
Setelah beberapa tahun, Ifan kembali dengan wajah yang tampan dan juga pekerjaan yang sangat mumpuni, seorang anak muda yang selalu gigih untuk mendapatkan apa yang dia Inginkan. Bukan waktu yang sedikit bisa menemukan Sela yang juga sudah bertumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Wajah mereka telah berubah, sedangkan Ifan hanya memiliki foto waktu mereka kecil.
Ifan juga tidak menemukan media sosial milik Sela. Sempat frustasi untuk tetap mencarinya, namun akhirnya dia bisa menemukan sebuah akun sosial media milik Tania, baru dia mencari-cari akun pribadi milik Sela, dimana Sela tidak menggunakan nama aslinya. Setelah memastikan jika akun sosial media itu milik Sela, Ifan baru melancarkan aksinya untuk bisa mengembalikan Sela berdiri di sampingnya.
****
Pagi itu, setelah mereka selesai melakukan aktivitas pagi hari, beranjak ke meja makan untuk sarapan bersama dengan makanan seadanya. Sela yang tidak jago memasak hanya menyiapkan nasi dan juga telor ceplok yang agak menghitam di seputar sisinya.
Ifan memperhatikan lauk yang tersaji di piring tersebut dengan sedikit senyuman yang tidak bisa diartikan.
"Maaf, aku tidak bisa masak" Sela berbicara sambil menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap Ifan
"Harusnya tadi kita pesan saja, jadi kamu tidak perlu repot-repot untuk membuat ini semua" Dengan nada lembut Ifan berbicara, tidak ada niatan dalam hatinya untuk tidak memakannya, namun mendengar ucapan Ifan seketika Sela membelalakkan matanya menatap tajam Ifan yang duduk di kursi seberang meja yang berhadapan langsung dengannya
Melihat tatapan Sela, Ifan menjadi salah tingkah dan tahu jika ucapannya sedikit menyinggung perasaan Sela yang sudah susah payah menyiapkan semuanya namun pada kenyataannya tidak ia hargai.
"Bukan begitu maksudku, Aku tetap mau memakannya, lagi pula kapan lagi bisa menikmati makanan yang dioleh oleh istri secantik kamu. Meskipun sederhana tapi pasti sangat enak, apalagi makannya ditemani sama kamu" Lagi-lagi ucapan Ifan mengundang tatapan sinis dari Sela, karena sudah tidak bisa menahan amarahnya Sela berbicara dengan cukup menohok
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau memakannya juga tidak apa-apa, tidak usah mencari alasan. Silakan membeli makanan sendiri dan jangan pernah memakan masakan aku lagi" Sela berlari meninggalkan meja makan, karena usahanya untuk menyiapkan sarapan menurutnya tidak dihargai oleh Ifan.
"Say*ng bukan seperti itu maksudku... Aku hanya tidak ingin kami kecapekan untuk menyiapkan makan, lagi pula kita hanya berdua kalau hanya untuk makan kita bisa makan di luar" Ifan mengikuti Sela dari belakang sambil berusaha merajuk
"Iya, karena makan di luar lebih enak dan juga pastinya lebih segalanya termasuk pelayanannya yang pastinya lebih memuaskan" Sela masih berbicara dengan nada tinggi "Apalagi kalau tidak hanya jajan makanan, pasti lebih puas dan lebih cantik yang di luar dari pada yang di rumah" Sela menutup mulutnya setelah menyadari kata-kata yang keluar dari mulutnya
Ifan tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sela, dia berfikir jika Sela tidak ingin ada wanita lain dalam hidupnya.
"Say*ng... tidak ada wanita lain di luar sana, karena yang ada di rumahku lebih dari segalanya dan tidak akan pernah tergantikan karena aku sudah payah untuk mendapatkanmu" Ifan berkata jujur dengan perasaannya
Sela merutuki dirinya sendiri, karena mengeluarkan kata-kata yang cukup membuat Ifan berfikir jika dirinya tidak ingin dimadu.
Ifan ikut masuk ke dalam, memperhatikan Sela yang masih tertunduk malu setelah berbicara seperti itu. Ifan duduk berjongkok di hadapan Sela, memegang tangannya kemudian mencium punggung tangan Sela dengan hati-hati. Untungnya tidak ada penolakan dari Sela.
"Bolehkah aku menc**m ini" Sambil memegang pipi milik Sela, Ifan meminta ijin, tanpa diduga Sela menganggukkan kepalanya pelan dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ifan
Ifan mencium kedua pipi milik Sela yang pastinya sangat halus, indera penciumannya menghirup dalam wangi mawar dari minyak wangi yang digunakan oleh Sela yang sangat memabukkan bagi Ifan. Tanpa disadari Ifan mulai melancarkan aksi yang lebih nakal dan mampu menguasai Sela yang juga sudah terbuai dengan sent*han tangan Ifan, karena selama ini dia juga tidak pernah mendapatkan sent*han yang sangat memabukkan.
__ADS_1
Dan pagi itu merupakan, pertama kali mereka melakukan penyatuan diri tanpa ada paksaan dari pihak manapun, semuanya terjadi begitu saja. Sarapan yang pastinya lain dari biasanya yang belum pernah mereka rasakan selama ini. Nikmat dan juga memuaskan keduanya.
Beberapa kali Ifan melancarkan aksinya yang membuat keduanya kelelahan dan memilih segera membersihkan diri serta melanjutkan sarapan sebenarnya yang sudah tertunda beberapa jam, bahkan saat ini harusnya sudah masuk jam makan siang.
"Terima kasih Say*ng, mulai saat ini kamu benar-benar milikku" Tanpa disengaja mulut Ifan mengeluarkan kata-kata itu
Namun, Sela masih belum menyadari ucapan Ifan dan dia memilih menyembunyikan wajahnya di bawah selimut karena malu dengan apa yang sudah mereka lakukan pagi ini, padahal hatinya belum memiliki rasa cinta terhadap Ifan dan kini dia malah menyerahkan satu hal yang selalu dia jaga untuk orang yang sangat dia cintai nantinya.
"Tidurlah, jika kamu lelah.... aku akan pesan makanan dahulu sebelum aku mandi" Ifan mengusap kepala Sela dengan lembut disertai kecupan yang sangat nyaman bagi Sela
Ifan membersihkan diri dan memesan makanan untuk mereka, karena tidak mungkin mereka akan keluar mencari makan dalam keadaan Sela yang tidak baik dilihat orang diluaran sana, banyak tanda kepemilikan yang Ifan bubuhkan di t*buh Sela. Bahkan dia sendiri tidak menyangka jika semua itu ada akibat dari ulahkan beberapa jam yang lalu.
Meskipun Ifan sedikit merasa bersalah pada Sela, namun dia juga sangat senang karena dia berhasil menanamkan benih di dalam t*buh Sela. Meskipun dia sendiri tahu apa yang dia lakukan hanya dia yang mencintai Sela, bahkan Sela hanya termakan dengan sentuhan-sentuhan yang dia lancarkan namun tidak ada penolakan darinya.
Sela akhirnya terlelap di bawah selimut yang menutupi seluruh badannya. Hingga Ifan menyelesaikan mandi dan menyiapkan makanan yang dia pesan secara online. Ifan menyentuh Sela dengan lembut dan mencoba untuk membangunkan Sela setelah semuanya sudah disiapkan. Dari bak mandi yang sudah terisi penuh sampai makanan yang sudah tersedia di hadapan Sela yang tertata rapi di atas meja kecil yang dibawa Ifan ke kamar.
"Say*ng bersihkan badanmu dahulu, setelah itu kita makan" Bujuk Ifan, namun tidak ada pergerakan apapun dari balik selimut, hal itu membuat Ifan panik
__ADS_1
"Say*ng.... say*ng...." Berulang kali Ifan berusaha membangunkan Sela