
Tidak ada yang begitu penting, saya hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu” mendengar ucapan Ifan membuat Tania tersipu, dalam benaknya mungkin pertanyaan yang akan diajukan oleh Ifan ada kaitannya dengan gosip yang beredar di kantor beberapa hari ini
“Boleh Pak, semua pertanyaan bapak akan saya jawab dengan jujur”
“Maaf jika pertanyaan yang akan saya ajukan menyangkut pribadimu”
Tania dibuat semakin diatas awan mendengar perkataan yang meluncur dari mulut Ifan. Beberapa kali Ifan menghirup napas panjang sebelum ke inti permasalahan, Sedangkan Tania masih senyum-senyum menunggu pertanyaan dari Ifan.
“Apakah kamu mengenal Sela?”
“Sela yang mana Pak?” Tania berpura-pura lupa jika kemarin dia melihat Sela makan dengan Ifan
“Bukannya kemarin kamu tahu, saya makan siang dengan seorang gadis?”
“Oh, yang itu”
Tania mengatakan jika dia memang mengenal Sela yang dimaksud oleh Ifan, namun dia memutar balikkan fakta mengenai Sela, bahkan Tania juga mengatakan jika Sela adalah seorang gadis yang licik dan akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Bahkan Tania juga berharap Ifan tidak memiliki hubungan apapun dengan Sela karena dia khawatir jika Ifan akan masuk ke perangkap Sela.
“Terima kasih atas informasi yang diberikan, jika suatu saat saya membutuhkan informasi lagi, maka anda akan saya panggil lagi”
Tania sangat senang, dia mengira jika propagandanya mengenai Sela diterima baik oleh Ifan. Dia tidak mengira jika Sela bisa mengenal bahkan berteman dengan Ifan seorang pengusaha muda yang sangat disegani didunia bisnis khususnya di kota ini. Tania berharap setelah mengetahui kebenaran Sela maka Ifan akan mendekatinya.
Setelah mendengar semua cerita dari Tania, Ifan tidak percaya karena menurut pengakuan Sela, mereka bersahabat bahkan handphon yang digunakan Sela saaat ini adalah hadiah dari Tania. Namun Ifan masih berfikir positif mungkin mereka berdua baru terlibat dalam perselisihan.
***
__ADS_1
Malam ini Dito dan Fandi berkunjung ke apartemen milik Ifan untuk membicarakan bisnis mereka yang saat ini dalam pengembangan. Banyak hal yang mereka bicarakan dari modal yang mereka kumpulkan hingga pengeluaran sampai saat ini untuk menambah cabang di kota-kota besar di wilayah mereka.
Selesai membicarakan bisnis, seperti anak muda yang lain mereka juga membicarakan hal-hal yang tidak penting untuk menghilangan penat di hati otak mereka, tidak luput mengenai Sela.
“Bagaimana istrimu, masih amankan”Dito berharap jika kebohongannya tidak diketahui oleh Sela
“Aman kok, tenang saja. Semuanya tersimpan rapi selama kamu tidak bicara sembarangan di depannya”
“Tenang saja, aku tidak akan bicara yang sebenarnya”
Sela yang menuju dapur mendengar semua pembicaraan Ifan dan Dito mengenai dirinya. Dia harus minta penjelasan maksud dari pembicaraan mereka. Karena Sela tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan mereka, dia memutuskan untuk kembali naik ke kamarnya dan beristirahat di sana, karena kehamilannya Sela sering merasa cepat lelah jika melakukan kegiatan yang menguras tenaga dan pikirannya, namun ditengah tangga dia mendengar pembicaraan mereka samar-samar yang mmengatakan tentang kebohongan kehamilannya ketika awal perkenalannya dengan Ifan yang mengakibatkan dia harus menikah dengan Ifan.
Sela shock mendengar semua kebenaran itu, dan bergegas meminta penjelasan dari Ifan. Namun rencana yang hanya ingin mendengarkan penjelasan berakhir dengan perdebatan hebat antara dirinya dengan Ifan. Sela bertekad untuk meninggalkan apartemen milik Ifan dan kembali ke tempat kosnya dahulu yang kebetulan sudah dia bayar untuk beberapa bulan ke depan.
“Lebih baik aku pergi dari sini, dan jangan pernah kau menemuiku lagi. Terima kasih atas kebohongan yang telah engkau berikan kepadaku dan juga terima kasih atas benih yang kau tanam dalam rahimku. Namun jangan berharap kau bisa memilikinya” Sela berlari ke kamar dan mengemasi semua barang miliknya, menunggu ojek online yang dia pesan tanpa mau mendengarkan teriakan Ifan yang memilukan
Dalam perjalanan menuju tempat kosnya, Sela tidak henti-hentinya menangis dia menyesali dan bodoh telah percaya dengan semua omong kosong yang dibuat oleh Ifan, dan juga atas tindakannya yang terbuai dengan ucapan manis Ifan hingga dia menyerahkan segalanya di malam itu dan berakhir saat ini ada yang tumbuh dan berkembang di dalam rahimnya.
Nasi sudah menjadi bubur, Sela bertekad untuk tetap menjaga janin yang sedang tumbuh di dalam perutnya dengan bekal hasil pembuatan desain logo yang belum dia ketahui sebenarnya perusahaan milik Ifan.
***
Sore itu Tania berkunjung ke rumah orang tua Sela dan mengabarkan kepada mereka jika dia sempat bertemu dengan Sela yang sedang makan siang dengan seorang bos perusahaan terbesar di kota ini yang saat ini menjadi tempat dia bekerja.
“Bagaimana bisa dia mengenal bos besar, sedangkan dia tidak pernah mengenal lelaki lain selain Marcel” Sarah kaget mendengar cerita Tania, namun bagi Prabu seolah tidak mendengar percakapan mereka
__ADS_1
“Pa, apakah papa tahu selama ini anak kita memiliki hubungan dengan bos besar? Atau dia bekerja dengannya sebagai pembantu setelah meninggalkan rumah ini”
“Papa tidak tahu Ma, bukannya mama yang selalu di rumah bersama Sela?”
“Tapi benar tante, mungkin Sela bekerja sebagai pembantu di rumah beliau, karena sewaktu Tania bertemu dengannya, dia hanya memakai pakaian yang tidak seperti biasanya”
Sepeninggal Tania, Sarah tidak henti-hentinya memaki Sela dengan umpatan-umpatan yang sangat menyakitkan jika di dengan Sela langsung, Prabu yang mendengar memilih untuk meninggalkan Sarah yang terus-terusan merendahkan Sela.
“Papa mau pergi kemana?”
“Papa harus bertemu dengan klien malam ini, apakah mama mau ikut?”
Sarah memilih di rumah jika hanya akan bertemu dengan klien yang pastinya sangat membuat dirinya bosan, karena yang dibicarakan seputar bisnis. Sarah mengajak teman-teman sosialitanya untuk berkumpul makan bersama di restoran dan dia yang akan membayarnya.
“Baiklah, kita ketemu di restoran setengah jam lagi, gue suntuk di rumah sendirian” Sarah mengakhiri percakan di telephonnya dan segera bersiap diri untuk berkumpul dengan mereka
Setengah jam sesuai dengan kesepakatan, semua sudah berkumpul dan memesan makanan. Berbincang tanpa henti dan setelah semua kenyang mereka melanjutkan dengan berbelanja di sebuah mall terbesar memilih barang-barang mewah yang belum sempat mereka miliki karena ini adalah keluaran terbaru.
Tanpa disengaja salah satu diantaranya melihat Sela yang sedang berbelanja kebutuhan harian di mall yang sama, namun bedanya Sela hanya membeli bahan makanan.
“Jeng, bukannya itu anak gadismu”
“Mana? Oh, itu” Setelah menyadari keberadaan Sela, Sarah tidak berkomentar apapun
Namun, terjadi bisik-bisik antara ibu-ibu sosialita tersebut yang membuat Sarah naik pitam.
__ADS_1
“Kaliah harus tahu, dia bukan lagi anak aku, karena dia sudah meninggalkan rumah kami dengan senang hati dan sampai saat ini tidak pernah kembali lagi. Biarkan dia merasakan bagaimana hidup sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya karena tidak mengikuti nasihat orang tuanya” Sarah meluapkan emosinya yang sudah tidak dapat dia kendalikan