bungkam, bahkan penjelasan yang baru saja terdengar oleh Gunawan membuatnya sedikit terguncang, sampai membuat Priwansis tak tega melihat raut wajah dari sahabatnya itu.


Tak lama kemudian pertanyaan terlontar dari bibir Priwansis, untuk memastikan keadaan sang sahabat. “Kau tak apa-apa setelah mendengar penjelasanku, Wan?”

__ADS_1


“Aku baik, Sis.” Singkat, padat, jelas. Namun, hal itu tetap tak bisa menggambarkan perasaan terguncang di dalam diri pria senja itu. “Apa ada yang bisa kulakukan, untuk mengusahakan kesembuhannya, Sis?” Tanyaan dengan raut wajah khawatir, menggambarkan perasaan yang tak diungkapkan oleh isi hatinya.


Sampai terdengar helaan napas panjang, menggambarkan bahwa sang sahabat bukan tak bisa mengupayakan kesembuhan sang cucu. Namun, bengkoknya salah satu dari tulang dikaki Rere memang sulit untuk dijangkau. “Sekali lagi maafkan kami, Wan! Sudah berusaha untuk mengupayakan itu, tapi kebengkokan tulang dikakinya sulit untuk dijangkau.”


“Apa tak ada jalan lain, misal memasang pen ditulang yang bengkok itu, Sis?”


“Jangan khawatir, dokter bawahanku sudah memasang pen itu. Apa ada hal lain yang kau khawatirkan dari semua penjelasanku, Wan?” Priwansis membalik pertanyaan sambil memberi hiburan untuk Gunawan. “Meksipun begitu, cucumu adalah pria kecil yang tangguh. Aku merasa sikap dinginnya itu, 11-12 dengan baginda Ratu Araela.” Tergelak dengan candaan yang dilontarkan.


“Apa kau ingin menengok cucumu, Wan?”


Gunawan mengangguk. “Memangnya dia sudah boleh kujenguk, Sis?” Membalik pertanyaan yang membuat Priwansis mendengkus kesal.


“Kenapa kau makin menyebalkan, Wan.” Menggerutu sembari mengusir halus sang sahabat tercinta. “Sana enyahlah dari ruanganku! Silakan jenguk cucumu!”

__ADS_1


Tanpa berpamitan pada sang sahabat, pria senja yang duduk di atas kursi roda itu, memutar dan mendorong sendiri kursi roda ke tempat kamar inap cucu tercinta, hingga membuat dahi Satria mengernyit heran dengan sikap tuan besarnya.


'Ada apa dengan sikap beliau? Mengapa tak mau didorong seperti biasa kursi rodanya?' Pikiran Satria menjadi penuh tanda tanya.


Lamunan Satria tersentak mendengar nada perintah dari tuan besar yang, meminta pria muda itu untuk menunggu kembali di luar kamar inap seseorang. “Baik, Tuan Besar Gunawan. Saya akan meminta beberapa orang untuk menjaga di luar kamar ini!”


Tak lama kemudian, sesampainya Gunawan masuk ke dalam kamar inap itu. Pria senja yang sedang mendorong kursi roda, mendapat lontaran dari salah satu cucu kembarnya.


“Kau siapa, Kek?” Rere, cucu perempuannya itulah yang melontarkan pertanyaan.


“Aku, adalah ....”


__ADS_1


__ADS_2