BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
35


__ADS_3

Ifan belum sempat memejamkan matanya ketika sebuah panggilan telepon berdering dan terliskan nama Bu Marni, mengetahui jika terjadi sesuatu dengan Sela karena sebelumnya Ifan pernah berpesan jangan pernah menghubunginya jika tidak berkaitan dengan Sela.


"Mas, maaf Mbak Sela masuk rumah sakit lagi"


Mendengar ucapan Bu Marni, Ifan menyambar kunci mobilnya dan tanpa berkata kepada Ifan ataupun Trisna dia keluar dari apartemennya, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, untungnya jalanan diwaktu malam sudah tidak sepakat ketika petang hari.


Tidap perlu waktu lama bagi Ifan untuk sampai ke rumah sakit, memarkirkan mobilnya baru menuju ke ruang gawat darurat. Sela sedang dalam perawatan seorang dokter jaga dibantu beberapa tenaga kesehatan. Di luar ruangan Bu Marni berdiri dengan tegang, takut jika kena amarah Ifan lagi.


"Bagaimana ini bisa terjadi Bu?" Ifan mendekati Bu Marni dan bertanya dengan suara lirih


"Saya juga tidak tahu Mas, hanya tadi sempat terdengar teriakan Mbak Sela dari dalam kamarnya, bahkan semua penghuni berhamburan menuju kamar Mbak Sela" Bu Marni menjelaskan apa yang dia ketahui


"Berulang kali penghuni lain memanggil namun tidak ada sahutan dari dalam, setelah saya berhasil mendobrak pintu, Mbak Sela sudah saya temukan dalam kondisi lemah" Lanjut Bu Marni


Ifan masih belum mau berspekulasi mengenai peristiwa yang menimpa Sela saat ini. Mungkin hanya kecelakaan kecil saja. Melihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan, Ifan berdiri dan menghadang dokter tersebut.


"Bapak boleh ikut saya ke kantor" Dokter jaga tersebut berbicara tanpa memandang Ifan dan berjalan memimpin diikuti oleh Ifan di belakangnya


Ifan terlihat dongkol dengan perilaku dokter di depannya itu. Bukannya mereka tidak saling mengenal, namun dokter tersebut terlihat sangat sibuk dan tengah fokus membaca ulang laporan kesehatan Sela.


Dokter tersebut masih fokus dengan kertas di tangannya sembari mengambil beberapa catatan dari lemarinya, hingga belum sempat mempersilakan Ifan untuk duduk. Namun, karena sudah sangat lelah Ifan langsung duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut, tanpa menghiraukan dokter yang belum memperhatikannya.


Dokter terlihat terperangah tatkala melihat sosok yang mengikutinya sejak tadi.


"Lho, mengapa jadi kamu yang ikut denganku? Mana keluarga pasien?" Dokter mencari hingga ke luar ruangannya


"He... sini, keluarga pasien mana yang kamu cari?"


"Pasien yang ada di unit gawat darurat, parah memang keluarganya. Sudah tahu wanita hamil muda tetapi dibiarkan hidup sendiri" Dokter masih belum paham kalau Ifan adalah keluarga pasien

__ADS_1


"Oh iya, ada perlu apa kamu kemari? Sambil menunggu mereka masuk kita bincang-bincang dahulu, sudah lama tidak bertemu sejak tiga tahun yang lalu. Bagaimana kabarmu" Dokter tersebut adalah sahabat Ifan ketika menempuh pendidikan sarjana


"Yang pertama kabar aku baik, dan yang kedua aku adalah suami dari pasien yang saat ini berada di unit gawat darurat yang baru saja selesai kamu periksa"


"Tidak mungkin" Dokter jaga masih belum percaya dengan pengakuan Ifan


Sedangkan pasien sendiri bilang jika kini di hidup sendiri tanpa ada suami. Dan yang mengantar hanyalah seorang tetangga kos yang selalu baik kepadanya


"Aku tidak butuh kamu percaya atau tidak, namun yang pasti saat ini aku ingin segera mendengar bagaimana keadaan istriku" Ifan sudah tidak sabar mengetahui keadaan Sela yang masih terbaring lemas di tempat yang sama sewaktu datang di rumah sakit ini


Dokter jaga tidak bercanda lagi, ketika mendengar perkataan Ifan yang sudah mulai berat, menandakan ada kekhawatiran di sana. Sang Dokter jaga menjelaskan jika pasien seperti mengalami ketakutan, namun saat ditanya dia tidak mau terus terang.


Ifan meninggalkan ruangan tersebut tanpa pamit dan segera memasuki unit tawar darurat, saat ini dia sudah tidak akan mendengar semua perkataan Sela jika nantinya dia menarahinya sudah berani berada di ruangan yang sama dengan Sela.


Kebetulan Sela terlelap dalam tidurnya setelah diperiksa dan dijaga oleh Bu Marni. Ifan meminta Bu Marni untuk keluar dan menggantikannya duduk di kursi yang berada di samping brangkar. Genggaman Ifan sangat erat, dia tidak ingin melepaskannya lagi, dia berjanji akan membuat Sela jatuh cinta padanya dan tidak membencinya lagi.


Tengah malam Sela mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu yang sangat terang, dia tidak ingat jika saat ini dia berada di rumah sakit. Lebih terkejut lagi saat dia menyaksikan ada seorang laki-laki yang menggenggam tangannya erat dan meletakkan kepalanya bertumpu pada tangan yang lainnya. Sela tidak melihat wajahnya secara langsung namun dia juga hafal siapa yang ada di sini sast ini.


"Cepat sembuh ya.... jangan membuat aku merasa tidak bisa melindungimu, maafkan aku karena aku, kamu harus mengalami ini semua" Ifan mengec*p sekilas kening Sela kemudian meninggalkan Sela sendiri agar lebih lelap lagi tidurnya.


Ifan menuju toilet, membasuh mukanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa kantuk yang menghampirinya. Saat ini dia ingin terjaga dan menjaga Sela dari apapun yang akan mengganggunya.


****


Trisna dan Fandi dibuat khawatir karena kepergian Ifan tanpa pamit setelah mendapatkan telepon entah dari mana.


"Fandi, kamu tahu tidak kemana perginya Ifan?"


"Mana Fandi tahu tante... lagian kayak jaelangkung dia pergi tanpa pamit"

__ADS_1


"Hust.... Kalau bicara dijaga. Enak saja anak ganteng tante dikatain jaelangkung"


"Coba cari tahu ke teman-temanmu"


Fandi mencoba menghubungi beberapa sahabat mereka, namun tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Ifan.


"Kamu itu, disuruh mencari informasi saja tidak becus, mana handphonemu" Trisna merebut handphone milik Fandi dan mencari nomor yang bisa dihubungi dan berpotensi mengetahui keberadaan Ifan


Trisna menemukan sebuah nomor yang tersimpan di handphone Fandi dengan photo profil yang sekilas sangat mirip dengan milik seseorang.


"Ini nomor siapa Fan? Mengapa tante sangat familiar dengan profilnya?"


"Mana mungkin tante mengenalnya, itu milik seorang yang Fandi minta untuk membuat logo perusahaan yang baru saja kita menangkan kerja samanya"


"Masa sih, tapi tante beneran tidak asing Fan..."


"Kalau tante tidak percaya coba saja dihubungi"


Trisna menghubungi melalui handphone milik Fandi, beberapa kali terdengar tersambung, namun tidak ada jawaban dari seberang.


"Bagaimana tante?"


"Tidak di angkat"


Sela mendengar beberapa kali handphonenya berbunyi ketika dia masih di dalam toilet. Dia tidak membangunkan Ifan yang kini tidur di sofa yang ada di ruangannya. Sela menghubungi balik nomor yang dia ketahui dari perusahaan yang pernah memintanya untuk membuatkan sebuah desain logo.


Trisna segera mengangkat panggilan tersebut. Namun, alangkah terkejutnya saat suara yang dia dengar pertama kali adalah suara Sela. Trisna tidak berkata apa-apa dan langsung menyerahkan kepada Fandi dengan bicara berbisik dengan Fandi, jika yang berada di seberang sana adalah Sela.


Trisna tidak ingin Sela tahu jika perusahaan yang pernah bekerja sama dengan dia adalah milik Ifan.

__ADS_1


"Mengapa tante menyerahkan handphonenya ke Fandi?"


"Kami bod*h atau bagaimana, kalau kamu saja tidak mengetahui itu nomor milik Sela, pasti Ifan merahasiakan dari Sela jika dia membuatkan desain untuk perusahaan Ifan. Kalau sampai tante mengeluarkan suara berarti tante bisa membongkar rahasia Ifan"


__ADS_2