
Sementara itu, Morgan saat ini sedang mengendarai sebuah mobil yang tengah di arahkan menuju apartemen pribadinya, sambil mencengkeram erat setir kemudi dengan gigi gemeretak gemuruh.
Dia tidak menduga anak yang memancar kebencian itu menolak bertemu dengan dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa anak itu menolak bertemu denganku? Bahkan tatapan kebencian dari sorot matanya, membuat hatiku serasa sesak mengingat sorot mata itu. Pancaran kesedihan diraut wajah Morgan membuatnya, tidak fokus pada laju mobil yang dikendarai oleh dirinya.
Mau tidak mau terpaksa pria matang dengan sejuta pesona menepikan laju mobil tersebut, sampai pikiran Morgan menjadi lebih tenang sambil menunggu kabar tentang pertemuannya dengan anak tersebut.
*
*
*
Sementara itu, di tempat lain dengan seorang mata-mata milik Liora sedang mengintai, target yang telah ditemukan kembali meskipun ia dan rekannya gagal, melenyapkan nyawa dari target diintai oleh mereka.
Mengingat sang nyonya memberi kesempatan untuk melenyapkan nyawa dari seseorang yang membuat nyonya-nya mempunyai dendam pribadi.
Salah satu dari mata-mata itu mengambil benda pipih untuk melaporkan perihal rencana selanjutnya, tentang target yang diintai oleh dirinya dan juga rekan yang sama-sama bertugas.
Tidak berselang lama kemudian panggilan itu tersambung dengan sang nyonya, yang begitu tidak sabar menunggu laporan darinya.
"Aku harap kau tidak memberiku laporan mengecewakan. Paham!" sentak Liora dengan nada satu oktaf.
"Saya ingin melaporkan perihal target Anda, Nyonya." Enggan membalas, tapi mata-mata itu mengutarakan tujuan menghubungi sang nyonya.
__ADS_1
"Katakan laporanmu mengenai target yang kuincar!" desaknya dengan tidak sabaran.
"Saat ini posisi target sedang berada di dalam stand makanan, Nyonya. Kali ini saya serta rekan saya tidak, melihat posisi mata-mata yang melindungi mereka ... perintah apa yang harus kami lakukan?"
Dari arah seberang ponsel dengan Liora begitu senang mendengar laporan dari mata-mata yang, tidak lain anak buahnya dan dengan pancaran dendam yang juga kebencian untuk saingannya. Wanita itu menyuruh mereka untuk melenyapkannya tanpa ada kegagalan kembali.
"Kau tahu bukan apa yang harus dilakukan olehmu dan juga rekanmu? Kali ini jangan sampai gagal melakukan apa yang kuperintahkan, atau nyawa kalian menjadi taruhannya. Mengerti!" Liora menitah sambil menyungging, senyum smirk yang terpampang di wajah wanita tersebut.
"Baik, Nyonya ... apa ada perintah lagi yang ingin Anda sampaikan?"
"Tidak ada."
Panggilan terputus dengan sang nyonya memutuskan secara sepihak, sehingga mau tidak mau ia akan mendiskusikan rencana yang diminta oleh sang nyonya.
"Jadi, itu yang membuatmu pusing, heh!" olok rekannya dengan raut wajah penasaran, setelah ia menodong berbagai pertanyaan.
"Kau tidak takut dengan nyawamu yang diujung tanduk? Jika kita berdua gagal melakukan tugas ini?"
"Takut sih tidak ... itulah risiko bila kita berdua menjadi budak nyonya. Siap atau tidak kita harus berani mengambil risiko. Seperti tidak mengetahui peringai nyonya kau ini!"
Kedua pria itu terus mengobrol sambil berdiskusi, sedangkan di tempat lain dengan Liora menampilkan senyum mengerikan.
Setelah mendengar laporan tentang target yang diintai oleh dirinya, tidak itu saja dia semakin yakin dengan rencana kali ini. Sampai membuat wanita itu tidak berhenti menampilkan senyum, serta untuk membuat Morgan pria yang tidak pernah melihat keberadaannya, menyesal telah berurusan dengan wanita seperti dirinya.
__ADS_1
Jika putriku tidak pernah kau akui, maka untuk kali ini jangan pernah berharap, untuk bertemu dengan anak-anakmu. Karena kau telah salah berurusan dengan wanita sepertiku. Akan kupastikan mereka yang membayar mahal atas penolakan darimu. Semua kulakukan untuk putriku yang tidak tersentuh. Anak-anakmu juga tidak akan bisa kau sentuh Morgan.
.
.
.
.
.
Aina Caroline, seorang wanita biasa dengan kehidupan serba sederhana. Dia mengantungkan mimpi dan harapannya sebagai seorang karyawati disebuah perusahaan besar, Rich Grup.
Kehidupan yang awalnya biasa-biasa saja, mendadak menjadi luar biasa. Skandal yang menyeret sang Atasan bernama El-barack, ikut membawa Aina kedalam mimpi buruk dalam satu malam.
Satu bulan setelah kejadian malam itu, Aina dinyatakan hamil. Hidupnya benar-benar hancur, dia di usir oleh Kakak iparnya dan harus menanggung derita itu sendiri.
After, empat tahun... mereka kembali dipertemukan dengan versi terbaik dari diri masing-masing.
"Itu adalah anakku, 'kan? Kemasi barang-barangmu, hari ini kita menikah." El-barack Alexander.
Keputusan apa yang akan diambil Aina? Setelah sempat hancur dan akhirnya kembali bangkit. Akankah dia menerima permintaan pria yang telah menghancurkan hidupnya?
__ADS_1