BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
8


__ADS_3

"Tapi, yang di sini lebih perhatiankan...."


"Tidak akan berpengaruh apapun, lebih baik simpan gombalanmu untuk perempuan yang selalu memuja-mujamu" Sela berpaling dan hendak pergi


"Namun, diantara pemujaku hanya dirimu yang selalu kupuja" Ifan berkata diiringi dengan senyuman


Sela sedikit terpengaruh dengan gombalan Ifan, namun segera sadar jika dirinya tidak akan pernah lagi menyukai lelaki yang tidak berniat tulus terhadapnya. Baginya lelaki yang tulus adalah yang akan memperjuangkannya mati-matian untuk meluluhkan hatinya.


Sela melangkah menuju ke jalan di depan rumah Ifan, namun langkah kakinya belum juga diangkat, tangannya sudah dipegang oleh Ifan, untuk mencegahnya untuk pergi.


"Mau kemana, sudah sampai juga, mengapa harus menghindar? Ayo kita masuk, kasihan mamaku" Ifan berbicara lemah lembut


Untuk menghindari penilaian negatif dari keluarga Ifan, Sela hanya mampu menurut mengikuti langkah Ifan. Penilaian dimana seorang gadis mau dibawa kemana saja oleh laki-laki. Kepalanya masih saja menunduk tidak berani mengangkat kepalanya.


"Hallo Cantik.... sini duduk dekat tante... jangan malu-malu" Mamanya Ifan memanggil Sela degan lemah lembut


"Siapa namamu sayang" Lanjutnya, beliau sangat senang melihat anak lelakinya membawa pulang seorang gadis yang terbilang cukup cantik


Sela berjalan mendekat ke arah sofa yang kini sedang diduduki oleh mamanya Ifan. Mengulurkan tangan dan menyebutkan nama setelah disambut dengan hangat "Sela tante"


"Nama yang cantik, secantik orangnya. Tante kira Ifan tidak bisa mencari seorang istri, namun nyatanya dia pandai memilih calon istri. Bahkan kecantikanmu melebihi gadis-gadis yang pernah tante kenalkan kepada Ifan" Mama Ifan masih memperhatikan Sela dari ujung kepala hingga ujung kaki


"Oh iya, tante lupa, Kenalkan.... Nama tante Trisna, Orang-orang memanggil tante dengan sebutan Tris, tapi kamu bisa panggil tante dengan sebutan mama, biar sama dengan Ifan. Jangan sungkan jika datang ke sini, kamu bisa menginap di kamar itu, tapi ingat kalian tidak boleh sekamar sebelum sah" Trisna berbicara panjang lebar


"Ti.... Tidak tante, Sela juga tidak mau sekamar dengan dia"


"Jangan munafik deh.... Bukannya ki..... " Kaki sela segera beraksi menginjak kaki Ifan agar tidak melanjutkan perkataannya

__ADS_1


"Bukannya apa Fan...." Trisna yang penasaran mulai membentak sang putra


"Jangan bilang kalian pernah tidur sekamar dan melakukan hal negatif, mama tidak mau punya anak seperti kamu Ifan" Trisna menebak kelanjutan perkataan sang putra


"Bagaimanapun hal itu sudah terjadi, kalau mama tidak mau memiliki anak seperti Ifan, lebih baik Ifan pergi sekarang dan jangan harap mama bisa bertemu dengan cucu mama yang saat ini sedang berkembang diperutnya" Ifan berbicara dengan santai


"Apa yang kamu bilang Fan.... jangan sembarangan bicara, jadi mama akan punya cucu?" Raut muka Trisna berubah berbinar mendengar perkataan Ifan


"Tidak Tante, jangan dengar omongannya" Sela segera menjawab sebelum Ifan berbicara lebih ngaco lagi


"Jadi ini yang benar perkataan siapa?"


"Sela tante"


"Ifan ma" Sela dan Ifan bicara bersamaan


"Dengan senang hati Mamaku sayang.... Bahkan sekarang Ifan juga siap jika harus menikahinya" Ifan bahkan menantang mamanya


"Betul juga Fan, sebelum kita ke dokter kalian harus sudah resmi menikah, supaya mama tidak malu jika ditanya oleh dokter. Besok pagi kita resmikan dulu, baru seminggu kemudian periksa ke dokter" Sela hanya mampu mengulum ludahnya sendiri mendengar keputusan Trisna yang sangat mendadak ketika mendengar candaan anaknya


"Malam ini, biarkan Sela tidur di sini dan kamu tidur di kamarmu sendiri, besok pagi kita berkunjung ke rumah Sela dan meresmikan hubungan kalian" Lanjut Trisna


"Jangan Tante, lebih baik jangan ke rumah" Sela tidak ingin dinilai orang tuanya menjadi gadis tidak benar setelah keluar dari kediaman orang tuanya hanya untuk bertahan hidup


"Ada apa? Mengapa tidak boleh berkunjung? Apakah kamu sudah tidak punya orang tua? Tapi tidak apa-apa meskipun begitu, sekarang kamu punya mama, Ifan dan Papanya Ifan" Trisna tidak menaruh curiga dengan reaksi Sela yang melarang keluarga Ifan berkunjung melamarnya


"Sudahlah Ma, nanti Ifan akan cerita" Ifan menghentikan percakapan antara mamanya dengan Sela

__ADS_1


Sela hanya bisa menurut untuk menginap di kediaman keluarga Ifan. Kebetulan malam ini ayah Ifan sedang di luar kota dan akan kembali besok pagi. Trisna masuk ke kamarnya diikuti oleh Ifan yang akan menceritakan masalah Sela. Sebenarnya Ifan sudah mengetahui betul keadaan keluarga Sela tanpa diketahui oleh Sela sedikitpun.


Malam hampir beranjak pagi, Selaberada di dalam kamar yang sangat bersih dan rapi dengan nuansa yang sangat elegan menggambarkan pemiliknya bukan seorang biasa saja. Sela menikmati terpaan pendingin ruangan yang sudah beberapa minggu tidak ia rasakan dan hanya berganti dengan kipas angin. Dalam dinginnya malam Sela mulai merasakan mata yang begitu berat dan tanpa disadarinya mulai terlelap dalam buaian mimpi indah hingga pagi menjelang.


****


Pagi yang ditemani rintik hujan menambah rasa malas seorang Sela untuk beranjak dari tempat tidur yang kini dia tempati. Kamar yang nyaman dan juga fasilitas bintang lima yang enggan dia tinggalkan.


Di kediaman orang tua Sela, Prabu dan Sarah sedang menikmati sarapannya ketika ada seseorang yang sedang membunyikan bel. Sarah bergegas untuk membukakan pintu, karena asisten rumah tangga mereka sedang sibuk.


Ketika pintu dibuka, Broto dengan wajah murkanya menyibak tangan Sarah yang menghalangi jalannya dan bergegas menuju ruang makan menghardik Prabu dengan kata-kata kasar.


"Sudah aku bilang, jangan sampai Sela meninggalkan Marcel, tetapi apa yang terjadi sekarang, bahkan kamu sendiri sebagai orang tuanya tidak tahu keberadaannya" Broto berbicara degan berkacak pinggang dengan napas menderu


"Bahkan saat ini Marcel sering marah-marah tidak jelas" Lanjutnya


"Duduk dulu Mas Broto, bisa kita bicarakan baik-baik, aku janji dalam seminggu ini pasti akan menemukan keberadaan Sela" Prabu merasa khawatir jika Broto menghentikan kerja sama yang sudah mereka sepakati


"Apakah kamu yakin bisa menemukan anak perempuanmu dalam seminggu?" Tantang Broto


"Aku janji Mas, bahkan sebelum seminggu akan aku beri kabar baik kepada Mas Broto dan Marcel"


"Baik, akan aku pegang janjimu, namun.... jika kamu mengingkari kata-kata barusan kamu akan tahu akibatnya"


"Aku tahu dan paham apa yang akan terjadi, lebih baik Mas Broto duduk dan kita sarapan bersama-sama"


Sarah mengambil piring yang berisi makanan dan diberikan kepada Broto agar amarahnya mereda, Sarah ketakutan melihat wajah marah Broto yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Selepas kepergian Broto dari rumahnya, Prabu mencari informasi ke beberapa teman Sela termasuk Tania.


__ADS_2