BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
46


__ADS_3

Ifan meminta Sela untuk sesekali datang ke perusahaannya, karena dia merasa saat ini ada gosip di kantornya mengenai hubungannya dengan Sita.


Selain itu ada gosip yang mengatakan jika pimpinan perusahaan yang dikenal belum menikah tetapi sudah hidup serumah dengan seorang gadis muda. Hal itu membuat telinganya sedikit panas, dia ingin membuka statusnya saat ini.


"Tapi aku malu jika harus ke perusahaan. Lagi pula aku tidak memiliki baju yang sesuai untuk ke sana"


"Sayang, kami bisa memakai baju apapun yang terpenting kamu nyaman dan tidak melukai yang ada di dalam sini" Ifan mengelus perut Sela yang belum sepenuhnya terlihat seperti wanita hamil


"Baiklah, besok siang aku akan datang ke perusahaan dengan membawa makan siang untukmu"


Ifan sangat senang mendengar penuturan istrinya. Malam ini Ifan lebih semangat menyiapkan keperluannya. Namun, tidak bagi Sela yang kini merasa sangat gugup. Belum lagi harus bertemu dengan Tania pastinya, dia harus bicara bagaimana jika bertemu dengannya.


"Tidak usah gugupgugup dan takut, akan aku jemput di pintu masuk" Ifan merasakan kegugupan yang dirasakan Sela, Ifan meraih tangan Sela dan berusaha menenangkannya


****


Pagi ini, Sela terlihat lebih sibuk dibandingkan hari-hari biasanya, selain memilih baju yang akan dia kenakan siang ini ke perusahaan Ifan, dia juga menyiapkan beberapa bahan makanan yang akan dia masak sendiri nantinya.


Bu Marni yang tidak biasanya melihat Sela sibuk dan gugup, mendekatinya dan bertanya


"Mbak Sela tumben hari ini sibuk banget"


"Iya Bu, Karena..... " Sela tidak mau berterus terang mengenai rencananya siang ini untuk mengantarkan makan siang untuk Ifan di kantor


"Tidak Bu, hanya ingin banyak gerak saja supaya yang di dalam juga sehat" Sela tersenyum manis dan berpamitan kepada Bu Marni untuk ke kamarnya


Sela menyiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan, memesan taksi online yang kini lebih marak digunakan oleh kalangan manapun, bukan Ifan tidak memberikan fasilitas tersebut, namun Sela tidak mau memilih hal itu. Karena menurutnya hanya sebuah pemborosan, Sela yang jarang keluar rumah dan memilih untuk memanfaatkan fasilitas umum.

__ADS_1


Bergegas turun setelah mendapatkan chat dari sopir taksi, sampai di kantor tidak ada yang mengira sama sekali jika Sela yang datang dengan menggunakan taksi online bahkan pakaian yang jauh dari merek terkenal, tidak seperti waktu Sela masih hidup dengan orang tuanya, yang sekarang dia lebih memilih kenyamanan.


Ifan belum turun ketika Sela mulai memasuki gedung bertingkat tersebut, sempat dicegahnoleh seorang satpam dan harus menunggu terlebih dahulu, namun tidak menyurutkan niat Sela yang tidak mau menghubungi suaminya.


Tidak lama ada seorang laki-laki muda yang memasuki kantor dan duduk di dekat Sela, menanyakan mengenai gosip yang beredar di kantor ini dan memperlihatkan sebuah foto Ifan yang memeluk seorang wanita muda. Sela hanya tersenyum melihatnya dan mengatakan dia tidak tahu gosip yang beredar di kantor ini, karena dia juga pengunjung.


Lelaki itu bertanya pada seorang wanita muda yang baru turun, dan mengenalo bahwa seorang laki-laki itu adalah reporter, dengan bangganya wanita muda itu mengatakan jika dia adalah pacar Ifan dan yang berada di foto tersebut adalah dirinya yang kini sudah tinggal serimah sejak beberapa waktu yang lalu.


"Maaf mas, mungkin itu saja pernyataan saya, dan kami mohon jangan dibesar-besarkan karena kami semua sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan buruk"


Adanya kegaduhan itu, kesempatan bagi Sela untuk mencari ruangan suaminya. Dan menemukannya sebelum kegaduhan di bawah sana selesai.


"S*yang, mengapa tidak memberi kabar kalau sudah sampai kantor, katanya masih dalam perjalanan" Ifan berdiri dari kursi kebesarannya dan menghampiri Sela yang bertingkah lucu, mengerucutkan mulutnya dan bermuka masam


Sela tidak menerima uluran tangan Ifan dan memilih untuk duduk di sofa yang berada tidak jauh dari meja milik Ifan. Masih dengan wajah kurang bersahabat, Sela mengeluarkan semua barang bawaannya. Makanan yang sedianya dibuat khusus untuk suaminya, karena moodnya yang kurang bagus malah dia makan sendiri.


"Haus.... ambilin minum"


Ifan membuka segel penutup minuman mineral yang dibawa Sela dari rumah dan menyerahkannya setelah membuka penutupnya


"Terima kasih..." Senyuman Sela membuat lega Ifan, pertanda baik jika senyuman itu sudah terbit di mulut Sela


Setelah rasa lapar di perut Sela hilang, dia menceritakan kejadian yang terjadi di bawah sebelum dia menemukan ruangan Ifan. Mendengar hal itu Ifan tersenyum, jika istrinya tidak mempermasalahkan gosip yang beredar di kalangan karyawannya, Sela masih dalam pendiriannya toh yang ada di foto tersebut adalah dirinya. Tidak ada rasa khawatir dalam diri Sela.


Di lantai bawah banyak karyawan yang mulai bergosip lagi mengenai kebenaran yang diungkapkan Sita baru saja. Ada yang mengatakan jika hal itu bohong, rambut Sita dan yang difoto berbeda jauh. Namun, ada juga yang termakan dengan omongan Sita, wajar jika Ifan memiliki pacar yang cantik seperti Sita. Bahkan ruangannya saja dibuat secara khusus dan bersebelahan dengan bos mereka.


Kasak-kusuk tersebut terhenti, ketika ada beberapa orang dengan mengendarai mobil mewah terparkir di depan lobi dan memasuki lobi.

__ADS_1


"Saya mencari pacar dari pemilik perusahaan ini" Suara lantang yang diucapkan oleh lelaki yang pastinya dia adalah pemimpin dari sekelompok orang yang memasuki kantor tanpa ijin


Karena baru saja ada pengakuan dari Sita jika dirinyalah pacar dari Ifan, maka ada yang memanggil Sita untuk menemui orang-orang tidak dikenal tersebut.


Tanpa aba-aba setelah melihat Sita turun dan mendekat ke arah mereka, tangan Sita di tarik paksa untuk masuk ke dalam mobil. Dan terjadilah keributan, namun mobil sudah berlalu pergi. Dan ada salah satu dari mereka yang melempar sebuah kertas.


"Pak Ifan... Pak Ifan... "


Tania menggedor pintu ruangan Ifan, karena entah sejak kapan pintu ruangan Ifan terkunci rapat. Ifan segera membukanya karena tidak mau mendengar kebisingan.


"Ada apa? Bisakah tidak bersikap brutal seperti tadi?"


Tania menyerahkan selembar kertas kepada Ifan.


"Dari mana dan untuk siapa?"


Ifan tidak tahu mengenai peristiwa yang baru saja terjadi di bawah.


"Buat Pak Ifan, di kertas itu tertulis jelas untuk pacar Sita"


"Tapi saya bukan pacarnya"


Tania hanya bisa melongo mendengar ucapan Ifan yang tidak menganggap Sita adalah pacarnya sedangkan tadi sempat dia dengan bahwa Sita mengakui jika Ifan adalah pacarnya dan membenarkan semua gosip yang beredar di perusahaan.


Tania kegirangan mendengar pengakuan Ifan, dan segera mengabarkan kepada teman-temannya jika bukan Pak Ifan pacar Sita.


"Lalu ditujukan untuk siapa surat itu?"

__ADS_1


__ADS_2