Belenggu Mawar Hitam

Belenggu Mawar Hitam
ERHAN HIDDEN VALERRIE


__ADS_3

Kondisi Iren masih belum sadar meski ia sudah dipindahkan keruang rawat inap dan hanya ada Antonius yang berjaga didalam ruangan vip tersebut.


Eylul dan Aysun berpamit pulang sore harinya untuk mengambil beberapa ganti dan meminta Antonius untuk berjaga sebentar.


Terlalu lama didalam rungan tersebut membuat Antonius menjadi bosan sesekali ia mengecek ponselnya dan email yang masuk mengenai bisnisnya dari Jackson.


drt..drt..drtt ponsel Antonius bergetar dan seketika pula melihat nama pada panggilan masuk tersebut.


Ada seberkas senyum dibibir antonius saat ia mengangkat panggilan dari Emira.


"Ada apa?kau merindukanku hemm" Ucap Antonius


"Kau dimana tiga minggu ini tidak pulang bahkan Jack yang menyebalkan itu tidak memberitahuku"


Sejenak Antonius melupakan suatu hal bahwa ia lupa memberi tahu kepada Emira bahwa Eylul masih hidup.


"Bisakah kau kenegara B kakak sedang berada dirumah sakit xxx" Ucap antonius.


"Apa yang terjadi denganmu jangan buat aku takut kau keluarga yang kumiliki kak"


"Tidak apa apa kau kemari saja bersma Jackson,sudah dulu ya kakak sedikit ada urusan" Ucap Antonius dengan segera mematikan panggilannya,saat itu tanpa sengaja Antonius melihat pergerakan jari Iren.


Dengan segera Antonius memncet tombol darurat dan tak lama seorang dokter memasuki ruangan dan mulai mengecek alat vital Iren.


"Tuan tenang saja,sekarang Nyonya sudah sadar dan lebih membaik lagi hanya membutuhkan istirahat dan nutrisi yang cukup" Ucap Dokter ramah.


Antonius hanya mengisyaratkan telapak tangannya saja tanpa bergeming dan seketika pula sang dokter keluar.


"Dasar es kutub setidaknya tersenyumlah sedikit hargai kami para petugas medis jika kau tidak mengancam akan meledakkan rumah sakit ini sudah pasti aku akan menyuntikkan sebuah virus senyum kepadamu" Ucap dokter dalam batin seraya melangkahkan kakinya menjauhi ruangan vip tersebut.


"A..air" Ucap Iren lirih namun dengan posisi mata yang masih terpejam.


Dengan sigap Antonius membantu Iren agar sedikit terduduk dan menyodorkan botol mineral yang sudah diberi sedotan.


"Minumlah pelan pelan" Ucap Antonius lembut.


Dengan perlahan Iren membuka kelopak matanya menatap kearah Antonius yang berada tepat dihadapannya.


"Kau..akhh" Ucap Iren seraya memegangi perutnya.

__ADS_1


"Hey jahitanmu masih basah jangan terlalu banyak bergerak bahkan mungkin kakimu saja masih terdapat obat biusnya" Ucap Antonius dengan tatapan hangat.


Iren mencoba menggerakkan kakinya yang terasa berat dan mencerna setiap perkataan Antonius seketika pula Iren melebarkan pandangannya dan meraba perutnya.


"Anakku dimana anakku katakan dimana!" Iren menjadi panik saat ia mendapati jahitan yang tertutup perban diperutnya.


"Tenanglah dulu tenang" Ucap Antonius seraya mendekap Iren.


"Tidak katakan dimana anakku hikss...hikss"


"Kau mau melihatnya?" Ucap Antonius dan seketika itupula isakan Iren berhenti,Iren mengangguk meskipun banyak pertanyaan yang menghampiri fikirannya.


"Kau yakin tubuhmu kuat?" Tanya Antonius mennyakinkan Irenpun kembali mengangguk.


"Tunggu disini sebentar kau mengerti" Ucap Antonius hangat dan tak lama kemudian Antonius kembali memasuki ruangan mendorong kursi roda.


Dengan perlahan Antonoius membuka selimut Iren,menggendongnya lalu memindahkan Iren agar duduk dikursi roda dengan sangat hati hati tanpa sadar pula Iren mengalungkan tangannya pada leher Antonius.


"Apakah perutmu sakit?" Tanya Antonius karena ia melihat Iren yang melipat wajahnya.


"Emm sedikit" Ucap Iren lirih


"Dimana ibu Aysun dan kak Eyl?" Tanya Iren


"Mereka sedang pulang dan mengurus yang diperlukan" Jawab Antonius santai


"Jadi mengapa kau sangat berani membawaku keluar seperti ini bagaimana jika dokter memarahi kita?" Tanya Iren penasaran.


"Jika saja mereka berani maka rumah sakit ini akan meledak" Jawab Antonoius santai.


"Kau akan membawaku kemana?"


"Kau mencari anakmu kan?"


"Hemm"


"Yasudah ikuti saja"


Hingga akhirnya mereka sampai diruang perawatan bayi setelah berdiskusi dengan perawat yang berjaga Iren dan Antonius memasuki ruangan tersebut tentunya dengan menggunakan baju steril khusus.

__ADS_1


Buliran bening kembali mengalir dari pelupuk mata Iren ia tidak menyangka bahwa saat ini yang ada dihadapannya adalah anak yang selama ini ia kandung.


Iren menempelkan telapak tangannya dibalik kaca inkubator,menatap nanar seorang malaikat mungil didalamnya.


"Mama yakin kau sangat kuat nak,bertahanlah demi mama ya sayang hikss hikss.." Diiringi isakan tangisnya Iren berucap demikian kepada bayinya.


Dan seolah mengerti dan mampu mendengar bayi Iren yang sedang tertidur pulas tersenyum tipis tanpa henti membuat Iren menangis haru.


"Kau lihat dia jagoan kecil yang sangat kuat kan" Ucap Antonius yang berdiri disamping Iren.


"Kau sudah memikirkan namanya?" Tanya Antonius.


Iren hanya diam bayangan akan Johan kembali terngiang difikirannya pasalnya selama Iren hamil mengandung buah hatinya tak banyak waktu yang ia habiskam bersama Johan bahkan sekedar merangkai nama bayi mereka saja tidak pernah dikarenakan Johan selalu sibuk dengan urusannya.


"Belum yaa boleh aku memberinya nama" Ucap Antonius dengan sedikit ragu.


Iren hanya mengangguk dengan senyum tipis menatap kearah buah hatinya yang baru lahir.


"Bagaimana kalau Erhan" Ucap Antonius.


"Itu bagus tapi-" Iren kembali terdiam saat memikirkan marga siapa yang akan dia berikan ia sendiri akan memutuskan untuk berpisah dengan Johan meskipun tidak tahu kebenaran bahwa Johan telah tiada.


Antonius yang mengerti apa yang sedang difikirkan Iren segera memikirkan ide cemerlang.


"ERHAN HIDDEN VALERRIE" Ucap Antonius secara tegas.


Irenpun menoleh kearah Antonius sambil mengernyitkan dahi seakan meminta penjelasan.


"Intinya kau bingung kan marga siapa yang akan kau pakai jadi aku sarankan untuk memakai margamu saja untuk selebihnya biar Eylul yang menjawab semua pertanyaanmu" Ucap Antonius dengan celingukan.


"Baiklah,Erhan mama harus kembali lain waktu mama akan menengokmu kau harus kuat demi mama ya" Ucap Iren saat menyadari waktu berkunjung telah usai.


"Kau harus kuat litte boy jangan buat mamamu bersedih ingar kau laki laki" Ucap Antonoius lirih disamping kaca.


Seketika Iren yang mendengar ucapan lucu dari Antonoiuspun perlahan sedikit tersenyum.


Antonius dan Iren pergi meninggalkan ruangan bayi tersebut menuju ruang rawat inapnya sendiri dan mendapati Eylul yang sudah menunggu didalam ruangannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2