
"Kalian sebenarnya bisa kerja tidak, percuma aku membayar kalian kalau hasilnya mengecewakan" Sita melampiaskan kekesalannya setelah mendengar laporan dari orang suruhannya
"Maaf Sit, kita tidak bisa menyelesaikannya dengan baik"
"Aku tidak butuh kata maaf dari kalian, lebih baik sekarang kalian pergi dari sini"
Tidak ingin menjadi bulan-bulanan Sita, mereka meninggalkan Sita yang masih tertegun memikirkan langkah yang akan dia ambil ke depannya jika Trisna mengetahui ulahnya. Sita lebih takut jika diketahui oleh Trisna dibandingkan dengan ibunya sendiri.
Langkah gontai Sita tidak terarah, entah sampai di mana langkahnya kali ini. Dia masih memikirkan dimanakah malam ini dia akan beristirahat dengan tenang. Meskipun Ifan tidak akan mungkin mencurigai dirinya, namun orang-orang suruhan mereka pasti akan mencari cara untuk menemukan pelaku yang sebenaenya.
Sita melangkahkan kakinya ke sebuah kafe dia puluh empat jam, menghabiskan malam di sana dengan menyewa sebuah ruangan ditemani dengan beberapa botol minuman dan beberapa makanan.
"Dasar br*ngsek, mengapa begitu sulit jalanku untuk mendapatkan semua keinginanku" Teriakan Sita menggema di sudut ruangan untungnya dia berada di sana sendiri
Lelah yang kini dirasakan oleh Sita membuatnya sudah tidak mampu membuka matanya lagi.
Diwaktu tengah malam, Bu Marni kebingungan mencari keberadaan anak perempuannya. Peristiwa yang menimpa Sela dan Ifan sudah sampai ke telinganya. Beliau khawatir anaknya ikut terlibat dalam masalah tersebut.
Telephon yang berdering membuatnya terkejut dan bergegas mengangkatnya tanpa melihat identitas penelphone.
"Iya, selamat malam" Sapa Bu Marni
"Marni, kamu harus menuju rumah sakit sekarang juga, bantu aku menjaga Ifan dan Sela"
Sudah bisa ditebak oleh Bu Marni siapa yang saat ini menghubunginya. Teisna sendiri saat ini sedang berada di luar kota karena sebuah bisnis dan baru berangkat sore tadi, hingga membuatnya tidak bisa segera kembali ketika mendengar anak dan menantunya mengalami kecelakaan.
Bu Marni memanggil taksi online, menuju ke rumah sakit yang disebutkan oleh Trisna, menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari kamar yang ditempati oleh Ifan dan Sela.
__ADS_1
"Mas Ifan, bagaimana kabar mbak Sela?" Bu Marni telah melihat kondisi Ifan yang sudah membaik, berani bertanya mengenai keadaan Sela yang belum terlihat
"Sela masih dalam perawatan intensif oleh Dito"
"Mudah-mudahan semuanya baik-baik saja" Bu Marni menguatkan Ifan yang terlihat sangat sedih
Sela memang tidak terluka parah, namun karena berlari cukup jauh membuat kandungannya sedikit bermasalah, apalagi saat ini usia kehamilannya masih muda.
Dito keluar dari dalam sebuah ruangan khusus. Menghampiri Ifan yang sedang duduk termenung pada sebuah bangku panjang di luar ruangan. Dito menepuk bahu Ifan
"Fan, sabar ya... Semua kejadian ini pasti akan memberikan dampak yang lebih baik ke depannya"
"Apa maksudmu, tidak terjadi sesuatukan pada mereka?" Siapapun yang mendengar perkataan seperti itu pasti akan terpukul begitu pula Ifan
"Sabar Fan, mereka baik-baik saja. Besok pagi kalian sudah bisa pulang"
"Terima kasih, kamu telah bekerja keras untuk kami" Hanya kata-kata melo yang keluar dari mulut Ifan. Bahkan baru kali ini Dito mendengar perkataan sahabatnya yang benar-benar sangat frustasi namun lebih bersemangat
Ifan menemani Sela yang terbaring di ranj*ng rumah sakit, jarum infus yang melekat di tangannya merupakan sebuah pemandangan yang sebenarnya tidak ingin Ifan lihat. Tangan mereka saling bertaut mengisyaratkan keduanya saling menguatkan.
Bu Marni tidak diijinkan oleh Dito untuk masuk ke ruangan Sela, setelah menerima telepon.
"Maaf Bu, lebih baik anda pulang saja, Sudah ada mobil yang menunggu ibu di luar" Dito sengaja meminta salah satu anak buahnya untuk bersiap di depan rumah sakit untuk mengantarkan Bu Marni kembali ke rumahnya
"Maksud dokter apa? Saya ditugaskan oleh Bi Trisna untuk menjaga mas Ifan dan juga mbak Sela" Bu Marni tidak mau meninggalkan rumah sakit dengan alasan dia mendapatkan tugas dari orang tua Ifan
Kemarahan yang sudah Dito tahan sejak menerima telepon kini semakin memuncak ketika mendapatkan penolaka dari Bu Marni.
__ADS_1
"Lebih baik Bu Marni mencari anak ibu sendiri, sebelum polisi menemukannya" Ancaman Dito kali ini membuat Bu Marni ketakutan dan memilih untuk segera menuju pintu keluar rumah sakit.
Bu Marni memilih untuk mencari transportasi umum, tujuannya malam ini bukanlah rumahnya, melainkan ke tempat yang biasa didatangi oleh anaknya ketika sedang merasa tertekan. Hal itu diketahui oleh Bu Marni karena sudah menjadi kebiasaan anaknya semenjak menduduki sekolah menengah atas.
Bu Marni menutupi wajahnya dengan selendang, menghindari tatapan orang-orang yang berada di kafe tersebut. Apalagi Bu Marni melihat beberapa orang berpakaian polisi juga berada di dalam sana sedang melakukan patroli dan mencari sesuatu.
"Semua pengunjung, jangan ada yang keluar ataupun berpindah tempat, kami dari kepolisian sedang mencari seseorang" Salah satu petugas memberikan instruksi
Tidak ada yang berpindah tempat sama sekali, semua pengunjung patuh mendengarkan para petugas dan membiarkan melakukan pemeriksaan terhadap mereka. Setiap ruangan juga tidak luput dari penyisiran.
"Tinggalkan tempat ini" Pemimpin kepolisian menginstruksikan untuk meninggalkan tempat ketika tidk menemukan sosok yang mereka cari
Bu Marni heran, karena para petugas tidak menangkap anaknya, yang sepengetahuannya pasti berada di salah satu ruangan yang berada di kafe ini.
"Kemana dia pergi? Mengapa mereka tidak menemukan Sita, atau mereka sebenarnya tidak mencari anakku?" Beberapa pertanyaan muncul di benak Bu Marni mengenai keberadaan anaknya
Bu Marni segera menuju ke sebuah ruangan yang biasa menjadi tempat anaknya menghabiskan waktunya jika tidak mau pulang ke rumah.
Ruangan tersebut kosong, bahkan terlihat sangat bersih tanpa ada jejak seseorang yang berada di dalam sana.
Bu Marni segera meninggalkan kafe, setelah memastikan sekali lagi anak perempuannya tidak ada di sana.
"Sial, mengapa pergerakan mereka secepat ini" Sita buru-buru meninggalkan kafe dan meminta salah satu pegawai kafe untuk membersihkan ruangan yang dia gunakan setelah mendengar suara mobil polisi yang datang ke kafe tersebut
Sita masih berada di jalanan ketika bu Marni melihatnya. Meskipun Bu Marni tidak suka dengan perbuatan Sita, namun naluri seorang ibu untuk melindungi anak-anaknya tidak akan pernah berkurang.
Tangan Sita ditarik kuat oleh Bu Marni, agar segera masuk ke dalam mobil yang dia tumpangi.
__ADS_1
"Ibu, mengapa ibu ada di luar di waktu hari sudah lebih dari tengah malam bukannya harusnya ibu istirahat di rumah. Dan jangan harap aku akan mendengarkan semua perkataan dan permintaan ibu, hanya karena ibu telah membantuku malam ini"