BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
18


__ADS_3

"Kamu salah, masih ada alasan kuat mengapa aku harus melindunginya"


Mereka berpisah, setelah Ifan mendapatkan panggilan telephone dan harus segera di jawab. Telephone penting yang tidak bisa diangkat di sembarang tempat.


"Fan, bagaimana apakah ada kabar baik pertemuan dengan klien hari ini?" Ifan hanya ingin mendengar kabar baik dari Fandi mengenai kerja sama perusahaannya


"Maaf Fan, mereka belum mau menandatangi kerja sama sebelum bertemu denganmu langsung, awalnya aku sudah mengatas namakan dirimu dan merupakan tangan kananmu, tetapi mereka tidak percaya"Fandi menceritakan pertemuannya hari ini dengan klien, pada prinsipnya mereka setuju bekerja sama namun harus bertemu secara langsung dengan pimpinan perusahaan terlebih dahulu


"Baiklah, agendakan minggu depan bisa bertemu, agar proyek segera bisa terlaksana" Ifan memerintahkan untuk membuat janji ulang dengan klien untuk menandatangani kontrak kerja sama


Setelah membicarakan pekerjaan, Ifan baru menyadari jika dirinya mengabaikan makanan yang dia beli, bahkan melupakan keberadaan Sela di apartemennya. Melihat Sela duduk di lantai dengan berlinang air mata, Ifan segera mendekati dan meminta maaf karena sudah melupakannya.


"Maaf, jika tadi aku memaksamu mampir ke tempat makan, namun akhirnya malah membuatmu bertemu dengan mantanmu yang b**dab itu dan membuatmu merasakan sakit" Ifan mengusap air mata Sela yang mengalir deras di wajah cantiknya


Mendengar perkataan Ifan, air mata Sela malah bertambah deras, membuat Ifan kelimpungan. Dia berfikir jika dirinya kini menambah beban penderitaan Sela.


"Maaf, aku tidak bermaksud menambah beban pikiranmu, sekali lagi aku minta maaf dan akan diam, menangislah jika itu bisa meringankan dan melupakan dia" Ifan berdiri dan hendak pergi meninggalkan Sela, dia berharap setelah lelah menangis semua beban bisa berkurang


"Mengapa kamu pergi?" Sela bicara di tengah isak tangisnya


"Bukannya kamu tidak mau mendengar suaraku dan ingin menenangkan diri?" Ifan mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan dari Sela


"Aku menangis karena...."


"Karena kamu ingin melepaskan semua kesedihanmu" Potong Ifan


"Bukan, tetapi karena aku ingin...... "


"Menyendiri dan berusaha melupakan kejadian yang baru saja terjadi" lagi Ifan memotong pembicaraan Sela

__ADS_1


"Tidak.... "


"Lalu ada apa kamu menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang ingin dibelikan es krim tapi dilarang oleh ibunya"


"Perutku lapar, aku ingin makan.... tetapi kamu keluar lama banget...."


Ifan menepuk jidatnya berulang kali setelah mendengar pengakuan dari Sela. Dia menuju dapur mengambil piring dan sendok agar Sela bisa segera memakannya.


"Maaf, tadi aku ketemu dengan Dito di bawah"


"Dokter ganteng?" Sela mendengar nama Dito wajahnya langsung berbinar dan melupakan makanan di depannya


"Dokter ganteng mana? Yang seperti itu kamu bilang ganteng?" Ifan sedikit menaikkan suaranya mendengar Sela memuji cowok lain dihadapannya


"Dia ganteng kok, banget malah" Sela dengan entengnya menambah pujian untuk Dito, padahal orang yang duduk dihadapannya sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak meluapkan emosinya karena cemburu yang mendera


"Sebelum makan boleh tanya lagi tidak?"


"Satu pertanyaan"


"Ok, Apakah dokter Dito sudah..... "


"Sekali lagi aku dengar nama Dito, makanan ini akan aku habiskan sendiri" Ifan saat ini tersulut emosinya mendengar nama Dito disebut oleh wanita yang sangat dia cintai, namun masih bertepuk sebelah tangan


"Bukannya tadi boleh mengajukan satu pertanyaan, tapi mengapa malah dimarahi" Sela akhirnya memilih diam dan segera menghabiskan makanannya, dia tidak rela jika makanan itu akan dihabiskan oleh Ifan sendiri karena dia juga sangat lapar


Mereka berdua makan dalam diam, tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka larut dalam pikirannya sendiri-sendiri.


****

__ADS_1


Malam itu juga Marcel berkunjung ke rumah Prabu, untuk memperlihatkan video yang sempat dia abadikan ketika bertemu Sela tadi, berkat bantuan seorang pramuniaga yang dia bayar untuk merekam semua kejadian dari awal hingga akhir.


Kebetulan Prabu sedang berada di ruang kerjanya. Sarah mempersilakan Marcel untuk langsung masuk ke ruang kerja Prabu yang berada di dekat ruang tamu. Marcel sudah hafal betul denah rumah ini, hingga dia tidak harus bertanya lagi dimana letaknya.


Seperti seorang bos besar yang mendatangi bawahannya, Marcel masuk ke ruang itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membuat Prabu yang sedang fokus bekerja terpaksa mengangkat tegak kepalanya karena kaget pintu tempat dia bekerja terbuka begitu saja.


"Selamat malam Cel.... Tumben jam segini kamu datang mencari Om, ada apa?" Prabu menyambut anak kolega perusahaannya setelah melihat jam yang melingkar di pergelangannya


"Bukannya Om mencari anak kesayangan Om?" Marcel berkata sinis sembari duduk di sofa yang berada di ruangan itu


"Iya, Om masih berusaha mencarinya, selain itu Om juga sudah memerintahkan pegawai Om untuk melakukan pencarian dan sampai saat ini mereka belum memberikan kabar"


"Mungkin Om tidak berniat mencarinya, harusnya Om lebih cepat mendapatkan kabar keberadaannya, tetapi kenyataannya Om masih kalah cepat dengan Marcel yang mencari tanpa bantuan dari siapapun" Kata Marcel sombong


"Maksud kamu apa? kamu jangan merendahkan usaha saya untuk berusaha sekuat tenaga mencari keberadaan Sela, tidak seperti yang kami tuduhkan baru saja" Prabu tersulut emosi saat mendengar Marcel merendahkannya


"Tetapi itu memang kenyataan, Om bisa melihatnya sendiri" Marcel menyerahkan ponselnya yang berisi rekaman


Prabu memperhatikan video tersebut dari awal hingga akhir. Benar yang diucapkan Marcel jika dia sudah menemukan Sela.


"Kalau kamu sudah menemukannya bukannya seharusnya saat ini dia bersamamu pulang" Prabu yang tersinggung dengan perkataan Marcel langsung membalikkan fakta jika dia yang sudah bertemu saja tidak bisa membawanya pulang


"Karena ada yang lebih berhak membawanya pergi dari sana, dan itu bukan aku tetapi lelaki lain yang mengaku dia adalah suami Sela"


"Maksud kamu apa? Sejak kapan Sela mempunyai hubungan degan lelaki selain denganmu, apalagi dia juga baru beberapa minggu meninggalkan rumah, tidak mungkin jika saat ini dia sudah bersuami dan tidak meminta saya untuk menikahkannya" Prabu tidak mempercayai perkataan Marcel begitu saja disertai dengan pernyataan-pernyataan yang tidak membenarkan perkataan itu


"Tetapi lelaki itu bilang mereka sudah menikah dan dibenarkan oleh Sela, dan tidak mungkin jika dia menikah tanpa memberitahu Om Prabu"


"Atau sebenarnya Om sudah mengetahui kabar itu atau bahkan Om sendiri yang menikahkannya hingga sampai saat ini Om Prabu selalu bilang ke Marcel dan juga Papa, jika Om belum bisa menemukan Sela, namun pada kenyataannya Om menikahkannya dengan lelaki lain, apa yang sebenarnya Om inginkan dari kami?" Marcel menuduh Prabu dengan kata-kata yang sangan menusuk

__ADS_1


__ADS_2