
"Cel, untuk saat ini Om tidak mau berdebat denganmu, lebih baik kamu pulang dahulu dan Om akan segera mencari informasi sesuai dengan petunjuk yang engkau peroleh" Prabu tidak ingin membuat keadaan semakin buruk jika dirinya harus berkata lebih keras lagi kepada Marcel
"Aku tunggu janji Om" Marcel keluar dan membanting pintu dengan cukup keras
Setelah kepergian Marcel, Prabu keluar menemui istrinya yang sedang di kamar bersiap untuk pergi arisan dengan teman-teman sosialitanya yang sudah menunggu dan menelphonnya beberapa kali dan sempat dia abaikan.
"Ma, sepertinya kita harus bicara terlebih dahulu" Prabu mendekati meja rias milik istrinya dan berbicara lembut
"Bicara apa Pa, kalau tidak terlalu penting kita bicarakan setelah mama pulang dari arisan, saat ini mama sudah ditunggu teman-teman di cafe. Kalau penting sekarang papa bisa bicara dan mama akan mendengarnya sambil bersiap-siap" Sarah tetap memoles wajahnya yang semakin lama semakin bersih dan bersinar
"Begini, Marcel tadi menemui Papa... " Belum selesai bicara Sarah sudah memotongnya
"Maaf Pa, mama harus segera pergi. Kita lanjutkan setelah mama pulang" Sarah meninggalkan kamar dan keluar dari rumah mengendarai mobil yang belum lama dibelikan oleh Prabu sebagai hadiah ulang tahunnya
Prabu hanya bisa mendengus kesal memperhatikan langkah sang istri yang kian menjauh. Tidak dipungkiri memang sebenarnya yang berkuasa di rumah Prabu adalah Sarah, Sarahlah sebenarnya orwaris perusahaan yang kini dipimpin oleh Prabu, jadi apapun yang dilakukan oleh Sarah, Prabu seolah-olah tidak memiliki kuasa dan hanya bertindak sebagai pesuruh saja.
Banyaknya pikiran membuat Prabu memutuskan untuk meninggalkan sejenak semua pekerjaannya, mengunci pintu rumah dan mencari udara segar di luar sana. Semenjak dia diberi kepercayaan untuk memimpin perusahaan dia tidak pernah meninggalkan pekerjaannya yang tidak ada habisnya.
"Jus jeruk satu dan juga kentang goreng" Prabu hanya memesan makanan itu, karena sebenarnya dia juga sudah kenyang, dia keluar hanya ingin melihat suasana di luar rumah dan kantor saja
Prabu yang datang sendiri ke kafe, tidak ada yang diajak untuk berbicara, di hanya memperhatikan satu persatu pengunjung di sana, dalam hati dia berharap bisa bertemu dengan anak perempuan satu-satunya yang beberapa minggu ini mereka tidak pernah berjumpa.
"Selamat malam Pak" Sapa seorang anak muda dengan membawa minuman dingin ikut duduk di meja yang sama dengan Prabu
"Boleh saya ikut duduk di sini?" Pemuda itu meminta ijin dengan hormat
"Silakan" Prabu mempersilakan pemuda itu untuk duduk di kursi kosong yang ada di mejanya
Dalam beberapa menit, tidak ada pembicaraan lagi diantara keduanya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Sendirian saja Nak?" Prabu mencoba mencairkan suasana
"Iya, seperti yang bapak lihat, apakah bapak juga sendirian?" Pemuda itu malah balik bertanya
"Hmmm, hanya ingin melepas penat" Mereka kembali membisu setelah berbincang sedikit
Pemuda itu mengambil handphone dari dalam sakunya dan melakukan sebuah panggilan, karena lingkungan yang bising, dia mengeraskan volumenya dan tentu saja bisa di dengar oleh Prabu suara yang berada di seberang sana. Prabu hanya tersenyum simpul mendengar suara itu, suara yang sangat dia kenal, tapi tetap ditolaknya karena tidak mungkin itu suara yang dia rindukan.
"Pacarnya?" Tanya Prabu ketika pemuda itu sudah memasukkan kembali ponselnya
"Istri, dia istri saya. Kenalkan nama saya Ifan" Pemuda yang berada di depan Prabu memperkenalkan diri
"Prabu" Sambutan dengan jabatan tangan diantara keduanya
"Sudah lama menikah?" Lanjut Prabu
"Belum, baru beberapa hari" Jawab Ifan singkat
"Dia sedikit terluka karena perlakuan seseorang yang sangat dia kenal" Jawab Ifan
"Saya sebenarnya hanya mencari sesuatu yang dia butuhkan dan akan segera kembali" Lanjut Ifan
Prabu dan Ifan berbincang-bincang cukup lama, awalnya tujuan Ifan hanya sebentar tetapi kenyataannya memakan waktu yang tidak sedikit. Namun, karena terigan Sela sendirian di apartemen, Ifan memilih undur diri meskipun mereka sangat cocok ketika membicarakan sesuatu.
"Maaf, sepertinya saya harus pulang terlebih dahulu, kasihan istri saya sendirian di rumah" Ifan berpamitan dan menjabat tangan Prabu dengan hormat
"Oh, silakan... Maaf malah saya ajak bicara terus"
"Tidak apa-apa, sekali lagi saya yang harus meminta maaf terutama kepada istri anda karena Nak Ifan sudah menemani saya di sini" Lanjut Prabu
__ADS_1
"Bolehkan, saya menitipkan sesuatu untuk istrimu?" Prabu bertanya lagi sebelum Ifan meninggalkannya
"Boleh, asalkan bukan barang terlarang" Ifan tidak bermaksud menyidir Prabu, dia hanya berjaga-jaga
"Bukan, hanya sesuatu yang menurut saya sangat berharga, dan saya rela memberikannya untuk istrimu"
"Ini, tolong sampaikan maafku kepadanya, karena waktumu yang harusnya bersamamu malah kamu di sini menemaniku"
Prabu menyerahkan sekotak coklat almond kesukaan Sela sejak masih kecil hingga dia dewasa. Prabu selalu membelikannya meskipun anak gadisnya itu sudah dewasa
"Coklat blok?" Ifan mengernyitkan dahinya melihat barang yang diberikan oleh seorang laki-laki dewasa yang keluar rumah dengan membawa coklat blok dengan ukuran yang tidak kecil
"Jangan kaget, sebenarnya itu adalah milik anak perempuanku, yang harusnya sudah dia habiskan malam itu, namun karena kesalahanku kini dia pergi dari rumah higga sekarang belum kembali. Mubadzir jika tidak ada yang memakannya, saya harap istrimu juga suka dengan coklat almon" Prabu menjelaskan mengapa dia memberikan coklat itu
"Bagaimana jika, anak anda pulang sewaktu-waktu?" Tanya Ifan
"Mungkin dia tidak akan pernah memaafkan papanya, yang tidak pernah membelanya. Mungkin juga dia tidak akan pernah kembali ke rumahnya lagi, meskipun saya sebagai papanya masih sangat merindukannya" Prabu meneteskan bulir air yang sudah tidak bisa dia tahan lagi, mengingat putri kesayangannya yang sudah pergi meninggalkannya
"Terima kasih, Mudah-mudahan istri saya menyukainya" Ifan berpamitan sekali lagi dan cepat-cepat kembali ke apartemennya
"Mudah-mudahan kita bisa mengobrol lagi lain waktu dan tidak hanya kita berdua tetapi dengan istrimu juga" Prabu berbicara cukup keras agar bisa di dengan oleh Ifan yang sudah berjalan menjauh darinya
Ifan hanya menganggukkan kepalanya disertai senyuman sebagaimana jawaban atas ajakan Prabu.
Berjalan menyusuri jalanan, Ifan kembali ke apartemen yang berada tidak jauh dari bangunan yang menjulang tinggi dengan kerlap-kerlip lampu disetiap kotak yang berjajar rapi dan sejenis.
Ifan mendapati istrinya yang masih duduk menghadap ke benda layar datar yang sedang menayangkan sebuah berita dunia, dan tidak menyadari akan kedatangannya.
"Ada apa sih, asyik benar.... Semenarik itu hingga ada orang masuk tetapi tidak menyadarinya" Batin Ifan sambil berjalan mendekati sofa coklat panjang itu
__ADS_1
"Mau tidak?" Ifan menyodorkan coklat blok dengan merk yang sangat Sela kenali
"Kamu yang beli?" Tidak mungkin jika Ifan tahu dimana coklat itu biasa dibeli oleh ayahnya, karena hanya satu toko di kota ini yang menjualnya, sedangkan toko tersebut berada di lokasi yang cukup jauh dari apartemen milik Ifan