BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
26


__ADS_3

Ifan dan Sela tidak jadi pergi dari restoran, setelah melihat Marcel meninggalkan tempat parkir. Sela tidak ingin membuang kesempatan makan di restoran mewah, meskipun dia nanti akan makan sendiri, sedangkan Ifan membicarakan bisnis.


Sela mengambil tempat duduk di dekat jendela yang bisa melihat langsung pemandangan di luar sana. Namun, Ifan menarik tangannya dengan lembut dan membawanya ke tempat yang sudah dia pesan ketika dalam perjalanan. Sela memberontak, dia tidak ingin merusak pembicaraan bisnis Ifan.


"Bukannya kamu mau bertemu dengan klien besar" Sela tidak enak hati dengan pakaian yang dia kenakan saat ini


"Iya, nanti kamu juga akan tahu dengan siapa klienku kali ini"


Beberapa menit, makanan semua sudah tersaji di meja, ada sebuah kursi yang sudah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan seseorang.


"Selamat malam" Seorang lelaki paruh baya masuk ke ruangan itu, suara yang sangat di kenal oleh Sela


"Papa....." Sela menghambur ke dalam p*lukan papanya, yang kini masih berdiri mematung di depan pintu, Prabu juga tidak menyangka malam ini akan bertemu putri tunggalnya yang sangat dia rindukan


****


Flashback


Sore tadi Ifan menghubungi Prabu mengundangnya untuk makan malam serta membicarakan sebuah kerja sama yang akan sangat menguntungkan perusahaan Prabu. Mendengar hal tersebut Prabu bersemangat untuk menyiapkan dengan baik.


Sebuah perusahaan besar tertarik untuk bekerjasama dengannya, sudah tentu diterima dengan tangan terbuka. Padahal sebelumnya dia sangat sulit menghubungi pimpinan perusahaan tersebut, dan saat ini malah dia ditelpon langsung oleh pimpinan perusahaan dan malam ini untuk mengadakan pertemuan tertutup sebelum kerja sama yang sebenarnya dijalankan.


"Baik Pak, saya akan datang tepat waktu dan akan membawa rencana kerja yang sangat detail" Prabu menyetujui pertemuan malam ini


"Saya tunggu di restoran, nanti alamatnya akan kami kirimkan segera" Ifan menutup panggilannya.


Flashback Off


"Sel, Papa kangen sama kamu, mengapa kamu jadi seperti ini? Sekarang kamu tinggal di mana, kamu punya uang tidak?" Banyak pertanyaan yang dilontatkan Prabu kepada perempuannya


"Pa, satu-satu tanyanya. Papa tidak marahkan, Sela pergi dari rumah? Sela sebenarnya tahu kalau Papa baik sama Sela, Papa pasti punya alasan membiarkan Sela keluar dari rumah itu"


"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi, yang terpenting sekarang kamu sehat"

__ADS_1


Anak dan ayah yang sedang melepas rindu melupakan jika saat ini ada orang lain di ruangan itu.


"Hm...." Sela dan Prabu baru tersadar tujuan mereka ke tempat ini


"Papa ada acara apa ke sini?"


"Papa membuat janji bertemu dengan seseorang, untuk membicarakan kerja sama"


Sela melihat ke arah Ifan yang berpura-pura sedang menikmati makanan yang tersaji di depannya.


"Apakah klien besar yang kamu maksud papaku?" Sela tidak sabar menunggu penjelasan dari Ifan


"Klien besar apa? Papa sudah tidak ada lagi yang dikembangkan, mana mungkin papa salah satu klien besar bagi seorang pengusaha seperti beliau" Prabu berbicara seperti itu karena tadi Ifan sudah sudah memperkenalkan diri dan dialah yang mengundang Prabu untuk makan malam


"Sebaiknya kita makan dahulu, kasihan makanannya dianggurin" Tujuan Ifan hanya ingin mempertemukan ayah dan anak yang sudah berminggu-minggu tidak bertemu


Mereka tidak hanya makan, melainkan juga membicarakan banyak hal, kecuali pernikahan yang sudah terjadi antara Ifan dan Sela, Ifan masih menyimpannya sebelum tujuan utamanya tercapai.


"Jangan lagi memikirkan mama kamu, Papa tetap menyayangimu dan akan selalu mendukung semua yang kamu lakukan, asalkan tidak merugikan diri kamu" Prabu berpesan sebelum meninggalkan restoran untuk kembali pulang


Prabu tidak hanya pulang dengan tangan kosong, untuk menghindari kecurigaan sang istri, Ifan tetap memberikan sebuah kerja sama yang nilainya tidak terlalu besar, dengan cara itu maka Prabu dan Sela masih ada waktu untuk bertemu di lain hari tanpa ada kecurigaan dari mamanya Sela.


****


Sekembalinya Marcel dari restoran, dia mengarahkan motornya ke rumah orang tua Sela, dia berniat untuk menanyakan hasil dari pencarian Ifan di keluarga jauh Prabu.


"Bagaiamana hasilnya Tan?" Tanpa basa-basi Marcel bertanya sambil mengambil makanan yang tersedia di meja tamu keluarga Sela


"Maaf Cel.... Tante belum menemukan anak yang bernama Ifan, sepertinya dia bukan dari keluarga papanya Sela. Bisa jadi dia teman sekolah Sela"


"Kalau dia teman sekolah Sela, sudah pasti aku juga kenal Tan"


"Iya juga, bukannya kalian satu sekolah, dan tidak mungkin mereka berani mendekati Sela jika mereka tahu Sela pacarmu" Sarah menyajikan minuman untuk Marcel

__ADS_1


"Coba kamu temui tania, siapa tahu dia mengetahui keberadaan Sela dan juga Ifan"


"Marcel sudah menemui Tania, namun hasilnya juga nihil, dia tidak mengetahuinya, bahkan dia satu-satunya sahabat Sela tidak mengenal Ifan juga"


Prabu sampai di rumah ketika Marcel masih berada di rumahnya, Sarah menyambut kedatangan Prabu dengan penuh senyum, karena Sarah tahu jika malam ini Prabu akan membicarakan bisnis dengan nilai keuntungan yang tidak sedikit.


"Bagaimana Pa?"


"Sepakat"


"Tidak biasanya, perusahaan besar itu memberikan kesepakatan yang mudah, kata orang-orang tidak mudah untuk mencapai kata sepakat, apalagi hari ini Papa langsung bertemu pimpinan pusatnya"


"Mungkin sudah menjadi rezeki keluarga kita"


Tidak banyak lagi yang mereka bicarakan, Prabu juga tidak ingin nantinya keceplosan dengan kesepakatan bisnis yang disepakati malam ini hanyalah suatu alasan untuk bertemu putrinya.


Marcel juga tidak menaruh curiga sama sekali dengan kesepakatan kerja sama perusahaan orang tua Sela dengan perusahaan terbesar di kota ini.


"Kerja sama apa Om?"


"Hanya kerja sama kecil, namun bisa dilakukan jangka panjang, lumayanlah untuk menjaga kehidupan dan jalannya perusahaan Om"


"Syukurlah kalau Om bisa bekerja sama dengan perusahaan lain, setidaknya tidak hanya menjadi benalu di perusahaan keluarga Marcel" Ada perkataan Marcel yang tidak enak di dengar, namun Prabu tidak menghiraukannya


"Bagaimana apakah usahamu mencari Sela sudah ada hasilnya"


"Baru saja Marcel bertemu dengan Sela di restoran dengan lelaki yang entah siapa dia, bahkan orangnya juga jelek masih kalah jauh dengan Marcel"


"Om tahu tidak, apa mungkin Sela bekerja untuk dia? Karena melihat baju yang di pakai Sela tidak mungkin jika mereka mempunyai hubungan, terlalu bertolak belakang" Lanjut Marcel yang tanpa sadar mengomentari Sela


"Sudah menjadi konsekuensinya, karena tidak mau menurut dengan orang tuanya, biarkan dia menjalani kehidupan yang keras di luar sana, lagi pula Om dan Tante juga sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan Sela saat ini" Prabu menutupi kesedihannya mendengar ucapan Marcel yang menjelekkan putri kesayangannya


"Betul Pa, kita lihat saja nanti, apakah dia akan kembali ke rumah ini lagi? Yang pasti semakin di luar sana dia menderita, semakin cepat dia akan kembali ke rumah ini dan pastinya akan cepat kembali ke p*lukanmu" Sarah menatap Marcel

__ADS_1


__ADS_2