
Di kantor semua karyawan membicarakan mengenai penyiapan sebuah ruangan yang berada di dekat ruangan Ifan, mereka mengira ruangan itu pasti disiapkan untuk pacar atau bisa jadi calon istri Ifan.
Begitupun Tania yang baru melihat ada sebuah ruangan yang dipersiapkan secara mendadak bahkan langsung diawasi oleh pemilik perusahaan pasti bukan orang sembarangan. Hal itu membuat nyali Tania menjadi ciut untuk tetap mengincar Ifan untuk menjadi miliknya.
"Belum juga niatku berhasil tapi sudah ada kandidat kuat" Keluh Tania yang berfikir sudah tidak ada kesempatan lagi. Dia terduduk dengan lemas memperhatikan ruangan yang tertata rapi tersebut, di sana juga dilengkapi dengan sebuah laptop merk terkenal, selain itu juga berjuntai gorden dengan warna merah muda. Tidak lupa sebuah kaca kecil yang diletakkan di dinding bagian belakang.
Semua fasilitas yang berada di dalam ruangan baru itu adalah permintaan Sita. Tania teringat dengan Sela yang selama ini dekat dengan Pak Ifan, Kalau memang pacar Pak Ifan mau bekerja di sini kemungkinan besar Sela hanyalah seorang asisten rumah tangga di rumah Pak Ifan.
"Mengapa mukamu cemberut seperti itu? Belum sarapan ya?" Seorang teman kerja Tania yang sejak tadi memperhatikan mukanya yang terlihat kesal menyapa
"Siapa bilang gue cemberut" Tania memperlihatkan barisan gigi putihnya
*****
Ifan nampak ragu ketika hendak berangkat ke kantor. Beberapa kali dia Mandar-mandir di teras rumahnya, hal itu membuat Sela yang sejak tadi memperhatikan dari dalam ikutan keluar dan segera menegurnya.
"Tidak jadi berangkat ke kantor?" Sela membuka pintu sambil menegur Ifan yang sedang tidak fokus dengan lingkungan sekitarnya hanya diam tidak menyahut teguran Sela
__ADS_1
"Hm... hm..." Sela kembali berusaha menyadarkan suaminya yang terlihat bingung
"Mas, kami tidak jadi berangkat ke kantor? Apakah ada masalah?" Sela bertanya lagi, dan kini Ifan menghampiri Sela
Ifan menuntun Sela untuk duduk di gazebo yang ada di halaman rumah merwka, di bawah pohon rindang ditemani semilir angin serta suara gemericik air terjun buatan taman kecil tak jauh dari tempat mereka duduk.
Ifan menghela nafas sejenak sebelum dia ingin memulai pembicaraannya dan menjelaskan mengapa dia tidak kunjung pergi ke kantor.
"Sepertinya hari ini aku ingin berkantor di rumah saja" Ifan berkata lirih sambil mengusap lembut rambut Sela
"Memangnya ada masalah apa?"
Sela tidak mengizinkan Ifan berkantor dari rumah, dia takut Fandi akan berfikir macam-macam tentang dirinya, sampai bertindak tidak mengizinkan Ifan untuk pergi ke kantor.
"Sayang, tapi aku tidak ingin berada di dekat Sita, apalagi ruangannya bersebelahan dengan ruanganku"
"Tetapi, sebagai seorang pemimpin kamu harusnya memberikan contoh yang bagi bawahanmu, jangan jadikan alasan pribadi untuk tidak bertugas dengan baik"
__ADS_1
Ifan mengalah setelah mendengar semua perkataan Sela, dia tidak ingin menjadi seorang pecundang yang tidak mau menghadapi segala masalah yang belum tentu terjadi.
Mengambil tas kunci mobilnya dan segera melesat meninggalkan kediamannya, Sela masih setia melihat mobil sang suami hingga menghilang di jalan tikungan.
Hari ini Ifan terlihat sangat tampan dengan memakai setelan jas serta tatanan rambut yang tidak terlalu formal namun terlihat pas di wajah Ifan yang memang sudah terlihat menawan.
Setiap karyawan yang Ifan lewati terlihat mrmuja dan terdengar kasak-kusuk yang tidak jelas di telinga Ifan, bukan tidak dengar namun lebih kearah tidak ingin mendengar dan tidak peduli. Bergegas memasuki lift khusus yang langsung menuju ke depan ruangannya. Di dalam lift Ifan sangat bahagia mengingat perlakuan Sela sebelum dia pergi. Manjanya Sela serta perilakunya yang tiba-tiba berinisiatif untuk meng*cup sekilas bibirnya meskipun dengan sedikit berjinjit. Karena malu dengan tingkahnya Sela segera berlari ke dalam rumah dan memperhatikan kepergian Ifan dari balik kaca jendela dan baru keluar setelah Ifan masuk ke dalam mobil.
"Hai, bahagia banget" Fandi yang melihat Ifan baru kaluar dari lift dengan senyumannya yang jarang sekali terlihat diwajah tampannya ketika berada di kantor
"Apa" Ifan langsung memasang muka jutek setelah sahabatnya memergokinya tersenyum
Fandi tidak ingin mendapatkan masalah dan memilih segera meninggalkan Ifan bergegas menuju ruangannya yang kini semakin sempit dan kurang nyaman. Terlihat jelas dari ruangan Fandi seorang gadis yang kini sedang bersolek di ruang sebelahnya.
Sita berdiri setelah melihat Ifan akan memasuki ruangannya. Menghampiri Ifan dan berlagak manja dan hendak menggandeng lengannya, namun dengan sigap Ifan segera menjauhkan lengannya dari jangkauan Sita.
Sita sangat benci dengan sikap Ifan saat ini, namun dia berusaha tetap tersenyum dan mengikuti Ifan hingga masuk ke dalam.
__ADS_1
"Saat ini aku tidak butuh bantuan siapapun, aku berharap kamu segera meninggalkan ruanganku dan kerjakan tugasmu. Saat ini aku sangat sibuk. Dan ingat satu permintaan dariku, jangan pernah masuk ke ruanganku jika tidak aku panggil" Sita sangat terkejut dengan ucapan Ifan, Kakinya beberapa kali dihentakkan dengan keras dan keluar meninggalkan ruangan Ifan