
Ifan dan Sela baru terbangun sekitar jam sembilan malam, meraka segera membersihkan diri dan hendak makan malam.
"Kita makan dulu ya" Ajak Ifan setelah selesai membersihkan diri
Sela hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum malu, mengingat kejadian yang baru mereka alami. Rasa sayang itu kini semakin subur diantara keduanya.
"Apakah Bu Marni sudah pulang?" Sela menanyakan keberadaan orang yang selalu menjaganya
"Waktu aku masuk ke rumah ini belum pulang, entah kalau sekarang"
"Jadi, Bu Marni tahu kita sejak tadi tidak keluar kamar?" Sela malu jika kelakuan mereka diketahui oleh Bu Marni sedangkan Sela baru saja keluar dari rumah sakit
"Tenang sayang, tidak akan ada yang tahu"
"Coba lihat dahulu, apakah Bu Marni sudah pulang" Sela tidak ingin bertemu Bu Marni setelah mereka melakukan hal itu, dia sangat malu kali ini
Akhirnya Ifan turun terlebih dahulu untuk memeriksa keberadaan Bu Marni. Setelah memastikan jika apartemen ini tinggal mereka berdua, Ifan kembali naik dan memanggik Sela untuk makan. Meskipun makanan yang dibuat oleh Bu Marni sudah mulai dingin, namun mereka sangat menikmati momen kebersamaan yang sudah beberapa hari tidak mereka lakukan.
****
Sarah sangat marah mendengar anaknya kini dekat dengan seorang pengusaha terkemuka di kota ini, yang dia tahu Sela mau menjadi seorang pembantu hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di luar sana. Menurutnya jika bisa bersama dengan Marcel makan Sela tidak akan bekerja terlalu berat, tinggal duduk di rumah menikmati hidup.
"Sudah enak dapat lelaki yang sangat pengertian, tetapi masih juga pergi" Omel Sarah ketika mendapati Prabu sedang duduk santai menikmati secangkir kopi
"Apalagi ini, mengapa masih saja mengomel"
"Memangnya berapa pendapatan yang dia peroleh dari laki-laki itu, hingga Sela memilih untuk menjadi pembantunya? Atau jangan-jangan... "
__ADS_1
"Ma, jangan-jangan apa? Tidak mungkin Sela berbuat yang tidak senonoh, Saya yakin jika dia bisa menjaga diri dengan baik" Prabu tidak terima saat Sarah berfikir negatif terhadap putri semata wayang mereka
"Mana ada orang yang bekerja langsung dapat penghasilan banyak jika tidak melakukan pekerjaan kotor" Sarah semakin keras berbicara
Sarah dan Prabu berselisih hingga membuat mereka bertengkar hebat, meskipun begitu mereka masih tidur di tempat yang sama.
****
Seperti anak muda lainnya Tania menghabiskan malam dengan makan di luar bersama sahabat-sahabatnya. Makan dan berkaraoke yang dipilih Tania malam ini. Kebetulan Marcel yang sedang bertengkar dengan Papanya memilih untuk pergi ke kafe di mana Tania berada.
"Tania" Marcel memanggil Tania ketika dia menyadari ada Tania berada di tempat yang sama dengannya
Tania mendekat ke meja Marcel yang memang masih kosong. Tidak lupa minuman yang dia pesan berada di tangan kanannya
"Ada apa?" Tanpa basa-basi Tania bertanya kepada Marcel
"Iya"
Marcel meminta Tania untuk mendekati Ifan agar dia bisa mencari informasi mengenai hubungan Sela dan Ifan. Namun karena sikap Ifan yang mudah berubah, Kadang-kadang menjadi sosok yang ramah namun dalam sekejap bisa berubah menjadi sosok yang menakutkan membuat Tania menolaknya.
"Bukannya kamu menyukai bos kamu? Kalau kamu bisa mendekatinya bukannya kamu mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan hatinya?"
"Tenang saja, aku pasti akan membantumu, jika suatu saat kamu dipecat dari perusahaan itu, maka kamu akan bekerja di tempatku"
Mendengar janji manis Marcel, Tania akhirnya menyetujui usulan Marcel.
"Baiklah, tetapi kamu harus menepati janjimu, karena aku sudah susah payah mendapatkan pekerjaan yang sangat diinginkan banyak orang di luar sana"
__ADS_1
Keduanya bersalamam sebagai perjanjian di antara keduanya. Hampir tengah malam mereka baru meninggalkan kafe setelah semua rencana sudah matang. Tidak hanya menyiapkan beberapa trik untuk mendapatkan informasi mengenai hubungan Sela dan Ifan, tetapi juga bagaimana caranya mendapatkan hati Ifan.
****
Untuk menghilangkan rasa penat Sela yang sudah beberapa minggu tidak keluar kamar kos, Ifan mengajaknya untuk makan di luar setelah aktifitas malam mereka. Mencari udara segar untuk untuk mengurangi stress yang rentan terjadi pada ibu hamil.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu?" Ifan bertanya kepada Sela yang sejak tadi hanya melihat pemandangan sepanjang jalan yang mereka lewati, menghirup udara di alam bebas
Sela menggelengkan kepalanya, karena malam ini dia tidak ada keinginan untuk makan apapun. Namun, karena sejak sore Sela belum makan, maka Ifan memilih salah satu restoran yang menyediakan berbagai macam makanan tradisional Indonesia dan terbuat dari bahan-bahan yang sudah dijamin kualitasnya.
"Kok kita ke sini?" Sela yang baru menyadari jika saat ini mereka berada di sebuah restoran dan membuat nafsu makan Sela memuncak ketika menghirup aroma masakan yang sangat khas
Sela bergegas keluar dari mobil dan memasuki restoran tanpa menunggu Ifan yang masih memarkirkan mobilnya. Seperti anak kecil yang sedang melihat makanan yang sangat di sukai, begitulah gambaran Sela saat ini. Mengambil beberapa makanan yang sangat menarik perhatiannya, meskipun ada beberapa jenis makanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Melihat dua buah piring yang sudah penuh teriak berbagai macam makanan tradisional di kedua tangan Sela, membuat Ifan tersenyum melihat tingkah Sela yang tanpa ada rasa malu sedikitpun, bahkan kini di mulutnya juga sudah penuh terisi dengan makanan ketika mencari berjalan mencari tempat duduk.
"Say*ng, duduk sini" Melihat Sela mencari tempat duduk, Ifan segera memanggilnya karena sebelumnya Ifan sudah memesan tempat yang nyaman untuk mereka berdua. kebetulan restoran ini selalu penuh dengan pengunjung setiap harinya, maka untuk menghindari tidak mendapatkan kursi, maka Ifan sebelum berangkat sudah menelphone restoran.
"Beruntung sekali bisa dapat tempat duduk di sini, padahal pengunjung sangat banyak. Bahkan banyak yang datang terlebih dahulu namun tidak mendapatkan tempat duduk" Sela yang tidak tahu jika sebelumnya Ifan memesannya terlebih dahulu merasa sangat beruntung
Sela sudah memindahkan makanan yang dia ambil ke dalam perutnya, agar tenaganya semakin cepat pulih dan bisa beraktifitas lagi seperti semula. Namun, meskipun Sela sudah kembali Sela, Ifan tidak akan mengijinkannya untuk bekerja di luar lagi. pastinya dia tidak akan pernah memberi ijin untuk keluar rumah selain bersamanya.
Ifan ikut menikmati makanan yang sudah diambil Sela, karena perut Sela sudah tidak bisa diisi lagi. Selain sudah kenyang, dia juga menjaga agar tidak berlebihan kalori yang masuk ke dalam tubuhnya.
Mereka kembali setelah membayar dan memesan beberapa kue tradisional yang baru keluar dari dapur, untuk mereka makan ketika setelah sampai di rumah mereka lapar lagi. Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan bagi mereka berdua, hubungan mereka sudah semakin dekat dan juga ada rasa saling memiliki diantara keduanya.
"Sela.... " Seseorang memanggil Sela sebelum dia masuk ke dalam mobil Ifan dengan membawa sebuah tas kertas di tangannya yang berisi makanan
__ADS_1