BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
33


__ADS_3

Keadaan perusahaan Ifan saat ini sedang kacau, para teknisi handal dikumpulkan untuk menghapus semua virus yang merambah ke sebagian komputer perusahaan.


Ifan bergegas menuju ke ruangannya diikuti oleh Fandi dan juga beberapa teknisi handal perusahaan, semuanya dalam keadaan tegang di depan laptopnya masing-masing, memasukkan setiap kode-kode yang sulit dipecahkan.


Semua orang hampir frustasi dibuatnya, hampir tengah hari mereka belum juga terpecahkan, mereka sampai melupakan waktu makan siang.


"Bagaimana Fan, apakah kamu sudah menemukan solusinya?"


"Sangat profesional dan akurat, mereka menyerang sistem vital kita, sepertinya mereka sudah mengibarkan bendera perang kepada kita"


"Belum tentu dari mereka, lebih baik kita mendalami dari mana asalnya virus-virus itu, jangan sampai kita salah menyerang balik"


"Perintahkan untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam, tetapi utamakan selesai dahulu virus yang menyerang sistem pusat" Ifan memberikan penrintah kepada ketua tim IT


Ketua tim IT memilih tiga orang yang memiliki kemampuan mencari asal usul dari virus, dan yang lainnya menyelesaikan permasalahan utama. Mereka kembali fokus di depan laptopnya masing-masing.


***


Sela masih sibuk dengan barang-barang yang dia dapatkan dari rumah sakit dibantu oleh Bu Marni, sebelum meninggalkan kamar kos Sela Bu Marni menyempatkan diri memasak air dan juga menyatakan semua barang di lemari milik Sela.


"Biarkan di sana saja Bu, nanti setelah Sela istirahat sebentar akan aku rapikan sendiri" Sela tidak enak hati selama dia di rumah sakit hingga saat ini selalu merepotkan Bu Marni


"Sudah menjadi kewajiban jika tetangga ada yang memerlukan bantuan kita saling membantu, jangan tidak enak hati, Ibu disini ikhlas membantu Mbak Sela, mungkin suatu saat Ibu juga membutuhkan bantuan Mbak Sela"

__ADS_1


Sela tidak bisa menghentikan Bu Marni yang tengah sibuk membantunya membereskan barangnya.


Tanpa disengaja ketika Sela mengambil gelas untuk minum, gelas tersebut terjatuh tepat di bawahnya hampir mengenai kakinya yang tanpa memakai alas menjadi pecah berkeping-keping, entah mengapa saat itu Sela terpikirkan Ifan.


"Astaga" Sela terkejut melihat gelas yang sudah tidak berbentuk lagi


"Ada apa mbak?" Bu Marni yang hampir keluar kamar kos milik Sela berlari menghampiri Sela yang masih berdiri shock


"Tidak apa-apa Bu, mungkin Sela butuh istirahat saja, Bu Marni istirahat saja biar nanti Sela bersihkan" Sela berjalan ke kasur kesayangannya dan merebahkan b*dannya yang terasa capek


Karena Bu Marni juga butuh istirahat karena sudah beberapa hari dia tidak bisa istirahat dengan tenang, Bu Marni meninggalkan pecahan gelas tersebut masih berhamburan di lantai.


Hingga malam menjelang, Sela baru bangun dari tidurnya, baru kali ini Sela bisa tidur dengan lelap setelah beberapa hari yang lalu. Kamar yang sudah mulai gelap, membuat indra penglihatan Sela berkurang, Sela meraih handphone dan menyalakan senter sebagai penerangan menuju ke saklar lampu yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya.


Karena perasaannya yang kalut hingga petang ini, Ifan keluar kantor sendirian menuju tempat kos Sela, dilihatnya kamar yang masih gelap membuatnya didera rasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada Sela. Ifan merogoh saku celananya dan mengambil alat komunikasi khusus untuk timnya, Dia menghubungi seseorang dan memintanya untuk mengecek Keadaan Sela.


"S*y*ng kamu tidak apa-apa?" Ifan meraih dan meny*sap jari Sela yang mengeluarkan cairan berwarna merah segar"


Sela yang masih menyimpan perasaan kesal terhadap Ifan namun juga senang karena melihat Ifan dalam keadaan sehat, langsung menarik tangannya dan berdiri membersihkannya di wastafel.


"Sekarang kamu boleh pergi dari sini, karena tidak ada yang bisa kamu kerjakan di sini. Asal kamu tahu aku bisa hidup dan menjaga diri sendiri" Sela tidak menghiraukan keberadaan Ifan yang masih berdiri memperhatikannya dari jarak dekat


Ifan membuang nafas frustasi, sebuah angan indah yang dia harapkan, ternyata tidak sesuai dengan yang dipikirkan.

__ADS_1


Bu Marni yang berdiri di ambang pintu bergegas mendekat ke arah Sela untuk membantunya, mewakili sang bigbos.


"Maaf Mbak Sela harusnya sebelum pergi tadi siang aku membersihkannya dahulu, seandainya aku tidak teledor pasti tidak akan kejadian seperti ini" Bu Marni sangat menyesal dengan keteledorannya kali ini, selama dia bekerja dengan keluarga Ifan dia tidak pernah membuat kesalahan sedikitpun, tetapi mengapa saat ini mulai membuat kesalahan yang tidak penting


Bu Marni sudah menyiapkan mental jika nanti dia menerima hukuman dari bosnyabosnya. Ifan menunggu di luar sambil menunggu Bu Marni menyelesaikan tugasnya.


"Bu Marni, maaf Sela merepotkan Ibu, harusnya bukan tanggung jawab ibu menjaga saya"


Untuk menutupi identitasnya setelah selesai membersihkan pecahan gelas Bu Marni bergegas meninggalkan kamar Sela dan menghampiri Ifan yang duduk di dalam mobilnya.


"Maafkan saya Mas Ifan atas keteledoran yang saya perbuat, karena saya fikir Mbak Sela bukanlah seseorang yang harus saya lindungi dengan benar dan detail"


Mendingan ucapan Bu Marni, Ifan naik pitam dan keluar dari dalam mobilnya, ditutupnya pintu mobil dengan keras menggambarkan kemarahannya saat ini yang sedang memuncak dengan berbagai hal yang terjadi hari ini.


"Bu Marni sekali lagi bilang jika Sela bukanlah prioritas, lebih baik Bu Marni segera meninggalkan tempat ini dan jangan pernah memperlihatkan batang hidung ibu dihadapanku" Ifan menekankan kata-katanya dengan sedikit tertahan, meskipun dalam keadaan emosi yang memuncak dia masih menghormati orang yang lebih tua meskipun dia tahu telah berbuat salah


"Maaf Mas, sekali lagi saya minta maaf dan saya pastikan tidak akan pernah saya ulangi lagi"


Untuk menghindari perbuatannya yang melebihi batas, Ifan segera masuk kembali ke mobil dan menginjak pedal gasnya, mengaspal dengan kecepatan diatas rata-rata.


"Halo bos, semua data sudah kembali dan virus yang menyerang sudah mendapatkan formula yang sangat ampuh, saat ini kami sedang mencari asal penyerang" Sebuah kabar yang diterima Ifan, sedikit mendinginkan suasana hatinya, dengan ditemukannya penyebar virus untuk sistem di perusahaannya, maka sudah dipastikan dia mendapatkan sebuah bukti kuat untuk meyakinkan Sela, jika saat ini dia dalam posisi bahaya.


"Baik saya akan segera kembali" Kata singkat yang keluar dari mulut Ifan mengakhiri pembicaraannya melalui telepon

__ADS_1


Di tempat lain seseorang melampiaskan kemarahannya, karena teror virus yang dia sebar bisa ditaklukkan oleh musuh yang menjadi target utamanya.


"Bagaimana kerja kalian, mana buktinya jika teror itu tidak terkalahkan, bahkan hanya dalam waktu setengah hari mereka sudah bisa menaklukkannya,"


__ADS_2