BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
41


__ADS_3

Broto ke perusahaan dengan perasaan cemas setelah mendengar laporan dari asistennya jika ada salah satu proyek yang dalam pengembangan mengalami kendala.


Semua karyawan ketakutan melihat raut muka Broto. Jalan yang tegas tanpa ada senyum sedikitpun. Dia berjalan menuju ke ruangannya diikuti beberapa ajudannya yang selalu siap siaga. Pintu terbuka lebar di dalam sana sudah ada beberapa orang terpilih untuk memantau jalannya perusahaan. Perusahaan tersebut adalah murni milik Broto, tidak ada pemegang saham karena berdirinya berasal dari usaha kecil.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi, tidak ada pemegang saham, mengapa masih ada yang bisa mensabitase proyek kita?" Broto geram dengan semua laporan yang dia terima


"Segera kirim tim untuk melakukan investigasi dan kumpulkan semua yang bertanggung jawab di lapangan" Perintah Broto tidak ada yang berani membantahnya selain Marcel


"Pa, bukannya proyek tersebut hanya proyek kecil? Bahkan masih banyak proyek-proyek kita yang lebih besar dan memberikan lebih besar keuntungan" Mendengar ucapan Marcel yang meremehkan pekerjaan kecil membuat Broto semakin merah padam


"Jangan melihat besar kecilnya sebuah proyek, sekecil apapun proyek itu selama di bawah kendali kita, maka harus selesai dengan baik untuk menjaring proyek yang lebih besar dikemudian hari"


"Kamu harus ikut turun ke lapangan untuk mengetahui cara kerja perusahaan kita" Perintah Broto untuk Marcel


Kini Marcel tidak berani berkomentar lagi setelah mendapatkan amarah dari papanya, karena di rumah dan di kantor Broto menjadi sosok yang berbeda seratus delapan puluh derajat, di rumah menjadi sosok ayah yang menyayangi keluarganya namun di kantor dia menjadi sosok yang sangat mengerikan bagi siapapun yang melihatnya saat terjadi sesuatu yang kurang baik di kantor.


Tim yang dibuat untuk melakukan investigasi ke titik proyek sudah mulai mempersiapkan diri untuk terjun langsung, menggali informasi mengenai kejanggalan yang terjadi di lapangan. Selama ini tidak ada yang berani berlaku curang jika bekerja sama dengan perusahaan milik Broto.


Semua tim bekerja keras untuk mendapatkan informasi secara detail. Setelah melakukan berbagai investigasi, sudah mendapatkan informasi yang terindikasi sebagai suplayer yang tidak termasuk dalam daftar penyedia bahan utama.


"Bagaimana hal semacam itu bisa terjadi, apa pekerjaan para mandor di sana?" Broto semakin marah setelah ditemukan permasalahan yang menjadi point utamanya

__ADS_1


"Semua sudah kami tindak lanjuti, suplayer yang bermasalah sudah kami panggil, namun mereka tidak mau berbicara"


"Lebih baik bawa saja ke pihak berwajib"


Akhirnya suplayer yang terindikasi menjadi suplayer bermasalah di panggil oleh pihak berwajib dan diinterogasi, karena kesalahan proyek tersebut menelan beberapa korban, meskipun hanya korban luka-luka ringan.


****


Di apartemen Sela membiasakan diri menjadi seorang istri dari seseorang yang memang selama ini diam-diam dia cintai. Menyiapkan bahan makanan dan berusaha memasaknya meskipun dengan keahlian memasak yang dibawah rata-rata.


"Apakah makanan untuk makan malam sudah siap S*yang?" Ifan yang tiba-tiba berada di pintu dapur menatap Sela yang sedang fov kus dengan panci yang berada di atas kompor berkomentar dan membuat Sela terkejut seketika dan tidak sengaja menyenggol panci yang berisi sayur panas dan hampir mengenai kakinya.


Ifan berlari menghampiri istrinya yang sedang shock di tempat, menariknya seketika menjauh dari genangan air yang tumpah, memeluknya dengan erat setelah mengetahui sang istri tidak mengalami sedikitpun luka.


Dipapahnya ke sofa yang sedikit jauh dari dapur, untuk menenangkan diri, Ifan segera memanggil Bu Marni untuk membersihkan genangan air yang tumpah. Masakan yang hampir selesai tumpah sia-sia, dan sudah tidak diselamatkan lagi.


"Ini bagaimana bisa terjadi seperti ini.....?" Bu Marni melihat keadaan dapur hanya bisa mengomel sesuka hatinya karena kebetulan Ifan dan Sela sudah masuk ke dalam kamar mereka


"Kalau tidak bisa memaksa, mengapa masih saja memaksakan diri"


"Bagaimana bisa, Mas Ifan sangan menyukai mbak Sela yang sangat ceroboh, bukannya masih banyak wanita yang lebih baik dari dirinya, anak manja seperti dia memang tidak bisa dihandalkan, bukannya dari awal mas Ifan juga sudah memperlihatkan sangat perhatian dengan Sita" Bu Marni kala itu sangat senang saat melihat kedekatan Ifan dan juga Sita anak perempuannya yang memiliki usia satu tahun di bawah Ifan bisa bermain dan dekat dengan Ifan, bahkan Ifan sangat menyayanginya dan memberikan perhatian yang banyak kepada Sita

__ADS_1


"Atau biar nanti aku bicara sama Mas Ifan agar Sita bekerja di perusahaannya dengan alasan membalas budi kepada mereka, agar mereka bisa dekat lagi dan menyingkirkan wanita si*lan itu" Bu Marni sebenarnya sudah sejak awal tidak menyukai Sela, namun karena tidak enak dengan keluarga Ifan maka terpaksa dia mengerjakan tugas yang diberikan oleh Ifan. Bahkan dia berencana untuk mendekatkan Sita dengan Ifan, namun sampai saat ini belum bisa terpenuhi.


"Kalau sudah selesai Bu Marni boleh Pulang"


"Baik Mas Ifan"


"Tapi Mas Ifan, sebelumnya boleh tidak saya mengajukan sebuah permintaan?" Sebenarnya Bu Marni ragu untuk mengajukan pertanyaan yang akan dia sampaikan


"Ada apa Bu?" Ifan terpaksa turun dan mendekat ke arah Bu Marni


Bu Marni nampak masih sedikit ragu saat Ifan memberikan waktu kepada beliau, namun demi obsesinya maka Bu Marni segera membuka mulutnya.


"Begini Mas, saat ini Sita sudah lulus kuliah dan menginginkan untuk bisa menghasilkan uang sendiri, karena dia merasa selama ini sudah merepotkan keluarga Mas Ifan, kalau bisa biarkan dia mengabdikan diri di perusahaan Mas Ifan jika membutuhkan tambahan pegawai"


"Bukannya saya tidak mau membantu Bu, tapi alangkah baiknya jika Sita biarkan dia mencari peluang di luar terlebih dahulu supaya dia bisa menghargai apapun yang dia dapatkan. Saya takut jika nanti Ifan bantu, dia akan seenaknya dan tidak menghargai kerja keras dan kemampuan yang dia miliki"Ifan tidak bermaksud untuk menolak memberikan bantuan kepada anak Bu Marni, tetapi dia berharap dia berusaha terlebih dahulu sebelum mendapatkan apa yang diinginkan, agar dia bisa merasakan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan


"Begitu ya Mas"


Bu Marni kecewa setelah mendengar jawaban Ifan, harapan untuk mendekatkan anaknya dengan Ifan saat ini pupus sudah.


Bu Marni bergegas meninggalkan apartemen Ifan dan pulang ke rumahnya, mengabarkan kepada Sita jika keinginannya untuk bekerja di perusahaan bergengsi tanpa harus mencari peluang sudah tidak ada peluang lagi.

__ADS_1


"Sita, harusnya kamu berusaha terlebih dahulu untuk mendatangi perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga" Bu Marni berbicara dengan lembut kepada Sita


"Bu, harusnya kita bisa memanfaatkan kebaikan dari keluarga itu, apa gunanya menjadi pembantunya setiap saat kalau mereka tidak bisa menolong sekali lagi" Sita yang memiliki temperamen yang kurang baik marah mendengar perkataan ibunya


__ADS_2