
Tidak ada waktu lagi bagi Ifan untuk memikirkan sesuatu selain yang berkaitan dengan istrinya. Meskipun dia memerintahkan untuk menyelamatkan Sita, namun kenyataannya sampai beberapa jam dia tidak pernah menghubungi orang-orang yang dia perintah.
Menghabiskan waktu bersama dengan Sela adalah pilihannya, seluruh akses komunikasi dia putuskan untuk hari ini. Semua orang yang dekat dengannya sudah hafal betul dengan sikap Ifan yang seperti itu berarti dia tidak mau diganggu siapapu, kalau mereka sangat membutuhkan Ifan ada alat komunikasi khusus untuk mereka dan tidak diketahui oleh orang lain.
"Hari ini Mas mau makan apa?" Meskipun Sela tidak jago memasak, namun kalau hanya untuk masak telur dan juga mie masih bisa matang, apalagi masak nasi goreng itu adalah spesialisasinya, karena bumbu tinggal memasukkan ke wajan alias bumbu instan
"Nasi goreng pakai telur mata sapi" Suatu keberuntungan juga bagi Sela, Ifan bukanlah orang yang terlalu pemilih untuk makanan yang dia makan selama dari tangan Sela sendiri yang mengolahnya. Namun kalau diluaran Ifan adalah orang yang sangat pemilih dalam hal makanan
Makan malam sudah siap di meja, Ifan dan Sela makan dalam satu piringpiring, membicarakan hal-hal tidak penting untuk membangun kedekatan mereka.
"Buka mulutnya" Ifan menyodorkan satu sendok penuh nasi goreng ke hadapan SelaSela, namun sebelum Mulut Sela terbuka sudah terlebih dahulu ada yang lebih cepat mendarat di bibir mungil milik Sela serta sendok itu sudah berada di dalam mulut Sela ketika dia terbengong mendapatkan perlakuan yang tidak dia sangka dari Ifan
"Bagaimana lebih suka suapan pertama atau yang kedua?" Sela tidak bisa menjawab pertanyaan dari Ifan, mendapatkan perlakuan manis tersebut membuat Sela sedikit malu dan memilih untuk memalingkan wajahnya menghindari tatapan Ifan yang semakin dalam
*****
Pengumuman yang dilakukan oleh Ifan di kantor sore tadi sontak menjadi sebuah berita yang paling dicari disetiap sosial media. Kebetulan ada yang merekam kemudian mengunggahnya di akun sosial medianya, hingga malam menjelang tidak ada video ataupun berita lain yang membenarkan unggahan tersebut, karena pengunggah juga tidak bisa menjawabnya. Takutnya kalau dia asal memberikan komentar akan berdampak pada kelangsungan hidupnya, dia juga takut dengan bosnya.
Tania yang selama ini sangat mengagumi Ifan sekaligus membenci Sela, tersulut emosinya mendapati semua kabar yang beredar dengan cepat.
"Sebenarnya apa sih kelebihanmu, bukan hanya Marcel yang sangat tergila-gila denganmu, bahkan bos yang belum kenal lama denganmu saja sangat memujamu" Terlihat jelas kemarahan Tania bagi orang-orang yang berada di sekitarnya
"Tidak bisa sedikit ramah mbak?"
__ADS_1
Marcel yang saat itu juga berada di tempat yang sama dengan Tania, menghampirinya dan berbincang.
Tania menceritakan semua hal yang terjadi sore tadi di kantornya tanpa ada yang di tutup-tutupi, dari terjadinya penculikan yang membuat heboh seluruh isi kantor hingga kabar status pemilik perusahaan yang pastinya merupakan berita terheboh sepanjang perusahaan tersebut berdiri.
"Tidak mungkin, kamu berbohongkan?" Marcel tidak terima jika orang yang selama ini menjadi pacarnya kini sudah dimiliki oleh lelaki lain bahkan saat ini telah mengandung, bahkan Sarah mamanya Sela belum tahu sama sekali mengenai berita tersebut
"Mana mungkin tante Sarah tidak mengetahui jika anaknya kini sudah menikah dan sebentar lagi mempunyai anak" Marcel masih saja mengelak mengenai kabar yang beredar, meskipun dia sudah menyaksikan video yang tersebar di media online
Mendapatkan informasi yang sangat penting, Marcel tidak bisa lagi melanjutkan rencana awalnya untuk makan di sana. Dia memutuskan untuk mengunjungi rumah Sarah dan menanyakan secara langsung kepada Ibu Sela.
Sarah tidak kalah terkejutnya mendengar status. anaknya kini sudah menjadi seorang istri bahkan saat ini sedang mengandung. Sarah mencari suaminya ke sana-ke mari untuk menanyakan apakah sebenarnya suaminya telah mengetahuinya.
Prabu tidak merespon pertanyaan Sarah, yang ada dia lebih memilih untuk menyibukkan diri menyelesaikan pekerjaannya yang hampir tenggat waktu.
"Sudahlaha, kalau pekerjaankunini tidak selesai maka kita bisa menanggung kerugian, lagi pula bukannya mama yang mengusirnya, jadi kita sudah tidak ada kaitannya dengan perilakunya diluaran sana" Tidak ingin membuat istrinya murka Prabu memilih memberikan jawaban yang tidak menyalahkan ataupun membenarkan pertanyaan Sarah
Tidak puas dengan jawaban yang didapat dari suaminya, Sarah mengambil handphonenya dan berselancar di dunia maya, mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai siapa yang menjadi suami anaknya. Tidak sulit untuk mendapatkan informasi dari seorang Ifan, seorang pemuda yang sudah sukses diusia mudanya, dan tidak pernah menggunakan nama keluarganya meskipun orang tuanya juga pebisnis handal.
Sarah bahagia bukan kepalang, mendapatkan informasi yang saat ini anak satu-satunya memiliki suami yang sangat kaya raya, suatu keberkahan bagi dirinya dan tidak ada rasa penyesalan dia mengusir anaknya dari rumah.
"Akhirnya anak itu bisa memberikan kebahagiaan kepada ibunya, bisa aku manfaatkan mereka" Rencana jahat Sarah sudah disusun dengan sangat rapi untuk bisa menarik perhatian dari anaknya lagi dan bisa kembali ke rumahnya
****
__ADS_1
Fandi melaksanakan tugas yang dimandatkan oleh Ifan cukup lancar, tidak membutuhkan waktu lama dia ditemani beberapa anggotanya bisa melumpuhkan dan menyelamatkan Sita.
Sita tidak mau diajak pulang, jika bukan Ifan yang menjemputnya.
"Lebih baik aku tetap di sini kalau hanya kamu. yang menyelamatkan aku. Harusnya Kak Ifan yang menjadi pahlawanku"
Fandi geram mendengar perkataan Sita, sudah susah payah dia berusaha membantunya, namun kenyataannya sia-sia semua yang dia lakukan.
Sudah bisa ditebak, jika orang-orang yang menculik Sita, sebenarnya adalah bukan orang jahat, melainkan hanyalah suruhan Sita, untuk bisa mendapatkan perhatian Ifan.
"Sudahlah, kita pulang saja lagi pula mereka berteman, tidak ada yang perlu kita khawatirkan" Fandi meninggalkan lokasi tanpa membawa Sita kembali, dia merasa sudah dibodohi oleh sikapnya
Sebenarnya Ifan tidak terlalu peduli dengan peristiwa yang menimpa Sita, dalam benaknya ada penilaian yang kurang baik terhadap Sita. Takutnya dia dimanfaatkan seperti dulu lagi, dan kenyataannya memanglah benar perkiraannya.
Entahlah, Ifan bingung harus bagaimana menghadapinya besok, dan bagaiman dia harus berterus terang dengan mamanya mengenai peristiwa ini.
"Bagaimana Fan, kita serahkan ke pihak berwajib atau bagaiman?"
Ifan masih belum merespon pertanyaan Fandi, namun sayup-sayup terdengar suara perempuan yang sangat mesra memanggil Ifan.
"Mas pel*k....ini minta ditengokin katanya"
Mendengar percakapan yang sangat intim Fandi langsung mematikan ponselnya, dia merinding sendiri membayangkan apa yang sedang terjadi di seberang sana, seorang ceo yang tidak pernah mau kenal dengan seorang wanita, namun kini tidak pernah mau jauh dari seorang wanita.
__ADS_1