Belenggu Hasrat Bujang Lapuk

Belenggu Hasrat Bujang Lapuk
Rencana Bujang Lapuk


__ADS_3

“Sudah lama tuan besar mengetahui keberadaan anak kembar Anda, ditambah dengan Baginda Ratu Araela yang lebih dulu mengetahuinya.” Ungkapan yang terucap di bibir pria berbaju hitam, membuat lamunan Morgan tersentak mendengar pernyataan itu.


“Kau tak sedang membual soal laporanmu ini?” Morgan melontarkan tanya sembari berdecak kesal.


Entah mengapa ada yang tak beres dengan sikap di antara sang ayah dan keponakan tercinta, ingatannya menerawang saat bayi mungil pria itu memberikan hukuman, untuk tak berhenti mencari keberadaan sang gadis yang direnggut paksa kehormatan, dan setelah menemukan mengetahui kebenaran itu justru ia sendiri yang terlambat menyadarinya.


“Saya berkata sesuai dengan informasi yang disampaikan pada Anda, Tuan Morgan,” sahut pria berbaju hitam tanpa meragu.


Morgan kembali bungkam hingga tak lama kemudian, pria itu menyuruh anak buahnya untuk melakukan tugas dengan memberi perintah untuk menempatkan, beberapa penjaga di sekitar kamar inap tanpa disadari jika obrolan mereka, terdengar oleh Baginda Ratu Araela dengan seringai dingin pada wajah cantiknya.


*


*


*

__ADS_1


“Ini yang kuharapkan darimu bujang lapuk! Sekarang tinggal waktumu untuk merebut hati dua anak kembarmu, tapi ujianmu ada pada diri dia yang 11-12 dengan sikap dinginmu.” Di ruangan pribadi dengan Baginda Ratu Araela bergumam pelan, bersamaan suara bariton sang suami yang menyahut gumaman itu.


“Nyonya Ratu, bukankah kamu juga termasuk dengan mereka?”


Menempelkan telunjuk pada bibir untuk, menyuruh sang suami diam. “Bisakah untuk tak mencampuri urusanku lebih dulu, Bee!” Kemudian wanita itu mengingatkan Rewindra pada, kesalahan fatal yang tak bisa dimaafkan begitu saja. “Apa kau mau mendapat hukuman, seperti yang pernah kau lakukan padaku? Semua kesalahanmu masih membekas di sini.” Memukul dadanya secara brutal sehingga air matanya mengalir dengan sendiri.


Setiap mengingat kesalahan sang suami membuat hati wanita itu sakit, kesalahan yang menorehkan luka hati untuk semua orang, sampai wanita itu tak memiliki seseorang yang bisa berbagi keluh-kesah, kedua mertuanya sudah lama meninggalkan wanita itu sendiri.


“Honey, aku ....” Menggigit bibir Rewindra ikut merasakan kesedihan yang dialami sang istri, sembari menghentikan jemari lentik dan memberikan pelukan hangat, untuk meredakan emosi pada diri istrinya yang tak berhenti memukul dada, hingga pria itu terpaksa memberikan ciuman maut untuk menghentikan sang istri. “Maafkan aku yang bersikap egois tanpa memikirkan perasaan semua orang, termasuk perasaan mendiang kedua orang tuaku yang lebih memilih mati, demi bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga kita yang hampir hancur.” Menyatukan dahi sembari menatap lekat manik, mata kecokelatan dan tak berhenti meminta maaf untuk masa lalunya.


“Semua masa lalu itu sudah usai meskipun terlambat untukku meminta pada dirimu, tapi satu hal yang harus kamu ketahui jika suamimu ini sangat tertekan dengan hukuman itu, tak bisakah kau melihat seberapa besarnya penderitaanku saat jauh dari kalian?” lanjut pria itu sembari melontarkan tanya.


*


*

__ADS_1


*


“Kenapa Ayah tak memberitahukan, jika engkau mengetahui apa yang telah kusembunyikan darimu? Apakah Ayah bekerja sama dengan dia untuk menghukum?” Dua pria berbeda generasi sedang berdiskusi, dengan si bujang lapuk melontarkan pertanyaan.


“Tak ada untungnya Ayahmu bekerja sama dengan anak itu, seharusnya kau lebih memahami siapa Ayahmu ini.” Gunawan membalas dengan memberi, nada sarkas yang membuat sang putra bungkam. “Ayahmu ini hanya merasa dikecewakan oleh perlakuanmu, sudah terjebak pernikahan palsu dengan sundal. Namun, kau sama sekali enggan memedulikan gadis yang kau renggut paksa kehormatan, hingga akulah sendiri turun tangan untuk mencari gadis itu!”


Morgan tak berani melawan pernyataan yang membuat bujang lapuk itu merasa bersalah, hingga terbelenggu dalam penyesalan yang mendalam selain terbelenggu cintanya.


“Ayah, aku ....” Belum sempat bersuara, sang ayah lebih dulu menyela cepat.


“Kau tak lihat salah satu di antara mereka, menyimpan kebencian mendalam untukmu?” sela Gunawan dengan lontaran tanya.


“Aku paham, Ayah.” Morgan menyahut cepat sembari mengangguk setuju. “Apa yang disampaikan olehmu benar, jika dia benar-benar tak menyukai keberadaanku, dan asal engkau mengerti jika putramu ini tak akan pernah, untuk merebut hati mereka dan membawanya di hadapanmu!” Di hadapan ayahnya bujang lapuk itu, menggebu-gebu tentang tekadnya untuk menaklukan hati mereka.


“Tingkahmu ini justru membuatnya tertawa melihatmu.” Gunawan tergelak lucu melihat tingkah bujang lapuk itu. “Apa kau penasaran, kenapa dia bisa melihat tingkahmu?”

__ADS_1


“Apa dia datang menemuimu, Yah?” Morgan balik bertanya bersamaan, dengan ekspresi terkejutnya mengetahui jika, sang keponakan tercinta selalu mengawasinya dari kejauhan. “Bagaimana bisa itu ada di sini, Ayah? Sejak kapan dia mencuri dengar pembahasan kita?”


“Coba kau tanyakan sendiri pada keponakanmu itu!” Kemudian Gunawan kembali membahas tentang dua cucu kembarannya. “Sekarang apa yang kau rencanakan, setelah mengetahui kebenaran fakta ini?”


__ADS_2