
"Pergilah dari hadapanku!" Suara lemah yang terdengar lirih, tidak membuat Morgan segera beranjak.
Mengingat pria matang terkejut mendengar nada lirih yang diucapkan oleh pria kecil tersebut, sehingga membuat dirinya tidak bisa berkata apa pun pada saat akan membuka suara.
"Kenapa tidak mau pergi dari kamarku?" Renodio alias Irene berdecak kesal karena pria di hadapannya itu, tidak mau beranjak setelah pria kecil itu mengusirnya tanpa perasaan.
"A ... ku hanya ingin menjengukmu saja ... apakah salah?" Morgan pun memberanikan diri untuk membalas ucapan yang terlontar, dari bibir pria kecil dengan tatapan raut wajah sulit diartikan.
"Menjengukku? Atau tujuan lainmu ingin mengetahui, sesuatu yang mengganggu pikiran Anda! Bukan begitu, hm?" Masih terdengar lemah, tapi tidak membuat Renodio patah arang saat mensarkas dengan ucapan pedas yang ditodongkan, untuk seorang pria dan tidak lain pria itu adalah daddy-nya sendiri.
"Tentu saja menjengukmu," sahut Morgan.
Bahkan raut wajah pria matang itu, dibuat terkejut dengan ucapan begitu pedas yang berasal dari anak lelaki tersebut, sehingga membuat dia tidak bisa berkutik di hadapan anak kandung yang belum diketahui olehnya.
Tidak berselang lama kemudian, dengan terpaksa Morgan beranjak dari kamar inap, sebelum anak itu mengusirnya lebih jauh dari hadapannya. Bahkan tanpa perasaan bisa membuat dia yang dijuluki bujang lapuk, tidak bisa berkutik banyak di hadapan pria kecil tersebut.
Sesampainya di dalam mobil dengan sopir yang tidak asisten pribadinya itu, begitu terkejut melihat raut wajah dari tuan muda yang begitu kusut. Namun, ia sendiri tidak berani membuka suara sebelum tuannya mengeluarkan suaranya sendiri.
Ketika ia melajukan mobil yang di kendarainya, tuan muda akhirnya membuka suara dengan menceritakan, tentang seorang anak yang begitu mengusir dirinya dan tidak mau dijenguk.
__ADS_1
Hal tersebut membuat ia begitu sangat yakin jika anak lelaki tersebut, adalah tuan muda kecil yang selama ini dicari oleh tuannya tersebut.
"Tuan Muda mohon bersabarlah untuk menunggu hasil tes DNA, Anda. Saya yakin apa yang menjadi dugaan pikiran dari saya, menjadi bukti bahwa kedua anak kembar itu anak kandung Anda sendiri."
"Kau benar! Tapi, aku sangat terkejut dengan sifatnya yang begitu berani mengusirku!" sahut Morgan sendu.
Tuan muda apa Anda tidak merasa apa yang ada di dalam anak itu, tentu saja Anda sendiri semuanya berasal dari diri Anda sendiri. Saya merasa kalian berdua benar-benar tidak jauh berbeda alias Like Father Like Son. Sambil memegang setir kemudi di mana asisten pribadi Morgan sedang melajukan sebuah mobil hanya bisa, membatin di dalam hatinya karena ia tidak ingin sang tuan mengetahui isi hati yang diucapkan oleh dirinya.
Tidak berselang lama kemudian mobil tersebut telah sampai di apartemen. Bersamaan itu, Morgan menyuruh sang asisten mengambil alih kembali kerjaan kantornya, dengan dia sendiri yang ingin menenangkan diri setelah pertemuannya bersama anak lelaki, sehingga membuat pria matang itu dibuat tidak berdaya dengan mulut tajam Renodio.
*
*
*
Pertemuan kedua pria berbeda generasi membuat keduanya mempunyai pemikiran dan sifat yang begitu sama, tanpa disadari jauh di lubuk hati masing-masing tersimpan kerinduan yang mendalam.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Menikah muda memang menyenangkan, tapi menikah tanpa cinta sangat memaukkan. Saat dia membawa orang lain secara terang-terangan, menoreh luka lagi dan lagi, apakah itu masih bisa disebut kesenangan?
"Kau hanya memiliki ragaku saja, begitu juga denganku, jangan pernah menyuruhku berhenti menikmati permainanku ini karena aku sudah membelimu."
"Kumohon, sedikit saja kasihani aku."
__ADS_1