BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
14


__ADS_3

"Tidak... tidak" Ifan dan Fandi menjawab bersamaan dan mereka saling pandang dengan tatapan jijik satu sama lain mendengar pertanyaan Sela mengenai mereka berdua adalah pasangan


"Kalau bukan pasangan mengapa perlu penjelasan? Dan sepertinya Mas...."


"Fandi" Fandi memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya ketika Sela tidak bisa menyebutkan namanya


"Oh.... Mas Fandi juga sepertinya tidak suka dengan keberadaan Sela di sini, jadi lebih baik Sela keluar dari sini" Sela memiliki alasan untuk segera pergi dari apartemen Ifan, dia tidak akan mempermasalahkan kesalahan yang sudah mereka lakukan semalam asalkan dia bisa keluar secepatnya dan segera memikirkan usaha yang akan dia jalani, kalaupun suatu saat ada janin di dalam perutnya akan Sela terima dengan senang hati


"Sayang, bukan begitu... dengarkan dulu penjelasanku" Ifan mencegah Sela yang akan meninggalkannya


"Fandi sekarang kamu duduk" Ifan memerintah dengan tegas


Fandi menurut dan duduk di sofa panjang yang tersedia di sana, karena hanya sofa inilah yang berada di ruang tamu milik Ifan ditemani meja kecil. Sela tidak mau duduk di sofa yang sama dengan Fandi dan Ifan, Sela merasa jijik jika benar Ifan menyimpang dan malah men*dur*nya semalam.


"Sayang duduk sini" Ifan menepuk sofa di sampingnya dan meminta Sela untuk duduk di sana


"Aku akan cari kursi di dapur" Sela bergegas mengambil kursi plastik yang berada di dapur dan duduk di seberang mereka


Ifan menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara, sebenarnya Ifan enggan untuk menjelaskan sesuatu yang sudah jelas di hadapan Fandi, namun untuk mendapatkan kepercayaan dari Sela, dia terpaksa harus berbicara yang sejujurnya kepada Fandi saat ini juga.


"Baiklah Fan, sebenarnya tadi aku sudah bilang jika dia adalah istriku, namanya Sela dan baru beberapa hari kami melangsungkan akad dan diketahui oleh mamaku" Ifan menjeda perkataan yang sebelum melanjutkan


"Dan Sela, dia adalah Fandi sepupuku dari mama, dan kami sudah berteman sejak kami masih sekolah dasar hingga saat ini, dia juga merupakan orang kepercayaanku di perusahaan, jadi jangan salah paham mengenai hubungan kami, kami masih menyukai lawan jenis dan masih normal" Ifan menjelaskan siapa Fandi sebenarnya


"Oh.... jadi apakah Sela boleh pergi sekarang?" Sela menahan rasa malunya karena sudah berfikir macam-macam tentang suaminya

__ADS_1


Sela pergi ke kamar dan tidak ingin terlihat pembicaraan lagi dengan mereka, Sela sunggu dibuat malu dengan pikirannya sendiri.


"Masih mau tetap di sini atau mau keluar sekarang? atau mau aku panggilkan security untuk menyeretmu" Ifan sedikit menekan perkataannya agar tidak didengar oleh Sela yang saat ono berada di dalam kamar


"Galak banget, baiklah aku akan pergi sekarang dan tidak akan mengganggu lagi pengantin baru, jangan lupa segera beri aku keponakan yang ganteng, Masalah pekerjaan biar aku yang menanganinya terlebih dahulu" Fandi berlari secepat kilat setelah berucap, takut jika akan mendapat bog*m mentah dari Ifan


Ifan menyendiri di teras balkon ditemani sebatang r*kok yang bertengger diantara bibirnya, dia ingin menenangkan diri sebelum kembali ke kamarnya dan berbicara dengan Sela. Yang masih terlihat jelas dari perkataannya tadi ingin pergi dari sisinya dan tidak mempermasalahkan peristiwa semalam. Padahal bagi dirinya adalah momen yang sangat membahagiakan dalam hidupnya yang belum pernah dia rasakan.


Ifan baru menyadari jika Sela keluar dari kamar dengan membawa tas besar yang beberapa waktu lalu dia bawa dari tempat kosnya. Dia berlari menghampiri Sela yang hampir membuka pintu keluar apartemen.


"Sayang, mengapa kamu membawa tas?" Ifan memel*k erat Sela dari belakang untuk menghentikan pergerakan Sela


"Bukannya tadi sudah jelas, aku akan pergi dari sini"


"Lalu kamu akan pergi kemana?"


"Tunggu aku, biar aku antar" Ifan mengunci pintu menggunakan aplikasi yang ada di hanphonenya agar Sela tidak bisa keluar dari apartemennya sebelum dia kembali


Ifan mengambil beberapa pasang baju dan memasukkannya ke dalam koper besarnya, dia berencana meninggalkan baju-baju itu di tempat kos Sela.


"Mengapa kamu membawa koper sebesar itu?" Sela kaget melihat Ifan yang menarik koper besar dari dalam kamar


"Koper fungsinya buat apa?" Ifan malah balik bertanya


"Ya, mana saya tahu, kalau aku koper untuk membawa baju, tapi aku tidak tahu fungsi koper buat kamu" Sela berbicara dengan enteng

__ADS_1


"Kamu tidak berniat untuk tinggal di kos aku kan....? Sela membelalakkan mata setelah sedikit mengetahui tujuan Ifan membawa koper besar


"Kalau kamu tidur di sana, pastinya aku ikut, karena tidak mungkin suami istri akan hidup terpisah" Ifan mulai membuka pintu dan menarik koper miliknya di sebelah tangan kanannya dan membawa tas milik Sela di tangan kirinya


Sela tidak menyangka dengan reaksi Ifan yang menurutnya sangat berlebihan, rencananya dia hanya ingin kembali ke kos untuk beberapa waktu saja, namun sepertinya akan bahagia jika bisa membuat Ifan menderita dengan tinggal di tempat kos yang kecil dan tanpa pendinging udara yang ada hanya kipas angin kecil di ruang tengah.


Sela masih setia mengekor di belakang Ifan yang sudh mendekati tempat mobilnya terparkir di basement, dan memasukkan koper dan tas ke dalam bagasi, kemudian membuka pintu untuk Sela dan terakhir dirinya duduk di belakang kemudi dan bersiap menginjak pedal gas setelah mengancingkan seat beltnya.


Selama perjalanan Sela hanya terdiam dan berbicara ketika ditanya oleh Ifan begitu seterusnya sampai di tempat kos milik Sela. Sela melenggang begitu saja meninggalkan Ifan yang masih sibuk mengeluarkan koper dan tas dari dalam bagasi dengan terburu-buru.


Ketika berjalan melewati lorong-lorong kamar kos, banyak yang memperhatikan Ifan bahkan ada yang dengan sengaja menggosip tentang keberadaan cowok tampan dan bermobil mewah tetapi mengajak pacarnya hidup di sebuah kos kecil nan murah. Ifan mendengar semuanya, namun pembicaraan mereka tidak dianggap, santai berjalan menyusuri dan melewati beberapa pintu untuk menuju pintu kamar kos Sela.


"Sayang, Mengapa kamu bisa tahan hidup di kos yang banyak penggosip?" tanya Ifan ketika sudah berhasil masuk ke dalam kamar Sela


"Kalau kami tidak mau mendengar gosipan mereka, lebih baik segera pergi dari sini" Jawab Sela santai


"Siapa bilang aku tidak mau mendengar? Kalau ada kami di sampingmu aku akan menerima semua gosip yang menimpaku"


"Tetapi aku punya syarat, asalkan kamu memanggilku MAS" Lanjut Ifan


"Tidak mau, lebih baik sekarang kamu pergi ke kantor, dari pada tetap di sini"


"Jadi, istriku mengusir, bahkan kita baru menikah... masa harus ke kantor, bukannya kita punya tugas penting?" Sela memcerna ucapan Ifan yang sedikit ngawur


"Tugas penting apa?"

__ADS_1


"Tugas penting..... membuat cucu untuk mama" Ifan seketika mendekap erat Sela dari belakang dan membisikkan kata-kata romantis di telinga Sela


__ADS_2