Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Bertemu Dengan ....


__ADS_3

“Saya sudah menghubungi orang yang Anda maksud, Tuan Muda," sahut asisten yang membuat Morgan berdecak kesal.


“Lalu kau sudah memberitahukan pada dia tentang permintaanku itu bukan?" tanya Morgan dingin sambil memastikan.


Anggukan kepala asistennya telah membuat pria matang sejuta pesona, merasa lega karena Morgan diam-diam melakukan tes DNA, untuk membuktikan bayi dilahirkan Liora bukanlah milik bujang lapuk tersebut.


“Pergilah ke rumah sakit! Pastikan orang yang kau temui nanti menemui dokter pribadiku. Ingat jangan sampai ada kebocoran mengenai pertemuan kalian nanti. Paham!" Morgan menitah dingin.


Dia pun mendengkus kesal ketika mendengar permintaan dari Liora yang, menyuruh pria matang itu menemui bayi dilahirkan oleh wanita tersebut.


“Katakan pada wanita itu. Aku tidak punya waktu untuk menjenguk bayi-nya! Kalau dia masih bersikukuh jangan salahkan kalau, sewaktu-waktu aku bisa mengusirnya dari mansion. Bayi itu tidak ada hubungan darah apa pun denganku."


Meskipun rasa mulas menyerangnya pria matang itu tidak berhenti memberi perintah, sekaligus ancaman pada sang asisten bahwa dia benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapa pun, dan bersembunyi di suatu tempat inilah pilihan terbaik untuk Morgan Gayatri Smith.


Kau ada di mana? Kenapa sampai sekarang belum bisa menemukanmu? Aku sungguh sangat tersiksa rasa bersalah padamu. Apakah ini cara Tuhan membalas rasa perasaanku? Aku mungkin mencintai kakak iparku, dan rasa cinta itu masih membekas. Namun, entah mengapa ada perasaan lain yang merasuki relung hati ini Sweety.


Morgan sendiri merasa frustrasi bukan karena ancaman dari Liora, tapi pria matang itu begitu takut akan keselamatan nyawa dari gadis-nya.


*


*


*


Kembali lagi di rumah sakit tempat Citra di rawat, di dalam ruang operasi saat ini dokter dan perawat tengah mengupayakan, keselamatan si pasien yang hampir saja nyawanya meregang jika terlambat sedikit.


Mereka tidak menyadari si pasien tersebut, di bawah alam sadar gadis itu tengah berjalan-jalan, di sebuah tempat asing dengan pemandangan yang begitu sangat indah.


Ini di mana? Pemandangan yang menyenjukkan hati. Apakah aku sudah meregang nyawa?


Sebuah suara lembut membuat gadis yang telah menjadi, seorang ibu terkejut mendengar suara lembut yang terdengar asing.


“Maaf Anda siapa? Mengapa aku bisa berada di tempat seperti ini?" todongnya penuh selidik.


Hal tersebut membuat Rahmadiana terkekeh lucu, dengan todongan dari seorang gadis yang seusia dengan putrinya. “Belum saatnya kau datang ke tempat ini."


“Lalu apa Anda mengenal saya?"


“Mengenal tidak. Namun, dia alasanku menemuimu," sahut wanita baya, tanpa menyebut nama adik iparnya.


“Dia siapa?" beo Citra bingung.


“Mungkin kau akan terkejut mendengar, pernyataan yang ingin ku' sampaikan kepadamu."


“Apa itu? Maaf wajah Anda seperti sahabat saya Ara … apakah mungkin Anda adalah?" Sedari tadi Citra tengah menerka-nerka, wanita di hadapannya ini adalah seseorang, yang pernah diceritakan oleh sahabatnya Ara.


Wanita baya itu mengangguk yang kemudian dia melanjutkan ucapan disela oleh gadis tersebut, “aku akan lanjut yang ingin ku' sampaikan. Seperti sebelumnya aku adalah mama Ara, dan alasanku menemuimu untuk meminta maaf atas kekhilafan darinya."

__ADS_1


Dahi Citra mengernyit dia sendiri pun tidak mengerti, dengan permintaan maaf dari wanita baya itu. “Kenapa Anda meminta maaf pada saya, Tante?"


“Karena bujang lapuk itu yang membuatmu berada di tempat, tidak seharusnya kau datang."


Lidah Citra kelu ketika mendengar penuturan, dari seorang yang mengungkit kembali lukanya. “Tan … te ke … nal dengannya?"


“Tante adalah orang yang dicintai oleh dia. Maaf tidak bermaksud mengungkit lukamu. Meskipun begitu Tante berterima kasih padamu. Kedatanganmu yang tiba-tiba mulai sedikit membuatnya melupakanku."


“Itu tidak mungkin, Tan … ak …."


“Jangan merasa terbebani dengan status sosial itu, Nak … Meskipun begitu Tante tidak akan memaksamu, meminta tanggung jawabnya. Ada masa di mana kalian akan di pertemukan oleh waktu." Rahmadiana dengan suara lembutnya memahami gadis, di hadapannya ini akan menerima segala kekurangan di dalam diri adik iparnya.


“Jadi, Tan …."


“Jangan menangis Tante ingin air matamu jatuh karenanya. jadilah seorang ibu yang setangguh di karang lautan," hibur Rahmadiana. “Terima kasih telah memberiku keponakan yang lucu … aku akan selalu melihat kalian. Jika nanti kau bertemu putriku … sampaikan salam rindu pada anak itu. Maaf telah membuat dia mengambil beban berat di pundaknya."


Citra mengangguk sebelum menghilang dia merasakan pelukan hangat dan ternyata gadis itu mendapat, lampu hijau karena telah dianggap sebagai calon istri dari pria merenggut mahkota berharga miliknya.


Di luar ruang perawatan Ivone tidak berhenti berjalan mondar-mandir, sambil menunggu yang tidak berselang lama kemudian pintu itu, terbuka kembali dengan seorang dokter yang keluar dari ruangan tersebut.


“Dok, tunggu!" panggil Ivone yang tengah menghentikan langkahnya. “Bagaimana dengan kondisi sahabat saya, Dok?"


“Silakan ikut saya, Nona." Tanpa menoleh kepala dokter tersebut mengajak, keluarga pasien untuk membahas kondisi di ruang kerjanya.


Sesampai di ruang pribadi dokter tersebut Ivone kembali menodongnya, dan jawaban dari dokter yang menangani sang sahabat membuat lidahnya kelu.


Dokter tersebut menggeleng yang membuat, Ivone mendengkus kesal mendengar kondisi, sang sahabat yang dinyatakan koma setelah berjuang dengan maut.


“Untuk mereka bagaimana, Dok?" Mereka yang dimaksud Ivone, adalah bayi kembar sahabatnya.


“Maaf bisakah kita membahasnya lagi jika ibu dari bayi itu siuman, Nona?" pinta Dokter yang menangani Citra.


“Kenapa tidak memberitahukan dulu denganku, Dok?" protes Ivone dengan bibir mencebik kesal.


Setelah berdebat panjang mau tidak mau Ivone meninggalkan ruang dokter tersebut sambil bersungut-sungut, dengan pernyataan bahwa urusan masalah bayi harus menunggu sang sahabat siuman."


*


*


*


“Jadi, dia menolak menemani wanita itu melahirkan?" tanya Gunawan sambil terbatuk lirih.


“Benar, Tuan Besar. Putra Anda lebih memilih bersembunyi di tempat lain," jawab Satria.


“Lalu bagaimana dengan kabar cucuku yang dilahirkan oleh gadis itu?" Seorang cucu dimaksud oleh Gunawan, adalah bayi darikesalahan bujang lapuk itu sendiri.

__ADS_1


“Kejadian buruk menimpa cucu Anda, tuan besar," sahut Satria yang terlihat ragu.


“Katakan!" titah bernada dingin membuat Satria, sebagai mata-mata menjelaskan secara rinci.


Perihal kejadian menimpa anak kandung dari Morgan, dan sekadar info mengapa sang ayah mengetahui? jawabannya adalah mata-mata yang selama ini bertugas,


memantau perkembangan bayi di kandungan gadis tersebut.


“Lalu bagaimana dengan kondisi dari ibunya? Apakah anak nakal itu membereskan masalah ini?"


“Mengenai itu Ratu tidak terlalu mencampuri urusan mereka, Tuan Besar. Beliau hanya datang menengok sepupu kembarnya." Satria berusaha menahan tawa, sungguh sangat menggelikan bagi pria itu.


Mempunyai sepupu kembar yang masih bayi, ditambah sang ratu akan menjadi seorang ibu, hal tersebut membuat Satria ingin meledak tawa yang tertahan.


“Setelah pastikan keamanan cucu-cucuku karena aku, mendengar nyawa mereka dalam bahaya. Apa benar seperti itu, Sat?" Gunawan memastikan yang, membuat Satria menelan ludah kasar.


Bagaimana pria itu bisa melupakan hal sekecil ini dari tuan besarnya?


“Maaf, tuan besar. Mengenai itu, saya mendengar laporan dari anak buah yang bertugas … sebelumnya wanita itu telah mengetahui keberadaan calon tuan muda, sehingga hal itu membuatnya bertekad untuk melenyapkan, gadis yang selama ini dicari-cari putra Anda."


Tidak berselang lama kemudian, pria senja yang tidak lain Gunawan mengambil alih perlindungan untuk calon menantu, sebab dia tidak ingin kejadian seperti mendiang menantunya terulang kembali.


.


.


.


.


.


Rahim Sengketa


Author Asri Faris


Seorang laki-laki muncul di hadapan Ajeng. Tidak amat tampan tetapi teramat mapan. Mengulurkan keinginan yang cukup mencengangkan, tepat di saat Ajeng berada di titik keputus-asaan.


"Mengandung anaknya? Tanpa menikah? Ini gila namanya!" Ayu Rahajeng


"Kamu hanya perlu mengandung anakku, melalui inseminasi, tidak harus berhubungan badan denganku. Tetap terjaga kesucianmu. Nanti lahirannya melalui caesar." Abimanyu Prayogo


Lantas bagaimana nasab anaknya kelak?


Haruskah Ajeng terima?


Gamang, berada dalam dilema, apa ini pertolongan Allah, atau justru ujian-Nya?

__ADS_1



__ADS_2