BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
36


__ADS_3

Fandi hanya berbasa-basi menanyakan kabar Sela saat ini, tidak lupa dia juga menyampaikan terima kasih atas kerja sama yang pernah terjalin, tidak lupa Fandi juga berjanji jika ada pekerjaan lain lagi, dia akan segera menghubunginya.


Fandi segera menutup panggilan telepon tersebut untuk menghindari dia kelepasan berbicara ke mana-mana yang mengakibatkan Sela menaruh curiga tentang siapa dirinya.


Ifan sudah berdiri di belakang Sela semenjak Sela melakukan panggilan telepon, dia melingkarkan tangannya di perut Sela dan mengelus lembut pelindung calon anaknya. Sela terperanjat mendapatkan perlakuan dari seseorang yang entah siapa, dia juga bersiap untuk memukulnya. Namun belum juga berhasil, suara Ifan terdengar di telinganya.


"Say*ng, pagi-pagi sudah menelphone orang, memangnya siapa yang di seberang?" Ifan berbicara dengan lembut tepat di belakang telinga Sela dan membuat Sela merinding


Sela berusaha melepaskan diri dari tangan kokoh Ifan yang masih setia di perutnya. Namun, karena tenaganya yang masih lemah dia tidak bisa melepaskannya. Takut menyakiti anaknya yang sedang tumbuh di dalam perutnya, Sela memilih untuk diam dan menikmati setiap s*ntuhan yang dilakukan oleh Ifan, yang sudah beberapa hari tidak dia dapatkan. Tanpa Sela sadari rasa nyaman karena s*ntuhan Ifan yang memang sudah sangat dia rindukan membuatnya memej*mkan matanya.


"Say*ng, kita duduk ya... Kakiku pegal" Mendengar perkataan Ifan, membuat Sela tersipu mengingat tingkahnya yang sangat nyaman dalam p*lukan Ifan


Mereka duduk di sofa berdampingan, Ifan tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia berusaha mengambil hati Sela kembali agar bisa mempercayainya meskipun rasa cinta dalam diri Sela masih belum terlihat sempurna, namun ketika mengingat kenyamanan Sela berada dalam pel*kannya tadi, Ifan yakin jika sebenarnya sudah ada sedikit rasa nyaman di hati Sela.


"Makan baru minum obatnya" Ifan menyuapi makanan yang sudah disiapkan oleh rumah sakit, namun Sela tetap menutup mulutnya


"Mengapa, apakah tidak enak? atau mau makanan yang lain? Biar Fandi nanti mengantarnya" Ifan berbicara selembut mungkin


"Apa urusannya dengan Fandi, bukannya yang ada di dalam sini anak kamu, mengapa kamu tidak mau mencarikannya, atau biarkan saja nanti setelah lahir anak ini dimiliki oleh Fandi" Ifan membola mendengar ucapan Sela, sebenarnya tidak ada maksud Ifan untuk tidak mengurus mereka sendiri, tapi bukannya uang yang digunakan juga uangnya, bukan uang Fandi.


"Jangan dong, itukan yang buat aku, mengapa dikasihkan Fandi, memangnya dia siapa?" Ifan seperti anak kecil yang sedang merajuk


"Buktinya masih mau meminta Fandi untuk membawakan makanan untukku, jadi ini milik Fandi" Sela semakin menggoda Ifan


"Baik, segera aku membeli makanan yang ingin kamu makan. Coba sebutkan mau makan apa?"


"Hm...." Sela masih memikirkan apa yang akan dia makan hati ini dengan serius

__ADS_1


"Aku mau makan seblak, cilok, mie ayam, bakso, siomay, rujak es krim, dan juga martabak"


"Itu mau kamu makan sendiri atau mau makan se-RT?" Ifan terkejut mendengar berbagai macam makanan khas anak SD yang disebutkan oleh Sela, bahkan jumlahnya juga sangat banyak


Sela memilih untuk menghindari Ifan yang keberatan untuk membelinya, memperlihatkan wajah marahnya. Ifan segera mengikutinya dari belakang dan berulang kali meminta maaf.


"Iya, apapun yang kamu mau akan aku belikan, tunggu Bu Marni dahulu, baru aku berangkat"


"Sekarang, aku maunya sekarang"


"Tapi, di sini bahaya kalau kamu sendirian"


Ifan menghubungi Bu Marni dan memintanya segera datang ke rumah sakit, menggantikannya menemani Sela, sementara dia akan segera berangkat mencari pesanan Sela.


Bu Marni bergegas bersiap, dia tidak ingin mendapat amarah dari Ifan lagi. Tidak memerlukan waktu lama bagi Bu Marni untuk sampai ke rumah sakit kembali, semua pekerjaannya dia tinggalkan, bahkan dia sendiri belum sempat mandi.


"Cepat masuk, tunggu istri saya. Jangan sampai ditinggalkan sendirian" Perintah Ifan membuat Sela bertanya-tanya, mengapa dengan seenaknya Ifan memerintah Bu Marni padahal beliaulah yang telah menolongnya


"Siap Pak" Jawab Bu Marni tegas tanpa ada bantahan


Sela memandangi kepergian suaminya, bersemangat keluar ruangan untuk membeli semua pesanannya. Sebenarnya Sela hanya bergurau saja mengenai makanan yang dia sebutkan, dia hanya ingin melihat kesungguhan Ifan yang ingin melindungi dan membahagiakannya. Dengan begitu Sela bisa mengambil keputusan yang terbaik dalam hidupnya.


"Bu Marni di bayar berapa sama Ifan?" Sela sangat penasaran dengan status Bu Marni yang sebenarnya, namun untuk bertanya terus terang rasanya tidak enak


"Mbak Sela mau tahu?" Sela mengangguk dengan cepat


"Begini mbak, saya sudah bekerja dengan keluarga mas Ifan sangat lama, bahkan saya sudah dianggap seperti keluarganya, semua kebutuhan saya dipenuhi. Mas Ifan sudah seperti anak bagi Ibu. Hingga saya tahu jika Mbak Sela adalah istrinya Mas Ifan, awalnya saya tidak percaya dan sesuatu yang menimpa mbak Sela waktu itu, karena keterlambatan saya menolong kamu, hampir saya dipecat oleh Ifan bahkan dia sangat marah besar. Dia mengatakan jika mbak Sela adalah prioritas penjagaan, kalau sampai terjadi sesuatu lagi mungkin saya akan dipecat" Bu Marni menjelaskan semuanya

__ADS_1


"Apakah benar seperti itu?" Sela masih tidak percaya


"Benar Mbak, Mas Ifan sangan ingin melindungi mbak Sela. Menurut saya lebih baik mbak Sela pulang bersama Mas Ifan dari pada harus hidup sendiri di kos yang sewaktu-waktu akan ada sesuatu yang mengancam, bukannya kemarin mbak ketakutan karena tiba-tiba ada seseorang yang muncul lewat jendela?" Bu Marni sudah mendapatkan informasi yang valid mengenai peristiwa yang dialami oleh Sela kemarin


"Dari mana Bu Marni tahu?"


Bu Marni menceritakan semua kejadian yang menimpa perusahaan Ifan saat ini, dan bukan tidak mungkin jika suatu saat Sela akan menjadi objek untuk menjatuhkan Ifan.


"Apakah memang begitu? Sebuah bisnis harus saling menjatuhkan dan segala macam cara dihalalkan" Sela merenung, mengenang papanya yang bekerja di bawah tekanan mamanya dan dia harus berpacaran dengan Marcel demi kelangsungan hidup perusahaan papanya


Bu Marni hanya mengangguk sebagai jawabannya, dia tidak menyalahkan semua asumsi Sela. Bisnis memang sangan keras dan juga harus memiliki strategi yang handal untuk mengalahkan lawannya. Bahkan tidak hanya strategi melainkan semua harus didukung oleh kerja keras dan orang-orang yang loyal. Sekali ada penyusup maka dalam waktu yang tidak lama pasti perusahaan itu akan hancur.


"Jadi, semua orang yang berada di puncak pimpinan adalah orang-orang yang dapat dipercaya?"


"Sekali ketahuan mereka tidak loyal, maka tidak segan-segan untuk dihabisi, untuk menghindari kebocoran rahasia perusahaan"


Ifan sudah kembali dengan membawa semua pesanan Sela.


"Semua sudah aku beli, sekarang kamu makan ya... " Ifan menyiapkan sendiri makanan yang dia beli ke beberapa piring


Sela menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak, tidak mungkin aku makan pedas. Bisa-bisa perut aku sakit"


"Lalu, siapa yang akan makan semua ini?" Ifan tidak habis pikir, rasa capeknya yang sudah tidak dia rasanya demi membeli semua makanan ini, tapi kenyataannya tidak di sentuh sama sekali oleh pemesannya


"Panggil saja Fandi, dan semua makanan ini harus habis sekarang juga jangan sampai tersisa sedikitpun, kalau sampai tersisa jangan harap aku mau pulang bersamamu"

__ADS_1


__ADS_2