
Sementara itu, Morgan yang masih betah menatap sorot mata kebencian di dalam diri anak itu, membuat hatinya bergetar hebat karena dia berpikir. Mengapa sorot kebencian tersebut ditujukan untuk dirinya? Apa yang sedang terjadi? bahkan pria itu merasa seperti ada ikatan batin antara mereka. Namun, semuanya ditepis sebelum membuktikan rasa penasaran di dalam diri bujang lapuk tersebut.
"Setelah kompetisi selesai suruh mereka menghadapku!" Morgan menitah dingin, tidak pandangan kedua mata pria itu, terus mengarah pada sorot mata kebencian di dalam diri anak itu.
"Baik, Tuan," jawab sang asisten pribadi, sambil mengikuti arah pandangan mata sang tuan.
Betapa terkejutnya sang asisten ketika melihat sepasang dua mata yang saling menatap dingin, bahkan dirinya dibuat penasaran dengan seorang anak yang dimaksud oleh sang tuan.
Astaga tatapan mereka kenapa bisa sama? Dilihat-lihat dari segi sisi, wajah mereka begitu sangat mirip atau jangan-jangan ... oh tidak jika dugaanku benar. Itu berarti anak yang menarik perhatian tuan adalah ....
Morgan yang tidak mendengar perkataan sang asisten, dibuat terkejut dengan pria di sebelahnya yang sedang melamun, dengan berdehem untuk membuyarkan lamunan dari asistennya.
__ADS_1
"Tuan ...."
"Apa yang sedang kau lamunkan?" Nada dingin dari Morgan, membuat sang asisten menelan ludah kasar.
"A ... nu, Tuan itu ... saya ingin mengatakan hal ini pada, Anda," ujarnya dengan terbata-bata.
"Cepat katakan!" desak Morgan dingin.
"Oh soal itu, ya? Hm ... kau benar! Anak itu seperti membenciku dan begitu sangat, terlihat jelas di dalam sorot matanya." Morgan membenarkan ucapan yang terlontar dari sang asisten.
Kedua pria itu terdiam membisu, sampai Morgan menyuruh sang asisten menyelidiki latar belakang, dari seorang anak yang menarik perhatian sang tuan.
__ADS_1
"Baik, Tuan ... saya akan meminta mereka menyelidiki identitasnya"
"Kerja bagus! Ingat informasi itu harus ada di meja kantorku besok! Apa kau paham tugasmu?" Morgan memuji tidak lupa, memberi ancaman agar sang asisten bekerja cepat.
Dalam menyelidiki latar belakang seorang anak, tidak lain Irene alias Renodio yang memancarkan sorot kebencian mendalam.
Mereka pun kembali diam sampai kompetisi berakhir dengan penampilan epik dari salah satu peserta, yang membuat Morgan terkejut melihat wajah dari seorang anak yang mengingatnya pada Citra.
Sebuah nama yang membuat Morgan tidak bisa melupakan apa pun tentang gadis tersebut. Sampai detik ini pun bayangannya terus menari-nari diingatannya, sehingga membuat pria itu memutuskan menutup hati pada wanita mendekatinya.
Akan tetapi, saat melihat raut wajah dan sorot mata itu. Pria itu seperti teringat dengan seorang anak, dengan pancaran kebencian hingga membuat kedua bola mata membulat sempurna, saat memberi praduga pada kedua seorang anak yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
Oh ****! Mengapa wajah mereka begitu sangat mirip? Satunya dengan pancaran kebencian, tapi yang ini seperti ada beban? Apakah mereka kembar? Bahkan aku merasa ada yang berbeda di dalam diri, anak yang menatapku dengan sorot mata benci. Ada apa ini? Hatiku seperti sakit dengan tatapan darinya. Andaikan aku bisa menemukan gadis itu, beserta anak-anakku yang dibawa. Apakah dia dan anakku mau memaafkan semua kesalahanku yang sudah terlambat?