
Ifan tidak kembali ke kantornya. Dia memilih untuk menghabiskan waktu bersama Sela. Semenjak Sela mengetahui identitas Ifan, Sela selalu ingin berada di dekatnya, seperti saat ini mereka masih berada di atas ranj*ng dengan tangan kanan Ifan menopang kepala menghadap ke arah Sela sedang tangan kirinya sibuk mengusap lembut perut Sela yang sudah sedikit bertambah besar.
Mereka sudah tidak sabar menantikan kelahiran anak mereka, yang awalnya Sela kira tidak diinginkan oleh Ifan.
"Kok belum ada yang gerak-gerak" Beberapa saat tangan Ifan berada di atas perut Sela, namun dia tidak merasakan apapun
"Memangnya mas tidak merasakannya?"
"Tidak"
"Tadi perut Sela gerak, tapi karena lapar" Sela berbicara dengan manja, meletakkan dagunya di dada bidang Ifan, yang kini sudah berubah posisi telentang
Mendengar perkataan Sela, Ifan baru ingat ketika dia kembali dari kantor tadi dia membeli sesuatu untuk Sela yang saat ini masih berada di dalam mobilnya.
"Lapar ya.... Mas punya sesuatu untuk kamu" Ifan bangun dari tidurnya dan hendak mengangkat tubuh ramping Sela tetapi ditolak oleh Sela
"Kenapa?" Mendapatkan penolakandari Sela, membuat Ifan sedikit kecewa. Awalnya dia akan mengira Sela akan sangat senang jika mendapatkan treatment seperti itu, namun pada kenyataannya semua diluar kendalinya
"Sela harus banyak gerak Mas.... supaya tubuh dan yang ada di perut tetap sehat"
"Oh... Baiklah tetapi pelan-pelan ya.... jangan sampai jatuh"
Wanita mana yang tidak akan bahagia mendapatkan perlakuan istimewa dari seorang laki-laki. Begitu pula Sela, namun karena di sadar sudaj beberpa hari tidak banyak berolah raga bahkan tadi juga sudah diperingatkan oleh Dito agar lebih banyak gerak agar tidak membengkak di anggota tubuh tertentu terutama kaki.
Ifan menuntun pelan menuruni tangga apartemennya, kamar yang berada di lantai atas kini membuatnya sulit untuk melakukan aktifitas sebebas dahulu, dia mulai memikirkan akan berpindah ke rumah saja. Namun saat ini mereka belum punya rumah sendiri.
"S*yang, kamu tunggu di sini sebentar, aku ambilkan dulu makanannya" Ifan meninggalkan Sela yang kini sudah duduk di sofa mengambil makanan yang dia janjikan untuk Sela
Ifan kembali masuk ke dalam setelah mengambilnya, dan mempersiapkannya di meja dekat Sela. Mereka menikmati makan siang yang sederhana, diselingi dengan canda tawa.
"S*yang, setelah ini kamu ikut aku ya... ?"
__ADS_1
"Kemana?"
"Katanya kamu mau olah raga, anggap saja olah raga"
"Hm..." Setelah mendapatkan makanan, Sela sudah tidak lagi memikirkan hal lainnya, bahkan apa yang dibicarakan Ifan barusan tidak dia cerna sedikitpun
*****
Tania melihat atasannya meninggalkan perusahaan saat belum waktu pulang memiliki beberapa pertanyaan dibenaknya. Tidak biasanya para petinggi perusahaan meninggalkan perusahaan bersamaan.
"Aku harus mencari informasi mengapa mereka meninggalkan bersamaan, menurut jadwal tidak ada pertemuan dengan klien di luar" Tania memikirkan siapa yang akan dia tuju untuk mendapatkan jawaban
Karena rasa ingin tahu Tania sangat besar dia berpura-pura mengetuk ruangan Ifan yang berada tidk jauh dari Ruangan Sita, dia berharap Sita keluar dan memberikan informasi keberadaan Ifan. Namun, sudah beberapa saat orang yang diharapkan tidak kunjung keluar. Sayup-sayup terdengar suara dari dalam, membuat Tania penasaran mengenai pembicaraan yang terjadi di sana.
Tania mendekatkan telinganya tepat di depan pintu kayu yang tertutup rapat. Terdengar jelas Sita sedang melakukan panggilan telepon, karena tidak ada suara lain yang terdengar selain Sita.
"Pokoknya aku minta kamu mengerahkan anak buahmu untuk membantuku. Aku tidak mau mendengar alasan apapun"
"Ada apa?" Sita mengernyitkan dahinya melihat ada seseorang yang berdiri di depan pintu ruangannya
"Tidak mbak, cuma mau tanya saja" Tania gelagapan mendengar pertanyaan Sita
"Begini mbak, saya mencari Pak Ifan karena ada berkas yang harus ditanda tangani, apakah mbak Sita tahu dimana Pak Ifan berada. Saya tadi sempat mengetuk pintu ruangan beliau tetapi tidak ada sahutan dari dalam" Tania menjelaskan
"Cari saja sendiri" Sita pergi meninggalkan Tania yang masih mematung di tempatnya semula, dia mengira akan mendapatkan apa yang dia inginnya, namun kenyataannya berbanding terbalik
Tidak mendapatkan informasi yang diinginkan, Tania segera kembali ke tempatnya, dan segera menuju ke kantin setelah waktu istirahat telah tiba. Kebetulan Sita juga ada di sana, membuat keadaan di kantin sangat gaduh. Mereka masih membicarakan Sita yang sampai saat ini masih bertahan di perusahaan ini meskipun semua orang telah mengetahui kebenaran mengenai kejadian yang menimpanya.
Tingkah Sita yang tidak terganggu sama sekali dengan perkataan orang-orang, membuat mereka berisik ngeri. Mereka mengira Sita memiliki orang di belakangnya yang lebih kuat dibandingkan Ifan.
"Bagaimana bisa, dia setenang itu, padahal beritanya sudah menyebar ke seluruh penjuru perusahaan" Salah satu dari mereka berkomentar
__ADS_1
"Mungkin orang di belakangnya lebih hebat dibandingkan Pak Ifan" Sahut lainnya
"Bisa jadi, dia simpanan salah satu pemegang saham perusahaan ini"
Dan masih banyak komentar miring mengenai Sita mengenai keberadaannya yang seolah tidak tergoyahkan di perusahaan milik Ifan.
Sita masih saja cuek mendengar pembicaraan orang-orang yang dia anggap tidak ubahnya sampah-sampah berserakan yang harus dia bersihkan suatu saat nanti. Menikmati makanan dalam diam.
"Tania, duduk sini" Sita memanggil Tania yang masih berdiri mencari tempat duduk kosong
Karena sudah tidak ada lagi kursi kosong, dengan terpaksa Tania menuju meja yang ditempati oleh Sita sendirian. Tidak ada yang berani mendekatinya.
"Mengapa mereka semua memperhatikan aku sih?" Bisik Sita ketika Tania sudah duduk di depannya
"Tidak tahu" Tania juga harus menjaga lisannya agar tidak terjadi sesuatu dikemudian hari, sedikit banyak Tania juga mengetahui gosip yang beredar entah bagaimana kebenarannya
Sita tidak lagi bicara setelah mendapatkan jawaban Tania yang kurang memuaskan.
"Eh tunggu" Sita tiba-tiba menghentikan langkah Tania yang sudah beranjak pergi meninggalkan bangku mereka
"Aku mau bertanya sedikit"
Tania kembali duduk, bersiap mendengarkan pertanyaan yang akan diajukan oleh Sita.
"Kamu tahu kan, gosip di perusahaan ini yang mengatakan jika Bos kita sudah menikah? Aku dengar kamu sahabatan dengan gadis itu"
Tania mengulum air liurnya beberapa kali mendengar pertanyaan itu, bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab, namun salah sedikit dia bisa tidak selamat, jika dia menjawab iya sudah pasti akan menjadi sasaran Sita ke depannya, namun jika menjawab tidak pastinya pemilik perusahaan yang akan mengusirnya. Serba salah kini menghantui Tania.
"Kamu tidak dengar pertanyaanku?" Sita menaikkan suaranya satu oktaf membuat Tania berisik
"Saya memang mengetahui gadis itu, tetapi aku tidak begitu dekat dengannya" Jawaban yang sangat kurang valid
__ADS_1
"Pergi....!!!!!" Bentak Sita kepada Tania