
Tidak berselang lama kemudian, Irene tertidur begitu pulas setelah dirinya berhasil menyelesaikan semua yang berhubungan dengan anak itu, di mana bersamaan itu masuklah kembali Rere yang juga selesai urusannya di luar kamar dan terkejut mendapati, sang kembaran begitu terlelap nyaman memasuki alam mimpi bahkan rasa penasaran anak perempuan itu memuncak.
Ketika dirinya tidak memahami jalan pikiran sang kakak yang terlalu menutup diri, serta sama sekali tidak mau terbuka sedikit pun bersama anak perempuan tersebut.
Meskipun mereka satu kamar yang sama, tapi sang mommy memberikan dua buah ranjang, dengan warna berbeda agar duo R merasa tidak dibedakan kasih sayang mommy tercinta.
Rere pun menyusul sang kembaran ke alam mimpi, tidak lupa anak perempuan itu berdoa dan berharap, agar dipertemukan dengan sesosok yang selama ini dirindukannya.
Pemandangan duo R terlelap di alam mimpi disaksikan oleh, sang mommy tercinta yang mengintip dari celah pintu. Citra sendiri merasa bersalah pada Renodio, sebab dia harus mengubah dan menyembunyikan identitas asli anak lelakinya.
Setelah tujuh tahun berlalu, dia sendiri masih belum bisa mengambil keputusan, tentang operasi yang dilakukan untuk sang putra karena Citra, sempat menolak bantuan dari Ivone yang sama sekali tidak pernah memikirkan diri sendiri.
Untuk itulah dia sampai sekarang enggan melakukan operasi, bukan tidak bersikap egois pada sang putra sendiri, tapi ada alasan lain yang membuat wanita tersebut tidak mau menerima, bantuan kembali dari Ivone sang sahabat tercinta."
__ADS_1
Aku harap tidak bertemu dengannya lagi. Maafkan mommy yang tidak bisa memberi kehidupan yang layak, tapi sejujurnya mommy merasa tidak pantas bersanding dengan pria itu. batin Citra dengan raut wajah sendu.
Wanita itu menghapus kasar air mata yang tiba-tiba turun dengan sendiri, tidak ingin duo R mengetahui kesedihan yang melandanya, dia memutuskan kembali ke kamar pribadi sendiri dan akan berdiam diri, untuk menekan semua ego yang selama ini bersemayam di dalam diri Citra.
*
*
*
Wanita itu tengah berada di mansion, seseorang begitu berani membawa putrinya.
Sementara pria asing yang tengah bermain dengan sang anak begitu bahagia, penantiannya terbayar sudah atas pertemuannya dengan sang putri tercinta, pada saat pria itu mendengar teriakkan dari arah luar mansion dengan gerakkan cepat menyuruh para pelayan bermain sebentar, bersamaan itu akan membereskan seseorang yang telah membuat kegaduhan di mansion miliknya.
__ADS_1
Berjalan menghampiri pemilik suara yang masih berteriak, setelah itu mereka saling bertatap membunuh, dengan pria asing itu menatap dingin ke arah Liora.
“Kembalikan dia, sialan." Liora mengumpat ulang, tanpa takut dengan sorot mata dingin.
“Aku menolak!" tukasnya dengan kedua tangan melipat di dada.
“Anak itu bukan milikmu!" Liora begitu menggebu-gebu saat mengatakan, bahwa sang putri hanya milik Morgan.
Siapa yang menduga pria itu menyuruh seseorang mengambil sebuah map merah yang dilemparkan, ke arah wanita tersebut dan tidak lupa menegaskan status sang putri bukanlah milik dari pria yang diincar Liora.
“Masih mengelak dia bukan milikku? Kau benar-benar iblis yang begitu tega, memisahkan putrimu sendiri denganku. Hanya obsesimu semata pada pria yang, sama sekali tidak menganggapmu ada. Bagaimana apa kau masih belum menerimanya, hah?"
Liora sendiri tidak menyangka jika pria yang telah memberinya seorang anak ini mampu, membungkam dengan sebuah bukti bahwa dia telah kalah telak dalam permainannya sendiri
__ADS_1