
Hanya beberapa potong pakaian yang dibawa oleh Sela, yang lain sengaja dia tinggalkan untuk persiapan jika sewaktu-waktu harus kembali ke kosnya, lagi pula sudah dibayar untuk beberapa bulan ke depan, Sela merasa sayang jika secepat itu dikosongkan. Dia berniat sesekali akan menginap di sini sambil berusaha merintis usaha kecil sebagai perwujudan janjinya kepada orang tuanya.
"Mengapa tidak di bawa semua?" Ifan yang sejak tadi memperhatikan Sela yang sedang berkemas bertanya
"Sayang kalau dikosongkan secepat ini, lagi pula belum tentu juga aku akan berada di rumahmu selamanya"
"Jadi, kamu ada rencana untuk pergi dan meninggalkan aku dan rumahku?"
"Namanya juga kehidupan, harus dipersiapkan hal terburuk sekalipun, jangankan kita menikah bukan tanpa dasar cinta ataupun apa, orang tua saja rela mengusir anak kandungnya sendiri dan memilih orang lain"
"Tapi, tidak mungkin aku akan menyia-nyiakan kamu dan calon anak kita"
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, belum tentu juga aku hamil, bahkan aku berpikiran jika hamil ini hanya rekayasa darimu saja" Ifan yang mendengar perkataan Sela hanya bisa menelan ludahnya sendiri dan memilih untuk menunggu di luar kamar sembari menikmati orang yang berlalu lalang melewati kamar kos milik Sela untuk kembali ke kamar mereka sendiri-sendiri.
Selesai berkemas dan mengunci pintu kamar kos, Sela berpamitan dengan orang yang berada di samping kamar kosnya dan titip pesan jika pemilik kos menanyakannya, bisa menjawab dia hanya pergi beberapa hari dan akan kembali secepatnya dan berharap agar kamar ini tidak disewakan kepada orang lain karena dia sudah nyaman dengan tempat ini.
Ifan membuka pintu mobil dan mempersilakan Sela untuk naik, sedangkan dirinya memasukkan tas bawaan Sela ke dalam bagasi mobilnya dan bergegas menuju ke pintu mobil dan membukanya untuk dirinya sendiri.
"Kita mampir mencari makan dahulu" Ifan membuka percakapan agar suasana lebih mencair
"Aku tidak butuh makan" Sela masih menjawab dengan ketua
"Kamu memang tidak butuh makan, namun yang di dalam situ membutuhkan asupan yang bergizi" Ifan masih menggunakan alasan kehamilan Sela
"Yang tahu aku lapar atau tidak adalah diriku sendiri, bukan orang lain" Sela tersulut emosi mendengar perkataan Ifan
"Terserah kalau kami tidak lapar dan tidak mau makan, yang pasti aku akan mencari restoran untuk makan, karena perutku sudah minta diisi" Ifan tidak lagi menghiraukan amarah Sela, karena perutnya sudah kerocongan sejak siang tadi dan sekarang sudah jam tujuh malam
__ADS_1
Memasuki sebuah restoran yang memiliki tempat duduk di luar ruangan dengan dekorasi yang cukup menarik di pandang mata, Ifan mulai mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.
Sekali lagi dia mengajak Sela untuk turun dan makan sedikit. Namun Sela tidak beranjak sedikitpun. Ifan keluar sendiri tanpa mengunci mobil, dia berharap Sela mau turun dan makan dengannya.
Ifan memilih tempat duduk yang tidak jauh dari tempat parkir mobilnya. Bahkan Sela bisa melihat dengan jelas meja yang berisi makanan dan minuman yang tersaji di sana. Sela sedikit goyah dengan pendiriannya untuk menolak ajakan Ifan untuk makan. Perutnya berbunyi keras, namun untungnya tidak ada orang di sekitarnya.
Sela membuka pintu dan berjalan menghampiri meja Ifan dengan wajah masam. Mengambil minuman dan tanpa ragu segera menghabiskan air yang berada di dalam gelas tersebut. Karena memang hanya minuman Ifan yang belum sempat dihabiskan.
"Mengapa minumanku kau habiskan?" Ifan kaget dengan aksi Sela tanpa rasa malu dan jijik minum dari gelas bekasnya
"Memangnya tidak boleh, aku juga harus. Lagi pula tidak pengertian banget, mengapa pesan minum hanya satu"
"Ya sudahlah, pesan lagi saja. Mau makan tidak?" Ifan mulai melunak menghadapi Sela yang masih masam
"Terserah, tapi makan ini saja cukup kok, sudah banyak juga"
Ifan hanya memesan minuman saja, karena dia sudah memesan banyak makanan yang cukup untuk mereka makan berdua.
Ifan tersenyum melihat Sela yang makan dengan lahap tanpa ada rasa malu di hadapannya. Bahkan hampir seluruh isi piring yang ada di meja sudah berpindah ke perut mereka berdua.
"Masih mau tambah lagi?" Ifan menyodorkan buku menu pencuci mulut, ada berbagai makanan pencuci mulut yang terlihat menggiurkan dan pastinya menyegarkan untuk dipandang
Mata Sela berbinar tatkala melihat salah satu gambar yang tercetak jelas di buku menu itu, rujak es krim, entah bagaimana dia sangat menginginkannya padahal biasanya dia tidak pernah sedikitpun tertarik dengan menu tersebut.
"Boleh pesan ini?" Sela menunjuk gambar tersebut dengan mata berbinar
Ifan memanggil pelayan dan meminta dua mangkuk rujak es krim dengan ekstra es krim diatasnya.
__ADS_1
Masih sangat lahap Sela menghabiskan isi dalam mangkoknya tanpa tersisa sedikitpun
"Pelan-pelan, tidak akan ada yang memintanya darimu, kalau mau lagi boleh milikku ini kau makan" Sebenarnya Ifan tidak begitu suka dengan rujak yang terasa pedas dan asam
"Sudah, aku sudah kenyang kita pulang saja ya..." Sela beranjak dari kursinya diikuti oleh Ifan setelah dia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja sebagai bayaran dari semua makanan yang dia pesan
Menyusuri jalanan yang cukup sepi menuju apartemen milik Ifan. Karena perutnya sudah terisi makanan, Sela menyandarkan kepalanya hingga tertidur dengan pulas.
"Dimana kamarku?" ketika mereka memasuki apartemen, Sela menanyakan dia harus tidur di mana
"Di sana" Ifan menunjuk satu-satunya kamar yang berada di apartemennya
"Bukannya itu milikmu?"
"Bukankan kita sudah menikah? Tidak mungkin juga suami istri harus tidur terpisah"
"Jangan harap kita tidur di tempat yang sama"
"Kalau kamu memilih tidur di luar silakan, tapi aku tetap tidur di kamar itu"
Sela memilih tidur di sofa yang berada di luar. kamar. Dia tidak ingin berada di tempat tidur yang sama dengan Ifan.
Semua lampu sudah dimatikan selain lampu kamar yang ditempati oleh Ifan. Untuk mengurangi rasa takut, Sela menyalakan televisi dan membiarkan tetap menyala ketika dia sudah mengantuk. Namun, belum juga dia terlelap dan matanya masih memperhatikan gambar yang tersaji di televisi dia berteriak dengan keras dan berlari menuju ke kamar Ifan
"Aaaaaaaa....." Teriak Sela seraya berlari kencang
"Ada apa, mengapa teriak-teriak?" Ifanpun dibuat kaget dengan terikan Sela
__ADS_1
"Itu... disana ada....." Sela tidak bisa melanjutkan perkataannya dan memilih untuk bersembunyi dibawah selimut dan tidak ingin keluar lagi
Ifan yang dibuat bingung, keluar kamar dan menghidupkan semua lampu dan memeriksa setiap sudut ruangan, namun dia tidak menemukan apapun di sana, hanya melihat televisi yang masih menyala yang saat ini sedang menayangkan binatang reptil.