BENIH TANPA CINTA

BENIH TANPA CINTA
13


__ADS_3

"Say*ng.... say*ng...." Berulang kali Ifan berusaha membangunkan Sela


"Hmmm.... " Sela hanya menggeliatkan badannya ketika seseorang menepuk bahunya lembut


"Bangun, sudah siang.... Setelah itu kita makan bersama" Ifan masih dengan sabar mencoba membangunkan Sela


"Siapa sih... mengganggu tidur orang saja.... Bisa diam tidak.... Aku masih mengantuk, lelah dan juga sakit di.... " Sela terperanjat dan membuka matanya lebar ketika dia sadar bagian terpenting dari tubuhnya terasa sangat perih dan sakit


"Mandi sana, kalau masih sakit biar aku angkat saja" Ifan sudah menunduk hendak mengangkat tubuh Sela yang tertutup selimut rapat


"Jangan! Aku bisa sendiri, tidak perlu kamu angkat" Sela malu mengingat dirinya yang tadi pagi ikut menggila bersama Ifan


"Tidak ada yang direpotlan, bahkan aku suka jika bisa mengangkatmu"


Namun, Ifan mengurungkan niatnya untuk membantu Sela, karena Sela bersikukuh hendak berjalan sendiri. Langkahnya tertatih sambil sesekali merintih merasakan sakit yang luar biasa. Ifan ikut ngilu melihat wajah Sela yang kesakitan. Dan akhirnya dia berinisiatif menggendong Sela sampai di kamar mandi.


"Maaf, telah membuatmu seperti ini" Ifan meminta maaf lagi, karena perbuatannya orang yang dia cintai mengalami rasa sakit


"Bukan salahmu, bahkan aku juga ikut andil dari rasa sakit ini"


"Berendamlah, agar bisa mengurangi rasa nyeri" Ifan meninggalkan Sela di kamar mandi yang sebelumnya dia mengecup singkat puncak kepala Sela


Sela yang sendirian di kamar mandi mulai termenung, mengingat kembali peristiwa yang terjadi padanya pagi ini, dia tidak habis pikir mengapa dia hanya diam diperlakukan Ifan seperti itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur apapun yang sudah terjadi menyesal pun tiada gunanya. Kalau nantinya sungguh ada yang berkembang di dalam tubuhnya dan Ifan meninggalkannya, maka semua akan dia terima.


*****


Suara bel berbunyi nyaring, Ifan membuka pintu dan didapati seorang laki-laki yang menjadi tangan kanannya sekaligus sepupunya. Mereka sudah bersama sejak masih di bangku sekolah dasar. Dia adalah Fandi, seorang pemuda yang tidak kalah tampan dan juga cerdas.


"Tumben, sudah siang tidak keluar apartemen, Kamu sakit?" Fandi meletakkan telapak tangannya di dahi Ifan, namun segera ditampik oleh Ifan dengan kasar


"Jangan asal pegang..... aku sehat bahkan lebih sehat dari dirimu" Ifan menjawab dengan ketus

__ADS_1


"Galak banget, kesambet apa sih. Belum juga seminggu tidak bertemu sudah seperti singa kelaparan"Fandi terus saja menggoda Ifan


"Begini, perusahaan saat ini membutuhkan tanda tanganmu untuk kerja sama dengan perusahaan tekstil, hari ini juga mereka minta berkas kerja sama ini sampai di tangan mereka" Lanjutnya


"Sebelum kamu tanda tangan lebih baik kamu baca sekali lagi keuntungan yang akan kita dapatkan dari perusahaan itu, selama kamu menilai kontrak kerja sama, aku akan istirahat dahulu di kamarmu" Fandi sudah melangkahkan kakinya menuju kamar satu-satunya di apartemen milik Ifan


Ifan berlari mengejar sepupunya sebelum Fandi berhasil membuka pintu kamar.


"Berhenti, tidak ada yang boleh seenaknya masuk ke kamarku lagi" Sergah Ifan menghadang sepupunya agar tidak bisa menuju ke kamarnya


"Tumben tidak boleh masuk, biasanya juga tidak ada larangan masuk ke sana. Jangankan cuma masuk ke kamar, lemarimu saja sering aku acak-acak" Dengus Fandi yang sebenarnya sudah sangat lelahlelah dan matanya juga mengantuk


"Yang pasti mulai detik ini tidak ada yang boleh seenaknya masuk ke kamarku lagi, tanpa terkecuali" Namun Ifan sedikit lengah hingga Fandi sudah berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Ifan


"Aaaaaaa..... kamu siapa?" Sela berteriak dengan kencang ketika melihat ada lelaki yang bukan suaminya masuk ke dalam kamar, untungnya Sela sudah memakai baju hingga dia tidak harus berlari untuk menghindarinya


Fandi berdiri mematung melihat pemandangan di depannya, karena setahu dia Ifan tidak pernah membawa wanita ke dalam ke dalam apartemennya, namun apa yang dilihat Fandi saat ini membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.


"Hei... kedip... sekarang kamu sudah melihatnya.... lebih baik kita keluar dan bicara di sana" Ifan menepuk pendak Fandi dan mengajaknya ke ruang tamu agar Sela tidak canggung lagi


"Sebentar.... dia...."


"Lebih baik kita keluar sekarang... cepat.... " Kali ini Ifan menarik tangan sepupunya karena dia tidak segera beranjak dari kamarnya


Fandi pasrah tangannya ditarik oleh Ifan dengan kasar, namun dia mengikutinya.


Sesampainya di ruang tamu antara Fandi dan Ifan tidak ada yang bicara lagi, mereka berada dalam alamnya masing-masing, Fandi berfikir jika sepupunya sudah sangat berubah dan berani membawa pulang wanita mur*h*n. Sedangkan Ifan berfikir bagaimana dia akan menceritakan perihal Sela yang kini berada di kamarnya, dia juga tidak ingin sepupunya salah paham mengenai hal itu.


"Hmmm.... Apakah kamu bisa bercerita apa yang terjadi di kamarmu" Fandi canggung ketika bertanya masalah pribadi Ifan, sebenarnya juga bukan hak dia untuk ikut campur urusan sepupunya


"Jangan salah paham dahulu..."

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak salah paham..... ada seorang cewek berada di kamarmu dalam posisi dia baru selesai mandi dan keram*s pula" Fandi mengutarakan apa yang ada dalam gilirannya


"Kamu tidak sedang mengencani wanita p*nggil*nkan..." Lanjut Fandi lagi


"Memangnya kamu pernah lihat aku memakai seperti itu selama kamu mengenalku?" Ifan tidak terima sepupunya merendahkannya


"Lalu siapa dia?"


"Istriku"


"Apa kamu bilang?"


"Dia, wanita yang berada di dalam kamarku adalah istriku"


"Ha.... ha... ha... Sejak kapan kamu pandai mengarang dan mulai berbohong" Fandi malah tertawa keras mendengar pengakuan Ifan yang dianggapnya sedang mengelabuhi dirinya


"Yang terpenting aku sudah berbicara dengan jujur kepadamu, kalau kami tidak percaya itu adalah urusanmu, Sekarang kamu bisa keluar dari apartemenku dan segera melapor hasil kontrak kerja sama ini" Ifan sudah mempelajari kontrak kerja dan dalam pandangannya tidak ada yang merugikan untuk perusahaannya bahkan akan memberikan keuntungan yang cukup lumayan


Fandi masih tidak percaya dengan perkataan Ifan, sebenarnya dia masih enggan untuk keluar dari unit Ifan dan ingin mendengar lebih banyak mengenai wanita cantik di dalam kamar milik Ifan, namun Ifan melarangnya dan meminta segera menyelesaikan pekerjaannya


"Kami masih hutang penjelasan mengenai siapa yang ada di kamarmu" Fandi mengancam sebelum keluar dari unit Ifan


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, kamu sudah melihatnya, kalau kamu cerdas pasti sudah bisa mengartikan tanpa harus meminta penjelasan"


"Pokoknya malam ini kita harus bicara"


"Mengapa harus bicara? Memangnya kita ada hubungan apa?"


"Tunggu aku menyelesaikan pekerjaan ini dan aku akan kembali ke sini"


"Tidak perlu ke sini, cukup melalui telepon jika melaporkan pekerjaan, untuk yang lain tidak ada yang perlu dijelaskan"

__ADS_1


"Memangnya kamu mau menjelaskan apa kepada dia? Kalian bukan pasangankan.... " Sela yang mendengar perdebatan dari kamar mencoba keluar dan bertanya...


__ADS_2