
"Aku sangat bersyukur Mas...?"
"Untuk.... ?"
"Aku bersyukur karena memiliki mas, orang yang selalu menjaga dan melindungiku"
Mereka masih berbincang setelah menikmati makan malam, mereka membicarakan banyak hal sampai mereka terlelap di sofa panjang depan televisi.
Pagi hari ketika Ifan sampai di kantornya, Fandi segera menyusulnya untuk melaporkan semua peristiwa yang terjadi kemarin dengan detail.
Fandi mengatakan jika penculikan tersebut adalah rencana dari Sita, para penculik mendapatkan imbalan dari Sita yang tidak sedikit jumlahnya. Bahkan dari pemimpin penculik mengatakan jika mereka berhasil mengelabui Ifan, maka apapun akan diberikan termasuk imbalan tub*hnya.
"Dasar wanita murahan" Ifan sangat marah mendengar semua itu, akibat tidak mau melawan keinginan Mamanya malah berakhir seperti ini
"Kamu harus ikut aku sekarang"
Fandi mengikuti jejak langkah Ifan yang lebih dahulu berjalan keluar meninggalkan ruangannya. Fandi tidak tahu mau dibawa dia saat ini, yang pasti mereka akan keluar kantor karena langkah Ifan menuju ke tempat parkir.
Memasuki mobil dan Ifan segera melakukannya ke jalan raya. Ingin segera sampai di tempat tujuan, Ifan mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tidak rendah. Dia ingin segera menumpahkan segala kekesalannya yang hampir membuat kepalanya pecah, karena ulang perempuan yang tidak tahu terima kasih.
"Fan, hati-hati aku belum menikah" Fandi berpegangan erat pada dasbord
"Kalau kamu tidak bisa diam, bisa jadi kita sudah beda alam, tenang dan banyak berdo'a agar kamu masih bisa menikmati indahnya pernikahan" Ifan mendapatkan hiburan tersendiri dengan melihat wajah Fandi yang sangat panik
Tujuannya kali ini adalah butik tempat Trisna, dia tidak ingin menemui mamanya di rumah, takutnya semua yang akan dia bicarakan terdengan oleh Bu Marni yang saat ini berada di rumah Trisna, sebelum bertugas membersihkan apartemen Ifan setelahnya.
"Mama ada?" Ifan bertanya pada salah seorang yang sangat dipercaya oleh Trisna untuk bertanggung jawab sebelum dia datang
"Ibu belum datang, mungkin sedikit terlambat. Kata ibu baru ada tamu di rumah"
__ADS_1
"Tamu apa sepagi ini sudah berada di rumah orang lain?" Ifan sangat curiga dengan tamu yang datang pada jam yang tidak seharusnya bertamu, mereka biasanya sudah tahu waktu untuk berkunjung ke rumahnya
Ifan dan Fandi menuju ke ruang pribadi milik Trisna, sambil menunggu kedatangan mamanya mereka membicarakan mengenai bisnis mereka yang bekerja sama dengan Marcel.
Mereka mempunyai tujuan tersendiri dengan bekerja sama dengan Marcel. Kerja sama tersebut sudah mencapai lima puluh persen.
"Bagus, lebih cepat selesai lebih baik, kamu harus lebih kooperatif dengan mereka, jangan sampai mereka tahu ada aku di dalamnya"
"Ada apa ini, tumbel kaliah sudah ada di sini, Memangnya perusahaan kalian tidak ada pekerjaan?" Trisna mengagetkan mereka berdua yang sedangbfokus membicarakan bisnis
"Mama tidak lihat saat ini kami sedang bekerja?"
Trisna meminta asistennya untuk membuatkan mereka minum dan menyediakan beberapa makanan ringan. Ifan menceritakan peristiwa yang terjadi kemarin di kantornya, yang membuat heboh jagad dunia maya.
"Bukannya yang paling menghebohkan pemberitaan mengenai pengakuan statusmu saat ini?"
"Ma, memang hal itu yang paling menghebohkan. Mama pasti sudah membaca beritanya dan jangan berpura-pura tidak tahu"
"Mama harus mempercayai siapa? kamu atau Sita? Mama tahu kamu sangat tidak menyukai Sita, tetapi jangan sampai kamu membuat berita yang sangat merugikan Sita dan membuat dia jelek di mata mama"
"Terserah mama mau percaya dengan siapa, yang pasti jangan salahkan Ifan jika di masa mendatang terjadi sesuatu yang pastinya akan mengejutkan mam"
Ifan tidak ingin berdebat lagi dengan mamanya, karena sepertinya tamu tadi pagi adalah Sita yang sudah mengadu dengan dalih cerita yang dia buat. Seolah-olah dialah yang paling benar.
Fandi tidak mengira jika reaksi mamanya Ifan seperti itu. Bahkan sangat mempercayai cerita dari Sita yang dibuat-buat.
"Bagaimana bisa seperti itu?"
"Maksudnya?" Ifan tidak mengerti arah pembicaraan Fandi
__ADS_1
Fandi berterus terang penilaian tentang mamanya Ifan yang sangat mempercayai orang lain melebihi kepercayaan terhadap anaknya sendiri. Bahkan terkesan meminta bukti yang bisa menguatkan argumentasi dari Ifan.
Sebenarnya bukti-bukti tentang penculikan kemarin sudah ada di tangan Fandi, namun celakanya semua itu tidak terbawa karena mereka berdua perginya tergesa-gesa dan Fandi belum mengetahui tujuan mereka meninggalkan kantor.
"Akan aku kirimkan bukti-bukti yang sudah ada di tanganku"
Ifan mencegahnya dan tidak ingin dia mendapat penilaian dari mamanya yang terkesan mencari pembelaan dari orang tuanya untuk mengusir orang yang tidak dia sukai.
Mendapatkan penolakan dari Ifan, Fandi hanya bisa mengalah, apapun yang akan mereka lakukan mengenai Sita, pasti hanya akan mendapatkan penilaian yang kurang baik dari Trisna, lebih baik mereka menunggu pihak berwajib melakukan penyelidikan, meskipun mereka memiliki banyak bukti jika penculikan itu hanyalah rekayasa belaka.
****
Sarah mencari kebenaran mengenai putrinya yang kini sudah bersuamikan seorang pengusaha muda yang sukses. Dia menemui beberapa orang kenalannya dan menanyakan kebenarannya.
Sebagian besar yang ditanyainoleh Sarah mengatakan jika mereka hanya tahu dari berita yang mereka baca dan tidak mendengarnya secara langsung. Untuk mempercayainya baru lima puluh persen saja.
"Bagaimana bisa kalian tidak mengetahui kebenaran berita tersebut, kalau benar kalian adalah mitra darinya harusnya mendapatkan undangan saat mereka menikah" Sarah tidak percaya jika seorang pengusaha tidak mengundang banyak orang ketika menikah, apalagi mereka adalah kolega-kolega besar
"Kami memang tidak menyaksikan langsung, jadi kami tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan untuk anda"
Sarah masih belum putus asa untuk mendapatkan informasi yang lebih valid. Menghubungi beberapa rekan orang tuanya terdahulu yang merupakan para pengusaha hebat di kota ini. Kalau memang Ifan adalah pengusaha ternama saat ini, harusnya mereka juga bekerja sama dengannya.
Tidak ada yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan bagi Sarah, untuk sementara waktu Sarah tidak percaya dengan berita yang sedang trending di jagat maya, menurutnya foto bisa saja dibuat dan diedit.
Dalam perjalanannya Sarah bertemu dengan Tania.
"Tania" Sarah memanggil Tania, baru kali ini Sarah memanggil Tania dengan lembut
"Ya Tante" Tania berlari menghampiri Sarah yang sedang duduk di depan sebuah mini market sambil menikmati minuman dingin yang baru saja dia beli
__ADS_1
Sarah menanyakan hal yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Kali ini dia mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkan.
"Bagaimana bisa kamu bekerja di kantor Ifan tetapi baru tahu juga dengan status pemilik perusahaan"