
“Bagaimana jika kalian tinggal di tempat yang akan aku tunjuk?" cetus Ara.
“Ta … pi, La … Citra tidak mau menerima bantuan ini secara terang-terangan," ucap Ivone yang terlihat gusar.
“Dia tidak akan menolak, tenang saja jangan dipikirkan. Aku yakin sepupuku tidak akan, tinggal di tempat yang bukan tempatnya."
“Baiklah, aku akan membujuk dia untuk menerima tempat tinggal yang kau maksud."
Kedua wanita itu, terlarut dalam obrolan. Meskipun sang ratu terlihat dingin di luar, tapi ibu hamil tersebut tidak akan membiarkan siapa pun, menyentuh seseorang yang begitu sangat berharga untuk pamannya.
Tidak menutup kemungkinan nyawa sepupu dan juga sang ibu terancam bahaya dia akan, menjadikan diri sebagai penebus dosa yang dilakukan oleh bujang lapuk tersebut.
“Terima kasih banyak, La. Kalau begitu aku pamit dulu," ucap Ivone sambil berpamitan, sebab dia tidak bisa berlama-lama.
“Tidak menginap di sini?" Tawaran dari sang ratu pun, ditolak oleh Ivone.
Mengingat dia sendiri, tidak bisa tega meninggalkan Citra terlalu lama di rumah sakit.
“Maaf aku tidak bisa! Di sana tidak ada yang menjaganya, bahkan aku takut ada orang mengincarnya kembali." Pernyataan dari Ivone, membuat sang ratu memahami.
Apa yang diucapkan itu benar, nyawa ketiganya terlalu dalam bahaya. Meskipun ada para bodyguard yang menjaga Citra dan kedua bayi kembarnya.
“Untuk ke depannya aku tidak bisa menjenguk mereka … bukan berarti aku tidak mau … kau sudah memahami bahwa, kerajaan tidak bisa kutinggal sesuka hati."
Ivone mengangguk dan tidak lama kemudian kedua wanita itu berpisah, dengan dia yang akan bertolak kembali agar sang sahabat tidak mencurigainya.
*
*
*
Sementara itu, di sebuah rumah sakit dengan Kevin tengah berada di ruang bayi, untuk memenuhi permintaan dari sang putri tercinta. Di ruang bayi tersebut, mata pria baya itu berkaca-kaca pada saat dia melihat, kedua bayi kembar seperti pertama kali melihat putrinya lahir ke dunia.
“Kalian harus menjadi anak kuat dan hebat ya. Panggil saja aku Kakek, sebab mulai hari ini kalian adalah cucuku," ujar Kevin yang begitu senang, saat kedua bayi kembar tersebut merespons dengan memberi, kedipan mata seolah-olah mereka menerima kehadiran pria baya tersebut.
__ADS_1
Cukup lama memandangi kedua bayi kembar itu sampai membuat dia lupa dengan, permintaan dari sang putri dan mau tidak mau dengan terpaksa, Kevin berpamitan pada mereka dan tidak lupa berjanji akan datang kembali.
Saat ini di sebuah tempat tidak jauh dari rumah sakit berada. Kevin tenga menunggu anak buah melaporkan perihal putrinya tercinta.
“Kalian mengapa tidak mencegah dia menginap di hotel!" sentak Kevin dingin.
“Nona muda tidak tega meninggalkan sahabatnya terlalu lama, Bos." salah satu anak buah Kevin menyahut, tanpa berani mengangkat kepala karena sang bos menatap tajam.
“Lalu sekarang dia ada di mana?"
“Kami kehilangan jejak nona muda, Bos."
“Bagaimana bisa kalian kehilangan jejaknya, hah!" bentak Kevin dengan sorot mata dingin. “Aku tidak mau tahu … pastikan di bandara nanti kalian harus menemukan keberadaannya. Paham!"
“Baik, Bos. Apa ada lagi yang ingin Anda sampaikan?"
“Kau sudah menyuruh rekan-rekanmu untuk berjaga-jaga di sekitar rumah sakit ini?" jawab Kevin dengan bertanya balik.
“Mereka sudah menyebar di beberapa titik yang saya suruh, Bos."
“Ingat lakukan tugasmu dengan baik. Jangan sampai aku mendengar berita buruk, tentang putriku dan sahabatnya!"
*
*
*
Ivone sebenarnya tidak hilang, hanya saja dia memutuskan memakai pesawat seperti pada umumnya, sebab dirinya juga tidak sabar bertemu dengan kedua anak angkat tanpa sadar wanita ini telah, membuat sang papa kalang kabut mencari keberadaannya yang telah menumpangi pesawat lain.
Maafin yang terpaksa membuatmu cemas, aku melakukan ini atas kemauanku sendiri.
Sampai dia tertidur di dalam pesawat yang membawanya kembali, sambil mengingat beberapa pesan yang diminta oleh sang ratu, sampai pada akhirnya tujuh tahun kemudian di sebuah rumah sederhana.
Terdapat seorang wanita dewasa yang tengah memasak sarapan pagi, untuk kedua anak kembar yang masih terlelap di alam mimpi.
__ADS_1
Jika teringat waktu berputar banyak kejadian yang menimpa diantara mereka, sampai-sampai nyawa ketiganya terancam bahaya saat ada seseorang menginginkan kematian.
Akan tetapi, ada beberapa orang yang selalu berusaha menggagal rencana pembunuhan tersebut, semua itu tidak lepas dari pantauan kerajaan dan seorang pria yang selalu bersalah, atas keadaan yang menimpa dia pada saat kelahiran anak kembarnya tersebut.
Wanita itu adalah Citra, begitu bahagia hidup bersama kedua anak kembarnya terlepas dari kejadian menimpa dia dan si kembar, yang mana sebuah nyawa terancam tapi dirinya selalu, dibuat bingung dengan beberapa orang yang selalu menyelamatkannya.
Pemikiran wanita dewasa itu, selalu ditepis mengingat dia juga, tidak mungkin bertanya-tanya pada sang sahabat. Meskipun kenyataannya dia tidak akan bisa menolak permintaan dari Ivone.
Aroma masakkan yang tersaji di atas meja, mulai tercium di indera penciuman si kembar, bahkan tidak disadari oleh Ivone dan Citra sendiri bahwa kedua kembar tersebut, mempunyai IQ di atas rata-rata yang tidak pernah mereka perlihatkan di depan umum.
Di dalam kamar si kembar karena Citra mengubah identitas salah satu dari mereka, sehingga membuat kedua kembar tersebut saling terbuka satu sama lain.
“Semalam aku bermimpi ketemu seseorang yang mirip denganmu," ucap Rere pada kembarnya. “Aroma masakan mommy wangi sampai kamar kita."
“Aku juga sama denganmu," sahut Irene dingin.
Kedua kembar tersebut memikirkan seserong yang wajah begitu mirip dengan Irene, karena semenjak sang mommy menyembunyikan kelainan itu anak itu, merasa terjebak pada tubuh yang salah sampai teman-temannya mengatai banci.
"Apa yang kau pikirkan, Kak?" Rere yang mengetahui kelainan sang kembaran, menatap dengan raut wajah sedih.
Anak perempuan itu, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sang kakak, tidak berselang lama kemudian terdengar suara derit pintu yang dibuka, membuat mereka gelagapan mendengar langkah kaki sang mommy yang sedang mereka belakangi.
"Sudah bangun sayang?" sapa Citra. Namun, dia tidak menyadari kedua anak kembarnya, tengah menyembunyikan kesedihan yang mendalam.
"Ada apa, Ma?" sahut Rere, sambil berpura-pura menguap.
Akan tetapi, tingkah laku Rere membuat sang kembaran mencebik kesal.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Hipospadia adalah kondisi bawaan relatif jarang ketika lubang kencing ***** adalah pada bagian bawah organ.