
Waktu dan tenaga yang dimiliki oleh Sela sudah tidak seperti dahulu, badannya yang kian hari kian lemah dan sering merasa lelah membuatnya harus membatasi diri dalam bekerja, hal itu berpengaruh terhadap perekonomiannya. Penghasilannya kini berkurang drastis. Mengingat perekonomiannya yang sulit membuatnya harus ekstra berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, bahkan untuk makan sangat dia atur.
Hingga suatu sore karena kekurangan asupan makanan, membuat tubuhnya lemah hingga tidak sadarkan diri. Untungnya sebelum hilang kesadaran Sela berhasil memanggil bu Marni penghuni kos di kamar sebelahnya.
Bantuan segera datang dan dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama, namun setelah sadar Bu Marni memindahkan Sela ke rumah sakit yang sudah dipesan oleh Ifan tanpa sepengetahuan Sela.
"Bu, Sela tidak punya cukup uang untuk membayar rumah sakit ini, harusnya kita tetap di rumah sakit yang tadi" Melihat kondisi rumah sakit yang dia tempati sekarang, Sela berasumai jika rumah sakit ini pasti mahal. Dengan fasilitas lengkap di dalam ruangannya, bahkan tidak boleh sembarang orang yang bisa memasuki ruangannya
"Sudahlah Mbak, jangan dipikirkan mengenai biaya, yang penting saat ini Mbak Sela segera sembuh dan bisa bekerja seperti biasanya"
Sela menurut dengan perkataan Bu Marni, dia juga tidak memikirkan siapa yang menanggung biaya rumah sakitnya, dalam benaknya mungkin Bu Marni mempunyai banyak tabungan dan nantinya dia harus mengembalikan kepadanya setelah Sela sembuh dan bisa bekerja. Karena tidak mungkin jika Bu Marni mengenal Ifan, menurut penglihatannya Bu Marni hanya di kamar kosnya terus dan tidak pernah pergi.
Tiga hari berada dibawah pengawasan rumah sakit, Sela sudah cukup sehat. Dia diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit dengan syarat agar tetap menjaga pola makan dan istirahat yang cukup, mengingat kehamilannya di tri mester pertama untuk memperkuat janin dan juga ibunya. Vitamin yang diberikan juga harus dihabiskan dan segera mengunjungi rumah sakit apabila ada keluhan.
Ketika sampai di bagian administrasi Sela meminta slip pembayaran dan akan melunasinya sebelum pulang, namun anehnya dari pihak administrasi semua biaya sudah ditanggung oleh rumah sakit, tidak ada biaya apapun yang harus dikeluarkan. Bahkan Sela juga diberi Voucher pemeriksaan gratis setiap bulan selama masa kehamilannya.
Vitamin, buah dan juga s*s* khusus ibu hamil juga diberikan secara cuma-cuma.
"Bu Marni, kita tidak sedang pulang dari pusat perbelanjaankan?"
"Tidak mbak" Bu Marni menjawab singkat karena belum peka dengan pertanyaan Sela
__ADS_1
"Tapi mengapa kita pulang dengan berbagai macam produk? Bahkan rumah sakit juga tidak memungut biaya sepeserpun"
"Mungkin, pihak rumah sakit mempunyai program membantu ibu hamil yang hidup sendiri, Mbak Sela tahu sendiri saat mendaftar dan masuk ke unit rawat, Mbak Sela tidak ada yang menemani sama sekali" Meskipun Bu Marni mengetahui segalanya tidak mungkin, beliau akan menceritakan asal-usul semua produk yang mereka bawa pulang.
****
"Jalan Fan" Ifan memerintahkan Ifan setelah menyaksikan dengan mata kepalanya Sela telah meninggalkan rumah sakit ditemani oleh Bu Marni naik ojek online.
Ifan masih belum berani menemui Sela secara langsung. Meskipun baru dia minggu hidup terpisah, namun sebenarnya rasa rindunya sudah tidak bisa dihitung lagi. Dan setiap kali melihat Sela, air mata milik Ifan selalu menetes dengan sendirinya tanpa ada aba-aba.
"Mengapa tidak kamu kirim sendiri semua hadiah itu?" Fandi ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Ifan, akhir-akhir ini Ifan sering melamun saat meeting di kantor, namun untuk menghindari gagal fokus ketika menemui klien Ifan memilih untuk mewakilkan kepada Fandi seperti dahulu.
Kali ini Fandi tidak menuruti perkataan Ifan yang memintanya untuk kembali ke kantor, namun Fandi mengikuti mobil yang membawa Sela sampai ke depan kos Sela.
"Mengapa ke arah sini, memangnya kamu tidak punya pekerjaan di kantor? Ha... Balik cepat" Ketika Ifan menyadari jika mobil yang dia tumpangi tidak menuju ke kantor, dia marah kepada Fandi. Bukan karena tidak ingin selalu berada di dekat Sela, namun hatinya sangat sakit saat melihat istri dan calon bayinya hidup dalam kondisi yang memprihatinkan berbanding terbalik dengan dirinya yang hidup dalam kenyamanan
"Baik jika itu sudah menjadi kemauanmu" Fandi mengikuti perintah Ifan yang tidak terbantahkan, dia tidak ingin mendapatkan masalah jika tetap melanjutkan perjalanan mengikuti mobil Sela
"Fan, apakah kami punya cara agar istriku bisa memaafkan kesalahanku? Aku benar-benar mencintainya, lagi pula dia harus saya lindungi dari orang-orang yang akan berbuat jahat terhadapnya" Ifan berkata lirih namun masih bisa di dengar Fandi yang fokus menatap jalanan yang lumayan padat
"Bagaimana kalau kamu mendatanginya dan meminta maaf secara langsung dan menjelaskan semuanya"
__ADS_1
"Tapi aku tidak ingin dia berfikir jika aku hanya mengada-ada dan tidak percaya dengan perkataanku sebelum ada bukti kuat yang membenarkan perkataanku"
Fandi berfikir keras bagaimana cara mendapatkan bukti ada seseorang yang mengincarnya.
"Untuk sekarang lebih baik kamu memerintahkan seseorang yang lebih kuat untuk menjaganya setiap waktu, sebelum kamu bisa memberikan bukti kuat untuk Sela"
"Bukannya Bu Marni sudah cukup, meskipun usianya tidak lagi muda, kamu tahu sendiri bagaimana beliu membela diri dan ikut dalam pasukan pengamanan perusahaan kita?"
Bu Marni sebenarnya adalah salah satu pasukan pengamanan perusahaan milik keluarga Ifan, namun karena usianya yang kini sudah tidak muda lagi, maka Bu Marni hanya sebagai pasukan khusus yang menyamar dan ditugaskan untuk menjaga anggota keluarga.
"Tetapi usia Bu Marni saat ini sudah tidak muda lagi, mungkin kekuatannya tidak sehebat dulu lagi, jadi untuk memperkuat kita harus tetap menyiapkan seorang lelaki yang masih muda untuk bersiap siaga membantu Sela"
"Perintahkan pimpinan pasukan khusus untuk memilih salah satu dari mereka yang terkuat dan cekatan"
Fandi segera menghubungi pasukan pengamanan khusus perusahaan untuk memilih salah satu yang terbaik dari mereka dan segera menugaskan untuk bersiap siaga membantu kebutuhan Sela secara tidak langsung dan dari jarak aman, tanpa diketahui identitas aslinya.
"Pak, ada yang berusaha melakukan sabotase terhadap sistem operasi komputer di perusahaan kita, hingga membuat kekacauan di seluruh lini perusahaan" Salah satu pegawai perusahaan yang dipercaya oleh Ifan sedang melaporkan keadaan perusahaan yang saat ini sedang kacau
"Sial*n, mereka sudah mulai melancarkan aksinya, kita segera kembali ke kantor" Ifan dalam keadaan kesal yang berlipat-lipat, belum lagi rasa k*ngen yang menderanya saat ini kini ada yang berusaha menjatuhkan perusahaannya melalui sistem komputer dengan mengirimkan virus ke sistem pusat
Fandi mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, klakson dia bunyikan berulang kali untuk meminta jalan, mobil itu meliuk-liuk menghindari kendaraan di depannya membuat pengendara lain mengumpat, namun tidak dihiraukan oleh Fandi
__ADS_1