
Ifan sudah tidak bisa menunggu waktu hingga sore hari, meskipun sendiri pemilik perusahaan namun bukan berarti dia bisa seenaknya sendiri pulang sebelum waktu yang sudah ditetapkan perusahaan, dia sadar harus memberikan contoh untuk para pekerjanya.
"Mengapa hari ini waktu terasa lama banget?" Gerutunya berulang kali sembari mondar-mandir di dalam ruangannya
Fandi yang baru masuk hanya bisa tersenyum mengejek melihat Ifan seperti anak kecil yang akan diajak orang tuanya berlibur namun tidak kunjung berangkat.
"Selesaikan dulu pekerjaan sebelum pulang" Fandi menyerahkan sebuah berkas yang memerlukan tanda tangan Ifan karena harus dikirim hari ini juga
Dengan malas Ifan kembali ke kursinya, membuka dan membaca berkas yang diberikan Fandi, setelah memastikan tidak ada kekeliruan dia segera mencari bolpoinnya dan menyelesaikan kewajibannya.
"Ifan, tadi siang ada seorang pebisnis muda yang ingin bertemu denganmu, menurut resepsionis dia baru sekali berkunjung ke sini, bahkan dia juga baru memulai usahanya dan belum memiliki nama di kota ini" Fandi menyampaikan laporan dari resepsionis yang mengatakan ada seorang lelaki muda yang mencarinya
"Bisnis belum juga punya nama, tetapi mau bekerja sama dengan kita, memangnya apa kekuatannya?" Ifan sedikit curiga dengan kedatangan seorang pebisnis baru yang belum ada rekan kerja tetapi sudah berani datang ke perusahaannya
"Mungkin ada orang kuat dibaliknya" Fandi hanya berkomentar singkat dengan kecurigaan Ifan
"Kita harus mencari informasi mengenai perushaan tersebut sebelum kita menjadwalkan untuk bertemu dengannya" Ifan berbicara dengan membersihkan mejanya dan bersialmeninggalkap untuk pulang, karena semua pegawainya baru saja meninggalkan kantor mereka
Setengah berlari Ifan meninggalkan ruangannya dan tidak mempedulikan Fandi yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan yang dia tinggalkan.
"Hati-hati, ada Sela yang menunggu di rumah" Entah masih di dengar oleh Ifan atau tidak
****
__ADS_1
Ifan memasuki apartemennya dengan wajah sumringah, menuju kamar pribadinya yang pastinya saat ini Sela juga berada di sana karena dia tidak menemukan istrinya itu di lantai bawah. Hanya ada Bu Marni yang sedang sibuk beres-beres. Bu Marni ditugaskan oleh Ifan untuk menemani Sela selama dia tidak bisa berada di samping Sela, membantu semua kebutuhan Sela utamanya menjaga Sela dari hal-hal yang membahayakan.
"Malam Bu Marni" Ifan menyapa Bu Marni, membuat beliau terlonjak mendengar sapaan Ifan yang tidak seperti biasanya yang dingin
"Malam Pak Ifan"
Ifan berhenti mendengar sebutan yang disematkan Bu Marni untuknya.
"Ada apa Pak?" Bu Marni bergetar takut melihat Ifan yang berhenti seketika, dalam benaknya dia takut jika sudah membuat kesalahan
"Kok Pak.... Bisakan Bu Marni manggilnya Mas saja. Memangnya wajah saya sudah tua banget apa. pada hal anak juga masih ada di perut" Ifan bersungut seperti anak kecil yang tidak terima diolok-olok temannya
"Oh iya, Bu Marni setelah selesai beberes *** h kembali, tetapi besok pagi harus sampai di sini sebelum saya berangkat ke kantor" Ifan berpesan sebelum naik ke lantai dua menuju kamarnya
Ifan membuka pintu kamar dengan hati-hati, takut membuat Sela terkejut dengan kedatangannya yang lebih cepat dari biasanya. Terlihat Sela berbaring di atas kasur tertutup selimut hingga bagian dadanya. Ifan menghampirinya sejenak mengec*p keningnya sejenak dan memandangi wajah Sela yang teduh melepas rindu yang sudh tidak bisa ditahan lagi.
Ifan memilih untuk membersihkan diri sebelum mengajak Sela untuk makan. Waktu mandi dipercepat dan segera keluar dengan melilitkan handuknya meninggalkan kamar mandi. Sampai di depan pintu toilet, pandangan Ifan dibuat tidak berkedip melihat seseorang di atas kasur dengan selimut yang entah sudah kemana perginya, tersisa Sela yang mengenakan baju tidur warna putih yang tidak terlalu tebal tanpa menggunakan pakaian d*lam yang hanya sebatas p*ha.
Ifan masih terdiam tidak bergerak hingga dia disadarkan oleh juniornya mulai bergerak tidak terkontrol, apalagi saat ini Sela menggeliatkan bad*nnya yang menambah indahnya pemandangan dan membuat Ifan sudah tidak terkendali. Ifan menghampiri Sela yang masih menutup mata, dengan jakunnya yang sudah naik turun dia berusaha mengambil selimut untuk menutupi t*buh Sela.
Baru juga mau menutupnya, Sela sudah mengerjapkan matanya melihat posisi Ifan berjongkok di sampingnya masih menggunakan handuk membuat Sela terbangun dengan seketika. Karena terlalu cepat gerakannya gaun bagian bawahnya yang tertekan oleh lutut Ifan tidak tertarik mengikuti gerakannya, malah membuat bagian atasnya yang berpotongan rendah semakin tertarik ke bawah dan memperlihatkan kedua gundukan milik Sela terlihat hingga sedikit alveolinya tempat jelas.
Dengan cekatan Sela menutup dengan selimut yang dipegang oleh Ifan. Dan membuat keduanya dalam posisi canggung dan malu. Apalagi Ifan kini adiknya yang berada di bawah sana berdiri tegak dan terlihat jelas oleh Sela karena Ifan hanya memakai handuk saja.
__ADS_1
"Maaf, tidak sengaja" Ifan memalingkan wajahnya dan berusaha menjauhi Sela
Namun, Sela segera menarik jemari Ifan dan membuat pandangan keduanya bertemu lagi.
"Hm" Sela berusaha memenetralkan kecanggungannya
Ifan mendekatinya dan menyurai rambut Sela yang berantakan khas orang bangun tidur.
Saat ini Ifan sudah tidak bisa menahannya lagi, mendekatkan wajahnya ke telinga Sela dan berkata
"Say*ng, sudah tidak bisa dikontrol lagi, apakah boleh?" Ifan tidak ingin memaksakan kehendaknya kali ini
Bukannya Sela tidak menginginkannya, apalagi dengan jelas dia melihat senjata itu siap bertempur, pasti membuat Ifan sangat tidak nyaman. Sela masih terlihat malu untuk memberikan jawaban dan memilih untuk diam.
"Diam berarti kamu memberi izin" Ifan segera melakukan penyerangan dengan lembut, mendapat balasan dan tidak ada penolakan dari Sela membuat Ifan semakin bersemangat untuk memberikan yang lebih.
Keduanya terlarut dalam kesenangan yang mereka nikmati kali ini, tidak ada penolakan satu sama lain, yang ada saling memberi dan men*kmati. Hingga keduanya mendapatkan puncaknya masing-masing. Rasa rindu yang sudah tertanam dihati keduanya kini sudah terbayar.
"Maaf ya" Ifan meng*lus perut Sela yang masih terlihat rata sambil meng*cup beberapa pundak Sela yang masih terbuka
Sela sudah tidak bisa menjawabnya karena kelelahan, dan hanya memberikan anggukan saja. Rasa lelah membuat keduanya masih berada di bawah selimut yang sama dan belum tertutup apapun selain yang menutupi t*buh mereka. Dengan posisi tangan Ifan yang masih setia melingkar di p*nggang ramping milik Sela.
Bu Marni yang hendak berpamitan mengurungkan niatnya setelah mendengar beberapa kali suara yang tidak layak untuk di dengarnya, dan memilih untuk pergi tanpa berpamitan.
__ADS_1
"Dasar anak muda, baru juga dibilangin sudah main terkam saja"